Tentang Menginginkan Sesuatu

Akhir-akhir ini ada sebuah hal yang mengganggu saya.

Itu lho, quotes-quotes yang beredar di Path dan social media lainnya… tentang hidup tanpa menginginkan hal-hal yang bersifat keduniawian.  Hidup basic-lah intinya, nggak usah ngarep yang mewah-mewah.  Melepaskan diri dari keinginan-keinginan bersifat materi.

Sungguh dalam hati ingiiin sekali bereaksi seperti ini…

Tapi ndilalah kok ya selalu begini…

Pengen banget loh punya kehidupan yang udahlah nggak usah mikirin apa-apa lagi, nggak pengen apa-apa lagi dan nggak butuh apa-apa lagi. Yang kalo bangun tidur itu bawaannya pengen nyumbang terus ke mana-mana, karena uang berlimpah. Seratus persen sosial, nggak perlu mikir ‘oh bulan depan mesti budgetin ini itu karena ada keperluan ini itu, eh tapi cukup nggak ya, soalnya kan cicilan ini itu belum kebayar. Hmm… mesti bener nih ngitungnya…’. Pengeeen sekali.

Lhooo, katanya ngomongin kehidupan yang udah nggak perlu pengen ini itu kok pengen kehidupan kayak gitu? Intinya masih pengen dong? NAH KAN RIBET? HAHAHAHA!

Jadi, saya ini sejatinya manusia yang masih punya banyaaaak sekali keinginan. Ingin anak sekolah dengan baik, setinggi-tingginya, dan punya dana yang cukup untuk itu. Ingin jadi istri yang baik (ejiye), ingin punya investasi yang menguntungkan, ingin punya sneaker baru setiap bulan, ingin liburan dua kali setahun minimal, ingin renovasi rumah, ingin sukses di karir, ingin punya dana yang nggak habis-habis, kalo perlu bentuknya koin dan bisa dibuat nyelem kaya Paman Gober.

Wajar kan ya, punya keinginan?  Ya wajar, dong.

Lalu, haruskah saya malu dengan semua quotes-quotes anti kemapanan yang kurang chillax ini?  Ya enggak.

Melalui posting ini, saya cuma pengen bilang gini: there’s nothing wrong with WANTING something, and going after it.  Selama caranya halal dan nggak melanggar hukum, saya yakin mengejar keinginan dan cita-cita itu ya memang fitrahnya manusia.  Hakekat kita hidup.  Apa lagi?

Terus, seberapa banyak kita pantas menginginkan sesuatu?

Ya terserah.  Sebanyak-banyaknya juga boleh loh, menurut saya.  Namanya juga ingin kan belum kejadian.  Saat udah tercapai ternyata nggak sebanyak yang diinginkan, ya nggak apa-apa.  Apa sih salahnya dengan ‘dream big’?  Mimpi-mimpi kita, kok.  Kejadiannya juga pas tidur malem di benak kita, bukan di benak orang lain.  Lhawong yang tidur di sebelah kita aja nggak tahu kita mimpi apa kecuali kita ceritain, kan?

Jujur saya paling nggak bisa banget deh diginiin:

“Udahlah jangan ngayal mulu, nggak bakal juga lo bisa beli pulau.”

Siiis… kalo ngayal aja udah nggak boleh, sungguh prihatin saya sama umat manusia, karena kebebasannya sudah terenggut tanpa perlu dipenjara atau diborgol.

Pengen kaya gini ga sih naek helikopter ke mana-mana :))))

Menentukan batasan biar khayalan nggak kebablasan itu penting, tapi kalau lagi nggak pengen terbatasi, ya NGAYAL AJA!  Who died and made other people Kings and Queens of the world that they won’t let you even imagine and daydream?

Terus apakah menginginkan hal-hal materi membuat kita… ehm, “materialistis?”

Errrr… kalo kita jadi morotin orang gara-gara keinginan kita sih ya iya.  Tapi kalo kita jadi kerja yang bener dan nggak ngerepotin orang lain dengan keinginan-keinginan material kita itu, ya enggak sih menurut saya.  Tapi terserah… again, nobody made me queen of the world and lets me tell you what to think (although I would LOVE that position if available).  Jadi seraaaahhh mau pada mikir gimana.

All I know and understand is, you never really live if you never really want.

Tentang Chart Musik 90an

Ini gara-gara sesiangan sakit kepala karena cuaca panas setengah ampun, dan baru sembuh kemudian gak bisa tidur karena seger tengah malem begini, jadilah mainan Apple Music.  Terus saya baru sadar deh, ternyata selama ini gak pernah bener-bener ngomongin musik kecuali ngerekomendasiin lagu-lagu yah?  Okedeh kali ini ngomongin chart musik aja yuuuk!

Selama 5 tahun kurang sebulan siaran radio kemaren itu, tentunya banyak yang mengira saya ngerti banget musik masa kini. Jawabannya TENTU TIDAK! Kenapa? Trick of the trade aja: saya itu kalo siaran ngomong bla bla bla, saat slide lagu naik dan slide mic turun, langsung asik dengerin musik sendiri.  Bisik-bisik tetangga mengatakan ternyata nggak cuma saya, penyiar radio lain pun kayak gitu.

Apa sih sebabnya? Dunno, man, maybe because some of us are old and we don’t really give a shit about new music.  Pardon my language, but it’s kinda true, musik baru tuh yang nyangkut cuma yang bener-bener hits.  Taylor Swift, misalnya, gimana gak nyangkut kalo hampir semua lagu dari album 1989-nya itu ampir tiap jam ada yang diputer.  Lalu kenapa jadi ndak mau dengerin? Karena yang buat pendengar mungkin ditunggu-tunggu, buat saya jadinya overplayed dan… errr… mending dengerin yang lain (baca: pilihan diri sendiri di iPod).  Tapi nggak berlaku buat semua lagu juga, karena beberapa lagu yang potensi earworm-nya besar seperti lagunya Selena Gomez: “I Love You Like a Love Song” atau Carly Rae Jepsen “Call Me Maybe” sih sesering-seringnya diputer tetep aja joget kalo denger.  Lagu-lagunya Taylor Swift pun sekarang setelah berenti siaran rasanya jauh lebih enak di kuping.

Saya memang egois dalam selera musik.  Nggak apa-apa nggak ikut selera massa, yang penting kuping hepi, hati damai dan bisa sing-along atau jogedan denger lagu yang saya suka.  Nggak takut kok dibilang selera opa-opa kalo lagi ngedengerin Nat King Cole, Ella Fitzgerald, Chet Baker dan sebagainya.  Nggak tengsin juga dibilang angkatan tua kalo ketangkep nyanyi lagu-lagu Bobby Caldwell, Anita Baker atau Astrud Gilberto. Siapa ngana atur-atur selera musik akik? Hahaha!

Dari sederetan genre musik tertentu yang saya sukai, yang membuat saya takjub adalah pembagian musik secara era, dimana saya merasa era 90an itu selera musik saya sungguh diverse.  Dibilang suka hip hop, banget… dibilang suka jazz, tentu saja… dibilang suka pop, ya kan demi pergaulan… dibilang suka alternative dan grunge, lho, Nirvana, RHCP dan Weezer kan emang keren!  JADI SUKANYA APA?  Di era 1990 – 1999, saya bisa dengan bangga berkata: “Wah, selera musik saya tuh nggak terbatas genre sih, apa aja suka.”  Jangan coba-coba tanya sekarang, jawabannya akan jelas membosankan: R&B dan jazz. That’s it. Well, maybe some deep house when I need to relax. Or Tom Misch. Yang gitu-gitu doang.

Balik ke tahun 90an… ya emang masih remaja sih itungannya saat itu.  Masih banyak waktu banget dengerin lagu ini, lagu itu, rikwes ini itu di radio sama penyiar favorit (halo kak Becky dan kak Ary!).  Pulang sekolah aja punya ritual: main ke Aquarius Mahakam yang jaraknya cuma selemparan kolor dari sekolah. Sebagian besar sebabnya adalah karena pengen kerja di situ kaya Liv Tyler jadi pegawai music store di film Empire Records, tapi karena gak mungkin (bertampang kaya Liv Tyler), akhirnya mampir hanya untuk ngecek music chart atau tangga lagu. Buat apa sih ngecek tangga lagu segala? Pasti para millenials nanya gitu, kan? Berikut fungsinya:

1.  Biar tau kapan album atau single dirilis
Cin, ini penting banget demi kemaslahatan rak CD atau kaset di rumah. Unlike now, then we don’t have iTunes… and then, musicians don’t suddenly release a surprise track just whenever they want.  Mereka membuat fansnya menunggu.  Biasanya, dalam list top 40, kalo ada artist baru pasti nongolnya ya di nomor 40. That’s what I love about the nineties decade.  Lagu itu ‘umur tayangnya’ di radio lumayan lama.  Dari nomer 40 ke nomer 1 kalo lagunya bener-bener fenomenal, biasanya mah paling 2 minggu.  Selama 2 minggu itu, kita akan seriiing sekali merikwes lagu ini sampe (udah pasti) penyiarnya juga bosen. Naah, seringnya lagu ini dirikwes biasanya ngaruh banget akan popularitasnya sehingga naik ke nomor 1 dengan segera (or they made us THINK we’re the ones pushing the song to the top of the chart. nevertheless, still a cool and patient way to introduce a new song).  Coba bedakan dengan sekarang: artist woro-woro “Heey, aku punya album baru nih, get it on iTunes, ya!” iya sih masih dirikwes di radio… but do people still wait for radio charts in record stores to find out when the release date is? Boro-boro, tokonya aja udah tutup. Terus baru denger lagu ini sekali dua kali tau-tau ada lagu baru lagi. Inaaangg… pusing amat sih, jadi susah kan nyari lagu yang sungguh melekat di hati… liriknya aja apalnya lama *sedih*.

2.  Memperluas wawasan musik
Buat orang-orang egois selera seperti saya, biasanya kalo yang dituju gak ada, ya udah pulang aja. Sekarang sih gitu, ya.  Tapi dulu mah enggak.  Karena record store itu adalah salah satu tempat ‘to see and be seen’, mana mau pulang cepet-cepet?  Ngeceng itu perlu, Jendral, apalagi kalo ada anak sekolah lain yang lagi pada ‘liat-liat kaset’ juga.  Trus awkward gak sih kalo sendirian? Enggak lah, soalnya kan bisa sok-sokan lagi baca chart.  Nah disinilah biasanya jadi penasaran sama musik-musik lain, seperti “Hmmm… Ini Mitch Malloy siapa sih? Kok namanya gak ngetop ya? Ada gak sih di listening station? Dengerin dulu ah.” OMG LISTENING STATION. Kids, in my days, ada yang namanya listening station yaitu tempat buat nyoba-nyoba CD yang udah disediain sama tokonya.  Kalo mau dengerin lagu-lagu dari penyanyi tertentu, bisa dengerin satu album penuh atau cuma satu lagu yang pengen kita tau aja. Remember, this was an era before Google, and if we want to know who that musician/singer is, we have to get properly introduced by at least knowing how the real CD cover look like.  Karena beli lagu jaman itu nggak bisa ketengan kaya sekarang, ya mau nggak mau mesti beli sealbum karena kalo beli single-nya aja rugi bandar soalnya harga CDnya ga beda jauh sama CD full album.  Bisa aja sih nunggu kompilasi macem NOW compilation muncul, tapi buat beberapa orang (namely yours truly), rasanya lebih cakep ngeliat rak CD penuh dengan album original dibanding kompilasi (walau yang didengerin cuma 1 track sampe CD beset *NGAKAK*. Bajakan? Apa? Oh… you mean those low-quality CDs with limp covers? Naah… not my thing. I like solid covers that fit nicely in my CD rack and a true blare in my stereo. 😉

3. Mengisi obrolan dengan teman-teman
Saya jujur gak ngerti sih apa yang diomongin millenials soal musik saat ini. Mungkin jauh lebih banyak, ya, mengingat akses berita ke para musisi dan penyanyi itu jauuuh lebih banyak saat ini (hello Buzzfeed), dibanding jaman saya dulu (hello toko buku Rubino yang jual majalah BOP dan TeenBeat).  Tapi, percaya atau enggak, there was a time when I used to argue with my friends about who sat at number what that week on the music chart.  Who’s better than what and who should surpass who, and also who should’ve been kicked out because s/he was getting boring.  We even make BETS on it.  I know I know, sounds very nerdy, but us oldschool fangirls were like that.  Pas pulang sekolah buru-buru ke Aquarius dan yang kalah taruhan beliin teh botol di warung depannya.  EW SOUNDS SO ENGGAK, YA.  Ya mendinglah daripada mabuk-mabukan dan narkoba *well that escalated quickly* LOL!

4. Biar tau rikwes apa kalo nonton live music
Guysss… rikwes di radio is one thing, tapi rikwes kalo nonton live music (yes, those existed) is a totally different ball game.  Di radio itu kalo kita salah ngomong (iya, dulu rikwes mesti nelepon boro-boro SMS atau texting), seenggaknya muke ngga keliatan dan nama bisa pake samaran (ih pengalaman banget sis).  Kalo nonton live music di Jimbani kafe, biasanya sama waiter kan dikasih kertas kecil buat bandnya. SALAH SPELLING BISA FATAL AKIBATNYA.  Mengapa?  Ya tengsin aja dong sama bandnya, apalagi yang bassistnya lucu itu. Hey kamu, iya, kamu. Mau dong dibetot dimainin lagunya *kedip*. Omg kayanya abis ini mesti mandi karena aku merasa kotor membuka aib-aib remaja ini HAHAHA!

5.  Biar apdet sama para musisi-musisi favorit
Percaya atau enggak gaes, musisi-musisi baru yang berhasil menembus chart top 40 pada saat itu selalu bikin kita-kita penasaran dan cari tau.  Sekali lagi, cari tau jaman itu nggak segampang jaman sekarang.Udah kebeleeet banget pengen tau dia ini siapa dan kenapa musiknya keren banget, mesti nunggu majalah HAI terbit. Kalo terbitnya bareng sama lagunya sih gak apa-apa.  Kalo masih 3 hari lagi?  TETEP AJA NUNGGU.  Trus paling benci kalo ada musisi-musisi yang lagunya enak tapi dianggep underdog dan emang bukan chart topper.  Ya nggak ditulis kan ya, akhirnya.  Paling dapet selintas mention doang, boro-boro hadiah poster.  Akhirnya terpaksa beli majalah impor yang seharga 1 CD biar puas.

Omg Liv, you were my hero. *sampe sempet punya rok dan sweater kaya gitu*

Aduuuuh banyak banget sebenernya yang pengen eke bahas soal permusikan di era 90an ini.  Tapi mungkin ini dijadiin posting pertama aja ya, lanjutannya nanti dengan tema berbeda.  Buat para sesepuh musik, rekan wartawan, musisi, penyanyi, aku nulis ini cuma berdasarkan pengalaman sebagai anak SMA jaman itu dan seru-seruan aja lho yaaaa… tiada maksud untuk ngeledek atau sok tau.  Emang anaknya demen nostalgia aja, jadi jangan dibawa serius yaaa!

And yes, I wrote this because as I listened to RHCP’s “Soul to Squeeze” just now, I felt a sharp pang of longing for Aquarius to be revived.  Anggep aja sentimental. Hahaha!

Anyone wanna share nostalgic 90s music moments? Ngobrol yuuuk 🙂

 

Sunday Splash Brunch di Doubletree By Hilton Jakarta

Jadi nih, masalah ayah-ayah dan ibu-ibu muda kelas menengah ngehe di kota Jakarta ini kan sebenernya mirip-mirip ya. Nomer satu: bagaimana mendidik anak agar menjadi anak yang baik, nomer dua: bagaimana caranya mencari pekerjaan yang secara finansial akan cukup membiayai si anak hingga sarjana kelak, dan nomer tiga: nyari hiburan alternatif seperti: berenang sekeluarga sambil makan enak dan leyeh-leyeh ngedengerin musik chill dari DJ-DJ kece.

Oh nggak sama ya? Yaudah, jangan cemberut doong… ini kan cuma pengen aja cerita.

Karena masalah saya adalah yang nomer tiga itu (yang mana hanya bisa kejadian di Bali dengan berbagai beach club-nya), maka saya selalu getol deh mencari sejenis beach club, well, kalo di Jakarta mungkin jatohnya mah pool club, ya, secara pantainya jauh amat.  Pencarian ini tentu membawa hasil dong.  Hasil utama yang biasa saya temukan adalah:

“Maaf, bu, swimming pool hanya untuk tamu hotel.”

*ambil pacul, gali halaman belakang buat bikin kolam renang sendiri, kemudian berenti karena… WHAT HALAMAN BELAKANG? oh, that little tiny patch? errrr… bikin bak mandi aja ga muat* HAHAHA!

So anyway, back to my quest of looking for a leisure pool in Jakarta… I found almost nothing.  Ada sih sebuah hotel yang ngecharge sekian rupiah… tapi cuma buat pool-use aja, makanan mah di luar itu. Dulu Four Seasons membolehkan juga sih, tapi kayaknya emang gak diworo-woro yah… dan sekarang hotelnya lagi tutup untuk renovasi. Sediih.  Trus kita coba Waterpark di Pondok Indah.  Seru sih buat anak-anak yang mungkin udah gede yaaah… tapi buat yang bawa toddler, agak sedikit crowded apalagi wiken (ya abis kapan, kan kalo wikdeys kerja akik).  Impian berenang sambil leyeh-leyeh santai pun sirna banget beb, secara ngetekin tempat buat duduk aja kegusur melulu *ngakak*.  But then, satu plus point: kamar mandi bersih.  But… that’s it.

Terus apakah jadi menurunkan kriteria?  Enggak doong, tetep aja maunya kan nyari tempat yang enak dan: kayak beach club-beach club di Bali gitu.

Pencarian ini gak berenti sampe minggu lalu kok ya nemu artikel tentang acara Sunday Splash di Destinasian. Kebetulan emang lagi niat pengen nginep di Doubletree buat anniversary di bulan September nanti 🙂 Nah, katanya ada paket Sunday Splash di Doubletree by Hilton hotel, di mana paket brunch-nya dijual PLUS akses ke kolam renang.  Ih sumpah langsung melenting dari kursi banget trus heboh dong ngabarin suamik. Harga paketnya IDR 358,000++ per pax (dewasa), dan untuk anak-anak di bawah usia 3 tahun no charge, sementara untuk usia 3-12 tahun harganya kalo ga salah 50% dari harga normal.  Kedengerannya mahal, ya, tapi kalo biasa brunch buffet di hotel lain sih menurut saya harga segitu cenderung value for money.  Sama-sama all-you-can-eat sampe bego, sama-sama banyak pilihan makanan.  Bedanya hotel lain gak pake akses ke pool, jadi biasanya anak-anak mah cuma bisa menatap nanar aja pengen berenang tapi ga boleh.  Kalo ini kan bebas berenang-renang loooh 🙂

So anyway, akhirnya kita berangkatlah ke Doubletree sama Shera yang udah gak sabar banget pengen nyemplung.  Sampe sana, wow, gak expect kolamnya segede itu.  Biasanya kalo hotel di Jakarta yang nggak terlalu gede kan kolamnya cuma cimit doang semacam cuma ada agar memenuhi syarat dapet bintang.  Tapi ini lumayan gede sih, jadi suasananya emang resort bener walau ditingkahi suara kereta api dari tapsiun Cikini yah <<<<DITINGKAHI>>>>.

Tadi pas nyampe, buffet buat brunch belom siap, masih transisi dari breakfast ke brunch, tapi kami dipersilakan masuk dan berenang duluan.  Mas-masnya baik banget, ailaf!

Suasana lumayan banyak orang sarapan, tapi yang berenang dikit banget dan mostly emang tamu hotel.  DJ belom main, dan emang gak terlalu banyak anak-anak.  Segala ban karet, kasur udara buat bobo bobo lucu di air juga disediain.  Ready to party banget lah, kelihatannya.  Trus masuk ke ruang gantinya juga bersih banget dan pake AC… yang agak terlalu dingin buat ukuran shower dan ruang ganti.  Hahaha!

Setelah ganti baju, BYUR aja langsung, gak pake nungguin buffet siap. Kali ini ayah ga ikutan berenang, tapi ready jadi tukang foto!  Nggak lama, om Rio dan om Bowo datang bergabung dan ikutan berenang.  Seru deh ternyata Shera udah berani berenang gak dipegangin ibunya.  Selama masih ada pelampung tangan, anakku bak jagoan cilik berenang kesana kemari di kolam yang dalem.  Berani nyelem-nyelem pula! Mmm… gak dalem-dalem banget sih cuma 1.4m dan makin mendekat ke arah kolam anak-anak, makin cetek.

 

 photo IMG-20150802-WA0026.jpg
Ini yang seneng yang gede apa yang kecil sih? HAHAHA!

 photo IMG-20150802-WA0011.jpg
Confirm yang gede-gede yang lebih seneng, yang kecil mah lempeng aja :))

Jam 11 teng brunch buffet siap dan saya mulai inspeksi deh.  Nggak basa-basi sih buffet-nya, walau dalam hal display emang lebih kecil-kecil daripada yang biasa saya temukan.  But then, it’s good karena jadinya gak eneg duluan kan ya.  Pertama ke bagian cold cuts dan cheese, pilihannya lumayan variatif.  Keju-kejuannya juga ada 4, plus biscuits, raisins, honey and… pecan nuts.  Love the cheese platter.  Di bagian salad, sushi juga lumayan banyak variannya, but what impressed me the most is the seafood part because they served OYSTERS! Love!

 photo IMG-20150802-WA0012.jpg
Makan enaaakk :)

 

But you know, buffet selection, pool size and ambience… and all those things won’t matter if the service is not up to par.  Ya gak siih?  Dan Doubletree by Hilton Jakarta, I daresay, has an excellent service standard.  Ditengah kesibukan ambil-ambil makanan dan membawa ke meja (kami makan di area luar), saya terjatuh karena menginjak bagian kayu yang agak lapuk di deket tempat duduk.  Beberapa server dan chef yang lagi bertugas deket situ langsung mendekat dan nolongin (padahal gapapa juga sih bro, cuma pizza jatoh aja dari piring), sambil minta maaf bolak-balik.  Managernya juga langsung nelpon ke maintenance biar si kayu itu langsung dibenerin.  Pas udahan berenang juga masih ditanyain: “Ibu perlu ke klinik? Kalo perlu mari diantar.”

Aww so sweet you guys.

Nggak lama abis makan pas berenang lagi eh DJ-nya mulai main.  Lagunya enak lah serupa Kartell dan DJ-DJ lain di list Soundcloud saya yang emang chill gitu deh.

Naah, kalo dari tadi puja puji, ada beberapa masukan sih ya dari saya:

–  Kamar mandi dan kamar ganti mungkin sebaiknya ada attendant-nya karena beberapa orang tuh kayanya emang ga dapet didikan lengkap di rumah, jadi ninggalin handuk sembarangan banget… di lantai dan di mana-mana, padahal di luar kamar mandi tuh ada lho tempat buat handuk kotor.  Plus, orang-orang ini ninggalin kamar mandi dalam keadaan becek banget ngeselin.  Sayang banget kaan kalo kamar mandi dan kamar ganti yang udah amat well-designed ini jadinya berantakan karena ulah oknum-oknum tertentu.  Emang ini kali ya resikonya membuka diri untuk non-guest.  I think the solution can be as easy as having a dedicated attendant 🙂

–  Kalo ada yang berenang tanpa baju renang, mohon dilarang dooong… soalnya tadi ada beberapa anak tanggung cowok-cowok yang renangnya pake kaos dan celana pendek.  Bukan apa-apa sih, cuma geleuh aja. Hotel lain banyak yang menerapkan peraturan ini, kok, jadi kayaknya mah gak susah ya untuk ikutan menerapkan ini juga.

Selebihnya sih senang sekali deh berenang-renang ria sambil makan enak dan leyeh-leyeh di Doubletree.  Fix lah ini 5th wedding anniversary September nanti nginep di sini 🙂

Sunday Splash at OPEN Restaurant Doubletree Hilton Jakarta
Sundays, 11am – 2pm
385k++/pax. Kids under 3 -free of charge
More info: +62 021 31904433

Minggu depan lagi yuk? 😀

Tentang Internet Security Untuk Ortu Pemakai Medsos

Saya banyak ngangguk-ngangguk pas baca tulisannya Laila yang ini, karena emang bener semua sih *ngaca*.  Tapi ada satu poin menarik dari tulisan Laila yang membuat saya merasa perlu berbagi sedikiiit pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pekerjaan dengan sesama warga online (terutama ibu-ibu) demi kebaikan bersama.  Saya kutip dari blognya Laila:

Hal lain yang perlu diingat adalah internet itu bisa lebih kejam daripada ibu tiri, ibukota, fitnah dan fitness digabung jadi satu. Di world wide web, pencitraan itu harus. Apakah gue pencitraan? Ya, iyalah! Gue nggak akan cerita tentang hari-hari buruk gue sebagai ibu dan istri, gue nggak akan cerita tentang berapa penghasilan dan pengeluaran gue, tentang insecurities gue, tentang ke-introvert-an gue, dan sebagainya. Internet is a fun but alo scary place, and you HAVE to censor yourself once in a while. Phew.

Saya termasuk orang yang gemar berbagi di media sosial, kadang too much, I know.  Kalo dari yang saya baca-baca di internet sih, saya masuk ke kategori milestone mama.  Anak bisa apa dikit dishare, anak bisa lompat dishare, anak bisa ngupil dishare. Ya namanya juga ibu-ibu, sumpah nggak membela diri banget, malah mengaku.  Bener-bener lawannya Nadya Hutagalung banget deh yang muka anaknya aja nggak pernah diekspos, hahahaha!

Tapi benar kata Laila, you HAVE to censor yourself once in a while.  Kenapa?  Demi keamanan kita juga, lho.  “Alah, penting amat sih… kan yang liat cuma temen-temen sendiri juga.” Hidup mengajarkan kepada saya, bahwa siapa pun yang hari ini jadi teman, besok bisa jadi lawan.  Bukan berarti kita harus bersyakwasangka terus terhadap orang-orang, namun waspada itu perlu, kan?

Terus apa yang harus diwaspadai, sih, dalam kehidupan dunia maya?  Ini beberapa hal yang menurut saya jangan kita bagikan di dunia maya.

1.  Sekolah
Hari pertama anak di sekolah pasti adalah momen yang amat membanggakan buat semua orang tua.  Saya juga termasuk, kok.  Refleks seorang ayah atau ibu pastinya adalah memotret si anak dengan seragam sekolah barunya, kalau bisa di depan sekolahnya persis, dengan caption “Selamat bersekolah, Nak!”.  Apakah ini salah? Enggak sama sekali, selama diposting di album pribadi untuk kenang-kenangan.  Jika diposting di media sosial, juga tidak salah, tapi agak careless menurut saya.  Mengapa careless?  Gini, kita semua terlahir baik, sehingga menganggap orang-orang pun akan baik pada kita.  Namun ingat-ingat, internet itu buessaaarrrr sekali dan isinya bukan hanya “teman-teman” kita. Banyak child predator, kriminal, mungkin musuh bisnis, orang yang pernah dendam dengan kita tanpa kita sadari, random bad people dan seribu kemungkinan jenis orang ‘jahat’ lain yang bahkan tak terpikir oleh kita.

Dengan memposting informasi tentang di mana anak kita bersekolah, rupanya saat mengenakan seragam, jadwal kegiatan keluarga sehari-hari, siapa yang bertugas menjemput dan mengantarnya, di media sosial, secara tak sadar kita sedang memberikan informasi yang seharusnya pribadi, ke ranah umum.  Informasi yang ada di ranah umum, secara default sudah menjadi milik umum, dan bisa banget disalahgunakan. Kalau memang (amit-amit jabang bayi) disalahgunakan dan merugikan kita, sebenarnya tidak ada orang lain yang bisa disalahkan kecuali diri kita sendiri.

Lalu bagaimana dong? Masa nggak boleh amat posting soal anak sendiri yang baru sekolah? Kan aku ortunya bangga?

Boleh dooong, masa nggak boleh bangga sama anak sendiri :(.  Tapi coba untuk menyensor lokasi atau seragam yang digunakan.  Kalau emang bener-bener pengen kasih liat bahwa si anak TK kini sudah pakai seragam SD atau anak SD sudah mau masuk SMP, plis banget bagian badge yang menunjukkan detil sekolah (nama sekolah dan lokasi) disensor. Nggak foto di plang sekolah, jauh lebih baik. Detil-detil kecil seperti nama gurunya, jam berapa masuk sekolah dan pulang sekolahnya, nama nanny atau suster yang mengantar, supir atau mobil yang membawa mereka ke sekolah… lebih baik tidak dibagikan di media sosial.  Instead, why not focus on how happy or fearful our kids were? Atau, mungkin kirim foto-foto dan video yang kita ambil ini ke satu alamat email yang baru bisa dibuka oleh si anak di ulang tahunnya yang ke 17 nanti?  Apa? Belom punya? Coba bikin, deh. Dia pasti senang lho menemukan ratusan bahkan mungkin ribuan email berisi foto-foto dan video kenangan masa kecil di usianya yang sudah dewasa nanti 🙂

2.  Alamat Email
Jadi giniii… kadang dalam kehidupan karir, kita sering dapet email-email yang bikin bangga hati banget. I’m not gonna lie, I’ve received some of these that I wanted to share with the world.  Banget. Sumpah. Gimana gak bangga kalo tiba-tiba dapet offer kerjaan yang lumayan prestisius? Promosi di tengah tahun? Tawaran beasiswa? Undangan ke sebuah acara yang eksklusif? Saya bukan tipe yang melarang untuk bangga.  Boleh banget kok, soalnya kan email-email kayak gini biasanya emang karena hasil kerja keras kita.

Tapi ada satu hal yang kadang suka nusuk ulu hati banget kalo lihat temen-temen yang asal share aja tanpa menyensor alamat email mereka… dan alamat email pengirimnya.  Helloooo… ini bahaya lho karena kan penipuan lewat email bisa terjadi ke siapa aja.  Kalo ke kita sendiri mungkin yaudah emang salah sendiri, tapi kalo ke orang yang mengirim email ke kita?  Kok kayaknya kita nggak respect sama privacy mereka, ya?  Nggak semua orang, lho, mengizinkan alamat emailnya dijembreng di depan umum.  Hayooo… ada yang suka gini nggak?

3.  Nomor Telepon
Kita udah nggak hidup di jaman kejayaan voice call, sehingga kita suka lupa bahwa nomor telepon pribadi itu masih amat mahal harga privasinya.  Oleh karena itu timbullah berbagai cara alternatif untuk menghubungi seseorang: email, Twitter, ChopChat ID, dan lain sebagainya. Yang paling mainstream saat ini adalah WA yang mengharuskan kita tau nomor telepon seseorang sebelum bisa chatting.  Kita nggak sadar main kasih aja nomer telepon kita ke orang yang bertanya dengan maksud untuk chatting.  Kalo ngasihnya face-t0-face, mungkin oke aja.  Tapi kalau dipajang di social media… mmm… saya nggak tau deh ya, bagi saya kok agak terlalu open aja.  Ini mah tentunya kecuali yang emang dagang, ya, kan pastinya ada nomor telepon khusus bisnis, bukan pribadi.

4. Pengeluaran Pribadi
Iya, nggak pernah ngomongin gaji, tapi pengeluaran pribadi detail ampun-ampunan.  Nggak salah siihh, namanya juga mungkin pengen cari temen senasib. Tapi sadar gak sih kalo hal ini mungkin akan mengkompromikan safety di dunia maya, DAN dunia nyata.  Sharing bahwa di toko A sedang ada diskon dan ternyata tanpa diskon pun lebih murah daripada toko B memang amat berguna yaaa bagi ibu-ibu blogger dan socmed user, namuan perlukah dirinci perbelanjaan bulanan ini?  Sekali lagi, mohon diingat bahwa pemirsa social media kita itu nggak sebatas teman-teman online semata, tapi mungkin juga tetangga, orang-orang yang kenal dengan kita… yang jarang berinteraksi tapi tahu persis berapa yang kita keluarkan hari itu untuk belanja mingguan gara-gara kegiatan kita ini.

Terus kala tiba saatnya “Pinjem duit, dong,” dan kita menjawab tidak punya uang (ya karena secara cashflow mungkin mengganggu rencana kita, atau emang ogah ngasih aja), tuduhan ‘bohong’ tentu akan lebih mudah dilayangkan. Kenapa sih?  Soalnya orang amat mudah berasumsi bahwa pengeluaran berbanding lurus dengan pemasukan: wah belanja mingguannya aja 1 juta, tandanya minimal sebulan 4 juta aja punya lah… masa aku gak boleh pinjem barang 500 ribu? Implikasi offline-nya mungkin jauh lebih tinggi nih daripada online, dan mempengaruhi hubungan kita dengan orang lain.  Yang seharusnya baik-baik saja, jadi gak baik karena keteledoran kita sendiri.

5. Strategi Keuangan
Satu hal lagi yang menurut saya nggak perlu dishare di social media adalah: strategi keuangan keluarga. Memberikan review tentang reksadana yang baik, saham mana yang oke untuk dibeli saat ini, apakah investasi emas masih oke, properti mana yang harganya lagi bagus… pasti berguna dan keren-keren aja kalau mau dibagiin ke sesama, agar informasi yang kita tau bisa tersampaikan dan sukur-sukur sih berguna.  Tapi, menunjukkan berapa reksadana yang kita punya plus setorannya per bulan, punya properti di mana aja, punya emas berapa kilo… seharusnya nggak usah sih.  Karena selain bikin pemirsa mual (enggak sirik sama sekali lho, ya, malah bersyukur nggak perlu pamer materi demi aktualisasi diri), pameran harta ini juga akan membuat keamanan kita beresiko… online maupun offline.

Kalau didapat dari korupsi, sih, mungkin malah membantu KPK… tapi kan sayang lho, kalau kekayaan kita didapatkan dengan cara-cara yang halal. Cuma gara-gara pamer setitik, rusak masa depan keluarga.  Ya kaaan?

Sampai sini, saya bener-bener mau menyudahi posting ini, karena mungkin aja nanti ada part 2-nya.  Moga-moga enggak lah ya.

Kita hidup di zaman yang apa-apa serba terbuka.  Saya bekerja di industri teknologi, jadi saya menyambut baik segala perkembangannya, embracing technology with all its good and ugly.  Nggak perlu melaknat teknologi sebagai biang keladi keterbukaan, tindak kriminal dan hal-hal buruk lainnya.  Sebaliknya, mari belajar menggunakan teknologi dengan bijak.  Gula juga kan bikin makanan jadi lebih manis, tapi jika salah penggunaan, ya bisa bikin diabetes.  Gitu aja deh contohnya biar gampang 🙂

Have a great weekend, lovelies!

Cara Membuat Paspor Anak Secara Online Edisi Juli 2015

Kenapa dikasih embel-embel ‘Juli 2015’? Karena saya tau buat ibu-ibu atau ayah-ayah yang tech-savvy kan sebelum bikin paspor buat anak pasti research dulu di internet seperti saya.  Terus, ketemu deh beberapa referensi di beberapa blog yang udah lebih dulu nulisin pengalamannya membuat paspor anak secara online di tahun 2013 – 2014.  Yang mana referensi-referensi ini saya pakai dong ya, untuk membantu saya mempersiapkan apa aja yang harus dipersiapkan.  Eh ternyata ada beberapa hal yang berubah dan gak ada di referensi yang saya temukan.  Untuk itu, sekadar berbagi aja buat buibu dan pakbapak, inilah cara-cara dan persyaratan membuat paspor anak secara online apdet per Juli 2015.

Siapkan mental, karena jika Anda beruntung maka server imigrasi akan bersikap amat baik dan Anda bisa dengan mulus mendaftarkan secara online.  Tapi kalo gak beruntung kaya saya, astaga banget deh, nyoba dari jam 9 pagi, baru bisa ‘tembus’ aplikasinya dan dikirim email konfirmasinya jam 3 sore.  MENGAPA? Nanti saya ceritain.

Masuk ke link berikut: https://ipass.imigrasi.go.id:9443/xpnet/faces/xpnet-main.xhtml

Halamannya bakal kaya gini nih:

 photo Screen Shot 2015-07-09 at 14.00.54.png
sumber: Layanan Paspor Online

 

Pilih yang paling gede di tengah tuh. Pra Permohonan Proposal. Klik dan akan masuk ke halaman ini:

 photo Screen Shot 2015-07-09 at 14.01.09.png
sumber: Layanan Paspor Online

 

Lalu isi sebagai berikut:
Jenis permohonan: Permohonan paspor biasa.
Jenis paspor: 48 H Perorangan.
Nomer paspor lama: ya ngga diisi, kan belom punya.
No. Rekomendasi Kemenaker: kosongin aja.
Kantor Imigrasi: nah ini pilih aja yang paling deket rumah. Buat yang di Jakarta Selatan, ada 3 pilihan: Kanim Kelas 1 Jakarta Selatan (yang ada di Warung Buncit), Unit Layanan Paspor Wilayah 1 Jakarta Selatan (yang ada di Ciputat Raya/Pondok Pinang) dan Unit Layanan Paspor Wilayah 2 Jakarta Selatan (yang ada di Karang Tengah/Lebak Bulus). Jadi tentukan yang deket rumah yang mana karena bawa balita ke kantor imigrasi itu lumayan challenging. Kalo merasa udah liat pilihan Kanim Kelas 1 Jakarta Selatan tapi ga liat Unit Layanan Paspor Wilayah 1 atau 2, scroll aja terus karena letaknya emang di bawah banget.

Lanjut ke halaman berikutnya.

 photo Screen Shot 2015-07-09 at 14.01.39.png
sumber: Layanan Paspor Online

 

Nama Lengkap: Isi dengan nama anak sesuai akte kelahiran
Jenis kelamin: pilih aja.
Tinggi: nah, ini juga mesti diukur dulu ya sebelum ngisi.
Tempat dan Tanggal Lahir: silakan diisi juga.
Status sipil: Belum Kawin
Pekerjaan: Lainnya
Alamat email: isi aja dengan alamat email ibu atau ayah.
No identitas: untuk balita/belum memiliki KTP, isi pakai NIK yang ada di Kartu Keluarga
Tempat ID dikeluarkan: tempat KK dikeluarkan
Tanggal dikeluarkan: ada di KK, isi aja
ID berlaku sampai dengan: liat tanggal KK dikeluarkan, tambah 5 taun aja.

Lanjut ke halaman berikutnya…

 photo Screen Shot 2015-07-09 at 14.01.49.png
sumber: Layanan Paspor Online

 

Informasi Pemohon.  Nah, isi aja dengan alamat anak. Nomer HP isi aja pake nomer salah satu ortu. Alamat kantor kosongin aja.

Lanjut ke halaman berikutnya…

 photo Screen Shot 2015-07-09 at 14.02.00.png
sumber: Layanan Paspor Online

 

Informasi Orangtua. Sama aja, isi dengan alamat ortu dan alamat kantor ortu.

Lanjut ke halaman berikutnya…

 photo Screen Shot 2015-07-09 at 14.02.10.png
sumber: Layanan Paspor Online

 

Masih info ortu: Nama, kewarganegaraan dan tempat tanggal lahir. Inget, jangan sampe salah ya nama Ayah dan Ibu. Kalo ada kesalahan spelling, ribet nanti urusannya di Kanim. Jadi memang mesti telitiiii banget!

Setelah itu klik lanjut dan akan muncul info pembayaran.

 photo Screen Shot 2015-07-09 at 14.02.26.png
sumber: Layanan Paspor Online

 

Biaya pembuatan paspor dan harus dibayarkan di Bank BNI. Per Juli 2015 ini biayanya Rp. 355.000,- per paspor.

Lanjut ke halaman berikutnya…

 photo Screen Shot 2015-07-09 at 14.02.42_1.png
sumber: Layanan Paspor Online

 

Masuklah kita ke halaman Captcha yang gunanya sih sebenernya untuk security aja, memastikan bahwa yang menginput data-data sebelumnya itu bukan robot tapi manusia. Masukin aja kode Captcha yang Anda lihat. DAAAAANNN…

… di sini saya mengalamin kesulitan alias ORA TEMBUS-TEMBUS padahal Captcha-nya benar. Lhapiye? Kalok dibatalin ya batal kabeh, kalok enggak ya senep aja. Tapi ternyata setelah berulang kali batalin dan ngisi lagi dari awal (I know it sucks), saya nanya dong sama temen-temen saya.  Dijawab: emang mesti coba terus masukin kode Captcha-nya, bok, entar juga tembus kok. Tapi memang mesti SABARRRRRR *hih*.  Dan saya membuktikan sendiri, ga perlu ribet dari depan lagi, asal telaten masukin kode Captcha ini tiba-tiba nembus aja sendiri. Sekadar catatan, saya nyobain dari jam 9 pagi, baru tembus jam… 2.30 siang. YUK MARI. Inilah yang saya bilang untung-untungan amat, soalnya beberapa teman bilang malah katanya lancaaaar banget. May the force be with you deh ya kalo gitu 🙂

Lanjut…

 photo Screen Shot 2015-07-09 at 14.02.52.png
sumber: Layanan Paspor Online

 

Masuklah kita ke halaman tanggal yang tersedia di kantor imigrasi pilihan kita. Guna tanggalan ini apa? Kirain kan bisa diklik atau gimana gitu yah. Ternyata enggak, cuma info doang jadi buibu dan pakbapak bisa ngeblok hari untuk cuti dari kantor. Ya jadi catet manual aja tanggal berapa yang sekiranya cucok. Pelajaran banget: jangan ngambil cuti duluan sebelum daftarin online karena manusia hanya bisa berencana, Kantor Imigrasilah yang menentukan. Udah tau mau tanggal berapa ke Kanim? Good. Now go ahead, masukin lagi kode Captcha. Tenang, bagian sini rada lebih cepet kok gak bertele-tele.

Abis itu dapet deeh email berisi petunjuk pembayaran di bank. Kayak gini bentuknya:

 photo Screen Shot 2015-07-09 at 14.03.40.png
sumber: Layanan Paspor Online

 

Saya sih langsung print, lalu minta tolong office boy kesayangan untuk bayarin di BNI. Struk tanda terima pembayaran jangan lupa disimpan baik-baik ya, buat ngambil paspornya nanti.

Kalo udah bayar, coba emailnya ditilik lagi karena ada link konfirmasi pembayaran. Klik aja, akan tampil halaman kaya gini:

 photo Screen Shot 2015-07-09 at 14.04.02.png
sumber: Layanan Paspor Online

 

Masukin nomor bukti pembayaran, masukin kode Captcha lagi (I KNOW RIGHT), terus klik lanjut.

Halaman selanjutnya…

 photo Screen Shot 2015-07-09 at 14.04.12.png

 

Jreeeng… kita tinggal pilih tanggal yang diinginkan untuk datang ke Kanim.

Nanti akan dikirimin email lagi secara otomatis, print attachmentnya yang berisi konfirmasi tanggal berapa datang ke Kanim, jangan lupa berkas ini dibawa.

Nah, gak ada upload-upload scan dokumen kaaaan? Iya, ga ada soalnya katanya ini sistemnya baru. Hihihihi!

Okeh, itu bagian daftar onlinenya ya *lap keringet* sekarang bagian dokumen apa aja yang mesti disiapin untuk dicek di Kanim.

1. Akte Kelahiran Anak – bawa aslinya dan fotokopinya (1 aja)
2. Surat Nikah / Akte Nikah – bawa asli dan fotokopinya
3. Kartu Keluarga – bawa asli dan fotokopinya
4. KTP Ayah DAN Ibu – bawa asli dan fotokopinya… oya, fotokopinya dua2nya sekaligus di kertas a4 JANGAN DIPOTONG KECIL. soalnya kalo dipotong kecil ntar disuruh pulang lagi lho!
5. Paspor Ayah DAN Ibu – bawa asli dan fotokopinya
6. Surat Izin Orang Tua – biar ga ribet, kirim orang aja dulu utk beli di koperasinya Kanim. Udah ada kok blankonya yang ditempel meterai. Tinggal diisi dan ditandatangan kedua orangtua. Kalo tadi, saya kaget karena gak tau mesti ada surat izin ini kan, jadi yang bisa tandatangan cuma saya karena suami ga ikut. Tapi oleh petugas diizinkan beli dulu di koperasi, lalu dilampirkan nanti pas pengambilan.
7. Print-out konfirmasi kedatangan
8. Bukti pembayaran (Ini belom akan diminta sih, tapi bawa aja daripada ribet)

Pas hari H. Ini tips berdasarkan pengalaman pribadi aja sih.

1.  Dateng pagi (tadi saya sekitar jam 7 teng udah hadir) terus ngantri di depan pintu Kanim yang belum dibuka. Pintunya dibuka jam 7.40. Antrian paling belakang? Santai bu, soalnya buat orangtua yang bawa anak balita di bawah usia 3 tahun, akan diberikan nomor antrian khusus nanti di dalam. Manula di atas 70 tahun juga antriannya khusus pas di dalam nanti 🙂 Oya, karena ngantrinya lumayan lama, anak saya mah nunggu dulu sih di mobil sama si mbak dan pak supir, jadi dia bisa sarapan dulu atau bobo lagi. Ini penting banget soalnya anak yang ngantuk itu biasanya cranky. Siapin snack, mainan dan air minum di tas, ya. Boleh kok bawa makanan/minuman. Terus, jangan lupa BOLPOIN HITAM just in case kudu ngisi/ngelengkapin form tanpa terduga sebelumnya. Perkara dandanan, sis, bro, karena ini kantor pemerintah jadi kita mesti pake baju yang rapi dan sopan. Buat ibu sebisanya kalo pake rok, ya di bawah lutut dan jangan pake baju tanpa lengan. Terus pake sepatu yang ketutup agar lebih aman gak disuruh balik lagi. Buat bapak, mending pake kemeja berkerah, celana panjang (jangan pendek atau robek-robek ya) sama sepatu ketutup. Anaknya ya dibiasain dandan sopan juga ya, emang sih kayanya ribet, tapi penampilan yang baik kan sebenarnya cerminan niat baik kita juga 🙂

2. Sebelum masuk, semua berkas dicek sama petugas. Ajak anak masuk bareng kita deh, dan bilang bahwa kita sedang mengurus paspor untuk si anak. Dikasih map berisi nomer antrian deh. Tadi di Kanim, saya langsung diarahkan ke ruangan yang beda dengan pemohon lainnya karena si nomer antrian khusus itu.

3.  Duduk cantik sambil berusaha bikin anak tetep hepi karena nunggunya emang rada lama (kurang lebih 30 menitan, but with a toddler that is a lifetime, trust me).

4.  Ketika dipanggil, masuk deh ke dalem. Semua berkas diperiksa, yang fotokopian diambil untuk arsip Kanim, dan langsung foto deh si kecil.  Oya, rambut buat anak perempuan baiknya dilepas aja, tapi pas foto, kuping mesti kelihatan. Baju nggak boleh putih ya, karena backgroundnya putih.

5. Paspor bisa diambil dalam 3 hari kerja. Wiken gak dihitung. Jadi kalo bikinnya Kamis kayak saya, ya Selasa baru jadi.  Pengambilan bisa diwakilkan, tapi jika diwakilkan katanya mesti menyertakan bukti pembayaran, fotokopi KTP dan paspor ayah ibu lagi dan aslinya juga dibawa lagi, trus beli blanko Surat Kuasa di Koperasi. Tanda tangan di atas meterai deh. Why so rempong, but okelah.  Nah, biasanya pengambilan ini lebih santai karena jam 1 siang baru dibuka untuk mengambil si paspor.

All in all, proses pembuatan paspor anak sejak datang jam 7 pagi adalah kurang lebih 2 jam 30 menit saja. Not bad, ternyata cukup kok cuti setengah hari 🙂

Kesimpulan dari post yang begitu panjang kali lebar sama dengan luas ini:

Sebenarnya saya ingin membuktikan apakah layanan online di negara ini sudah mumpuni? Ternyata belum banget, ya.  Tapi, ini progress yang harus diapresiasi dengan cara menggunakannya. Lagian, kuota permohonan online biasanya sih pasti dapet, ketimbang yang walk-in.  So far, kesulitan hanya ada di proses ‘pelolosan’ aplikasi paspor dari halaman Captcha saja.  Dari bisik-bisik para pendaftar paspor online tadi pagi di Kanim sih, katanya mungkin karena servernya belum memadai.  Tapi kami sama-sama setuju kalau ini kan ke arah perbaikan, ya, jadi kita doakan saja semoga pemerintah segera memperbaiki layanannya.

Tadi pas keluar Kanim, saya dicegat seorang mahasiswa yang lagi riset.  Dia bertanya apakah saya dipersulit, atau apakah lama prosesnya. Jawaban saya jujur: enggak sama sekali, lho.  Para petugas menjalankan tugasnya dengan baik, dan proses akan lancar-lancar saja selama kita taat mengikuti prosedur dan memiliki kelengkapan dokumen yang disyaratkan. Buat temen-temen yang bekerja di Kantor Imigrasi, salut deh sama pelayanannya. Semoga ditingkatkan terus ya layanan publiknya baik online maupun offline 🙂

Sementara sampe sini dulu, nanti kalo si paspor udah diambil, saya apdet lagi ya 🙂

UPDATE 14 JULI 2015!

Akhirnya paspor si pinim sudah jadi, tepat waktu sesuai schedule yang dijanjikan yaitu 3 hari kerja 😀 Pengambilannya pun bisa diwakilkan dan cepet banget ternyata. Karena yang mengambilkan adalah pak supir, maka saya membekalinya dengan berkas-berkas sebagai berikut:

1.  KTP Ayah & Ibu (aslinya dibawa dan selembar fotokopi yang nggak dipotong kecil)
2. Paspor Ayah & Ibu (aslinya dibawa dan selembar fotokopi isi fotokopi 2 paspor)
3. Surat pernyataan izin mengambil paspor (ada di imigrasi, belinya pas daftar) tandatangan saya di atas meterai dan tandatangan si pengambil di sebelahnya
3. KTP si pengambil paspor (asli dibawa dan selembar fotokopi yang gak dipotong kecil)
4.  Bukti pembayaran dari bank BNI
5. Surat izin orangtua yang sudah ditandatangan ayah ibu (yang pas daftar saya baru tau ada beginian)

Udah deeeh, pak supir udah stenbei di kanim jam 12.30 siang karena pengambilan baru bisa jam 1 siang. Prosesnya gak lama, asal berkas lengkap semua, langsung bisa diambil.  Tadi jam 1.30 udah sampe rumah 🙂

Puji Tuhan selesai sudah urusan administratif ini tanpa halangan berarti. Sampai jumpa 5 tahun lagi ya kantor imigrasi 🙂  Sekarang, mau jalan-jalan kemana kita, Shey? 😀

Bertahan Dalam Pertemanan: Perlu Atau Enggak?

Judulnya gitu amat ya, tapi pemikiran ini sudah lama ada di kepala saya dan semakin memuncak di bulan Ramadan ini, saat banyak-banyaknya undangan buka bersama.  Coba cek agenda kamu deh, udah berapa undangan bukber yang kamu terima dari temen-temen segeng bekas kantor lama, kuliah, SMA, SMP bahkan SD.  Hampir tiap hari ada, dan akhirnya karena kesibukan terpaksa menyortir mana saja yang harus disambangi dan mana yang… ah udahlah taun depan aja.

Terus merasa bersalah kan ya, karena walau nggak ikutan bukber tetep ditag di berbagai media sosial. Seolah merasa bersalah sendiri belum cukup, adaaa aja temen yang bilang, “Sombong sih lu gak dateng kemaren.”  Benarkah karena kita membuat geng tertentu less priority maka kita pantas dicap sombong?

Ya benar-benar aja, tapi ya enggak juga.

Here’s the deal: mau bulan puasa kek, mau enggak kek, reunian itu bagi sebagian orang penting… namun banyak pula yang menganggap nggak penting.  Berapa sering kita datang ke acara reunian, tukeran nomor kontak, masuk ke grup chat, tapi setelah itu pudar juga. Kenapa pudar? Karena obrolan udah gak seirama, karena dia yang dulu begini kok sekarang begitu, karena tiba-tiba ada yang nguber MLM-an… dan lain sebagainya. Hubungan yang semulanya adem-adem aja di FB doang, mendadak setelah ketemu orangnya kok ya jadi gini amat.  Ujung-ujungnya unfriend di FB demi menutup komunikasi karena mereka jadi aneh.

Biasa kok, itu normal.

Saya membahas ini dari sisi yang kayaknya negatif, tapi apa benar negatif? Orang jatuh cinta lalu pacaran terus putus itu biasa, kenapa putus pertemanan dianggap sesuatu yang luar biasa? Hubungan manusia kan bisa aja nggak work-out.  Jarak dan waktu jadi faktor pemisah utama, dan satu fakta yang sering tidak bisa diterima (termasuk oleh saya) adalah:

…people change.

Selama ini kita teromantisasi oleh kata-kata “Friends Forever”.  Benarkah friends ada yang forever? Ada.  Tapi nggak semua.  Di dalam hidup, kita bertemu dengan berbagai orang yang kemudian menjadi teman kita, di fase-fase hidup yang berbeda.  Waktu SD temenan sama si A, anaknya manis banget, juara kelas, teladan semua murid.  Pas ketemu umur 25an, wow ternyata hamil di luar nikah, kita masih single, dia udah punya anak 3.  Suami entah kemana.  Sekarang si A ngerokok, suka ngebir sepulang kantor.  Wow. Nggak nyangka ya padahal dulunya anak manis dan teladan. Kemudian ngejudge deh, si A berubah.  HELLOOOOOO ya iyalah berubah kalo kita tau kisah hidupnya, ditinggal suami saat anak-anak masih kecil, mesti banting tulang sendiri nafkahin 3 anak di usia yang baru seperempat abad, saat kita masih fresh grad dia udah kerja dari SMA boro-boro kuliah.  Ya wajar aja kalo dia jadi lebih ‘badass’, ‘tough’ dan butuh penyaluran seperti rokok dan bir.  Nggak baik, but so what?  Kita nggak ada loh saat dia ditinggal suaminya.  Kita nggak ada buat dia saat dia butuh kasih makan anak-anaknya. Terus hak kita bilang dia berubah apaaaaa?

Lain lagi sama si C. Waktu kuliah begajulan, sekarang jadi agamais banget.  Mulai deh dibisik-bisikin, “Dia tuh sekarang sok suci banget deh, suka berdoa dan dakwah di FB. Males ketemu dia.” Kalo males ya jangan ketemu. Titik.  Tapi… bukankah seharusnya bagus kalo orang yang dulunya berantakan sekarang jadi lebih tertata?  Jika memang sudah nggak seirama, ya sudah, tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi sama. Saling menghormati dan co-exist aja, karena bukankah itu hakekatnya hidup?

Belum lagi si Z yang dikit-dikit ngomongin politik karena kini mengusung partai tertentu. Ketika kita komen soal kebijakan pemerintah, Z langsung berapi-api -bisa mendukung atau oposan-, dan obrolan jadi gak nyaman karena kita berbeda pandangan dengannya.  Lalu apa kita harus tetap berteman?  Ya terserah aja.  Kadar nyaman seseorang, ya orang itu sendiri yang menentukan.  Kalau telaten meladeni debat atau sama-sama satu visi, ya masa mau udahan temenannya.  Tapi kalau mau udahan, hey ini negara bebas lhooo…

Memasuki tahun ke-37 di bumi (masih 3 bulan lagi, gapapa colong start), saya baru belajar beneran bahwa menemukan kecocokan atau ketidakcocokan dengan seseorang itu ya wajar saja.  Kadang nggak perlu ekstrimitas dalam hal ini.  Ngobrol yang udah nggak nyambung dikit aja suka bikin “hedeh ribet ah ngobrol sama dia, gak ngerti gue!” ya kan?

Mereka yang mengenal kamu di usia kanak-kanak ya akan mengingat kamu sebagai kanak-kanak.  Mereka yang mengenal kamu di usia remaja, ya akan mengingat kamu sebagai remaja. Mereka yang mengenal kamu di usia dewasa dan lagi hobi party, ya akan mengingat kamu sebagai party animal. Mereka yang mengenal kamu di usia dewasa dan udah insyaf, ya akan mengingat kamu sebagai orang yang udah insyaf dan saleh (walau mungkin setelah mereka tau kamu dulunya party animal, akan punya pandangan lain tentang kamu). Orang berubah, keadaan dan pengalaman hidup mengubah mereka dan semua itu ya nggak apa-apa.

That’s just life. And not all friends are forever. And it’s OK. Totally ok!

Pernah merasa gagal gak sih dalam berteman?  Saya pernah. Ketika saya merasa obrolan udah gak nyambung dan saya nggak punya keinginan untuk berusaha menyambungkan, di situ saya merasa gagal mempertahankan pertemanan.  Lalu apa saya berusaha?  Untuk beberapa orang, ya. Yang lainnya… dengan egois saya terpaksa menjawab tidak.  Kenapa?  Ya, karena nggak semua orang layak dipertahankan.  Sesimpel itu.

Tidak berteman lalu apakah memusuhi?  Ya jelas tidak.  Kenapa mesti memusuhi kalau hanya sekedar nggak nyambung dan nggak se-frekuensi?  Jarak juga nggak perlu dijaga karena toh akan menjauh dengan sendirinya.  Kalau ketemu?  Ya ketemu aja, bercanda tetep aja kok, tapi ya sudah, nggak ada usaha lebih.

Terus bagaimana cara untuk tetap berteman?

Jujur saya nggak bisa jawab pertanyaan ini, karena nggak ada teorinya.  Friendships, much like relationships, require chemistry.  Can chemistry fail?  Yes. Can the sparks be lost? Definitely. So how to not lose the sparks?

Effort.

Usaha.

Lalu gimana caranya milih orang-orang yang mesti ‘diusahakan’ ini?  Tenang. In my case, they were chosen by nature.  I’m sure in your case as well.

Memelihara hubungan pertemanan itu bener-bener kaya memelihara hubungan pacaran kok. Komunikasi mesti jalan terus, keep up sama kegiatan teman/sahabat, ketemu muka sesekali tapi rutin… stuff like that.  Kalau ini udah gak dilakukan ya udah tandanya effort udah ga ada. Apa-apakah?  Ya tergantung kamu, kalo saya sih gak apa-apa.

Tali silaturahmi idealnya memang tidak putus.  Tapi jika memang lebih baik tak terhubung, menurut saya ya gak apa-apa banget.

Because sometimes, with some people, peace comes from not being together.

Hikayat Rambut

Baru sadar deh, sekian lama ngeblog tuh paling jarang ngeblog soal rambut. Perawatan muka sadar banget, tapi kalau udah menyangkut rambut, rasanya kok cuek amat ya?

Prinsip saya soal rambut emang rada beda sih sama cewek-cewek (dan sebagian cowok) pada umumnya. Banyak teman saya yang fanatik pada kapster, sementara saya sih tipe yang enak aja melenggang dari satu salon ke salon lain tiap waktu potong rambut tiba. Kenapa? Buat saya gak ada potongan rambut yang gagal, karena TOH ENTAR PANJANG LAGI. Yang penting potongannya sesuai dengan bentuk wajah, style dan kepribadian saya. Itu aja cukup.

Kalau soal potong rambut aja saya santai banget, soal styling gimana? LEBIH SANTAI LAGI. Saking santainya, seperti saya bilang di awal tadi, segala produk pernah saya coba buat fun aja. Dulu waktu kuliah, rambut saya pernah dibleach… bagian depannya doang. Kalo masih inget boyband The Moffats, nah kayak model rambut mereka gitu deh (ya maap kalo norak, namanya juga generasi 90an hahahaha!). Terus pernah juga dibleach se-kepala biar warna cat rambut yang saya inginkan keluar dengan maksimal. Selain itu masih pake gel, wax, dan sebagainya untuk tambahan modal kece sehari-hari. Pertengahan 2000-an lebih parah, karena ada masanya saya rajin banget smoothing rambut. Percayalah, rambut saya waktu itu kalo dijadiin jalan hidup mah pasti sukses saking lurusnya **APAAAAAAA**. Terus bagus gak? Ya dulu sih berasanya bagus, tapi sekarang kalo liat fotonya tuh semacam… nope nope nope nope nope!

Memasuki paruh kedua dekade usia 30an di mana saya , produk styling andalan saya mulai berkurang dari sekitar 5 jadi cuma satu, dan produk ini membawa saya ke jajaran ibu-ibu pejabat rambut-wise. HAIRSPRAY. Gini, soalnya saya sekarang mengerti kenapa ibu-ibu sasak itu menyasak rambut mereka. Karena di usia mendekati 40, biasanya rambut suka jadi tipis, dan sasak is the way to survive looking youthful dan berambut banyak because it adds the illusion of volume. Rambut saya sih belom tipis ya, malah masih sering minta ditipisin kalo trimming rambut. Tapi entah kenapa kalo ada acara-acara khusus tuh saya mulai tertarik banget nyasak dikit trus disemprot hairspray yang banyak. HAHAHA!

 photo fdfe9240-593a-41e5-9dcf-68f99f35a82f.jpg
Percayalah, bikin jambul miring begini aja hairspraynya kayanya setengah kaleng sendiri :)))

 

Tapi sekarang saya mulai agak khawatir, soalnya banyak acara khusus yang mesti dihadiri dan styling rambut udah nggak jadi sekadar eksperimen iseng-iseng belaka, tapi jadi kebutuhan. Yang saya perhatikan, tiap rambut abis dikasih hairspray tuh jadi keras, kasar dan kayaknya kering. Keseringan dicatok juga jadi merah-merah kaya abis main layangan, pecah-pecah dan bercabang. To make things worse, kayaknya sekarang ini saya udah nggak ada di posisi yang bisa bilang “tenang laah, ntar juga tumbuh lagi dan kelihatan sehat lagi kok.” Namanya juga ketambahan proses aging, jadi masalah yang dulu tuh kayaknya remeh, sekarang jadi lebih sulit diberesin sehingga butuh perawatan ekstra.

Sekarang saya lagi nyoba Dove Total Damage Treatment Shampoo & conditioner nih biar kondisi rambut ada improvement.

 photo 20150612_092040.jpg
Iya, mesti pake tiga-tiganya banget demi rambut tetep sehat!

 

Kenapa tertarik sama produk ini? Soalnya, keratin repair actives dari Dove Total Damage Treatment berguna untuk merawat, menutrisi, dan memperbaiki kerusakan rambut dari dalam. Simpelnya: walau “luarnya” dimacem-macemin, rambut tetep dijaga kesehatannya dari dalam. Jadi mau eksperimen rambut model apa juga tetep aja nggak masalah. Pake Dove Total Damage Treatment Shampoo & Conditioner ini bikin pikiran lebih tenang sih, jadi mau ada acara resmi berapa kali seminggu juga tetep santai sasak dan hairspray karena yakin rambut akan tetep sehat.

Ah jadi pengen ngecat rambut lagi deh. Warna apa ya enaknya? Ejiyeee yang udah gak kuatir eksperimen sama rambut! Ada ide gak saya mending ngecat rambut warna apa?

Snoop Dogg & Pharrell, I Love You

 photo Snoop Bush.png

Lagi suka banget sama albumnya Snoop Dogg made by Pharrell yang baru: “Bush”. Auk dahhh sekali oldskool ya tetep oldskool no matter how many new rappers come into the scene. Alhasil kemaren langsung beli sealbum di iTunes! 😀

Paling suka lagu ini:

Abaikan liriknya lah yaaaa yang penting enak buat joget HAHAHAHAHAHA!

Tentang Egyptian Magic Cream & Glam Glow YouthMud Mask

Saya orang yang paling males ganti-ganti produk perawatan wajah.  Kalo suka baca blog ini, pasti paham kalo saya pecinta produk skincarenya Kiehl’s. Terus, karena kulit saya nggak terlalu bermasalah, jadi ya udah, skin care regimen saya standar aja. Cuci muka pake Kiehl’s facial cleanser, abis itu pake toner dan dilanjutkan dengan krim pelembabnya.  Gituuuuu terus nggak pernah eksperimen ini itu. Emang gak mudah tergoda juga sih, karena saya pikir, why fix what’s not broken?

Tapiii… gara-gara cewek-cewek di kantor pada kegilaan masker Glam Glow yang warna item (Youth Mud), mau gak mau saya terseret aruuuusss… kzl gak sih hahaha! Prinsip hidup why fix what’s not broken langsung berubah menjadi why settle if things can be better *ngakak*

Dan pengaruh cewek-cewek kantor ini nggak cuma soar masker Glam Glow Youthmud ini, tapi juga Egyptian Magic Cream yang ruarr biasa khasiatnya.  Gile cing sekaligus dua produk gini. Yang mana, kedua produk ini sebenernya kan udah lama yaaahhh… kan jadi malu sendiri ketinggalan jaman, tapi gapapalah namanya juga bukan beauty blogger. Hihihihi!

Nah jadi akhirnya setelah ogah-ogahan setahun penuh, akhirnya saya menyerah dan mencoba kedua produk ini.  Yang pertama saya coba adalah si Egyptian magic cream.  Pas saya foto di Instagram, langsung banyak yang komen, salah satunya adalah temen baik saya, Edy Khemod.  Ayah satu anak ini langsung bilang: “Bagus ini!”  Nah, kalo yang rekomen beauty product itu bapak-bapak kan tandanya barang “bener” yah, soalnya kalo ibuk-ibuk tuh suka rada rumpi, barang jelek aja dibilang bagus demi pergaulan HAHAHAHA! Di FB pun salah satu bos saya yang baru punya bayi (again, bapak-bapak) merekomendasikan krim ini. Langsung pesen!

Pas barangnya datang, malam sebelum tidur, saya cuci muka seperti biasa lalu pakai si Egyptian Magic cream ini.  Berminyak banget, agak lengket dan berat di wajah, jadi emang lebih baik dipakenya malem aja.  Trus bobo deh.  Pas bangun, mandi pagi dan udahannya… wooooooooowwww… daerah pipi dan hidung yang suka banyak kulit mengelupas walau udah pake pelembab mendadak mulus semulus-mulusnya dan ga pecah-pecah lagi!

Hari kedua, ketiga sampai sekarang udah seminggu pake, kata temen-temen sih kulit muka saya jadi keliatan lebih bersih (etdah macem dulu si Muka Kotor).  Jadi yaudah tiap malem akhirnya pake si Egyptian ini menggantikan toner dan krimnya Kiehl’s untuk sementara. Pengen tau aja hasil jangka panjangnya gimana 🙂

Seolah gak cukup tiba-tiba saya ditawarin nyoba masker Glam Glow sama temen kantor saya, si Oni.  Okelah, nyoba doang apa salahnya sih kaan?  Pulang kantor, mandi, abis itu pake deh si masker ini tipis-tipis.  Agak perih-perih gitu dan rada panas, tapi emang kan namanya juga Tinglexfoliation YouthMud Mask, jadi tingles kaya gitu emang normal. Trus sesuai riset Youtube, katanya mesti tunggu 10 menit, so I gave it… 15. Biar ngeresep lah gitu.

Terus bilas sambil gosok-gosok dikit.  Very exfoliating yaaah, berasa bersiiih banget.  Kelar ngeringin muka pake anduk, ngaca dan…

OMG KOMEDOKU PADA KEMANA???

Terakhir idung semulus ini adalah saat facial sekian tahun lalu, dan berakhirnya ga enak banget sakit-sakit ga keruan.  Ini ga pake sakit-sakit tau-tau pori-pori nguncupppp huahuahuahua!

Muka mulus semulus-mulusnya, dan untuk geng anti filter macem saya sih kayaknya bakal lebih pede selfie-selfie 😀

 photo PhotoGrid_1431577519091.jpg

Anyway, dua produk ini aku beli loh bukan sponsor (walau kalau disponsorin juga ga nolak HAHAHAHA!), dan recommended banget.  Sok atuhlah cobain.  Soal harga emang ngehe sih yaaa, kalo beli di Luxola tuh si Egyptian Magic Cream ada 2 macem: yang travel sized sama yang biasa. Yang travel sized (250ml) 250k dan yang biasa (lupa berapa mili) 380k kalo ga salah.  Akik sih beli yang kecil aja kan namanya juga nyoba.  Nah kalo si Glam Glow, harga aslinya 780k, tapi kemaren dapet kode promo gitu jadi cuma 580k. Di Lazada juga ada sih, cuma udah terlanjur pesen dan harganya pun sama jadi sutralah yaaa.

Kalo ga suka beli online, sok atuh coba ke Galleries Lafayette di Pacific Place.  Ada counternya tuh, dan bisa nanya-nanya sama mbaknya.  Atau langsung ke Plaza Indonesia juga ada tokonya.  Aku kemaren pake yang item karena katanya khasiatnya tuh anti aging.  Kalo yang putih katanya deep cleansing, yang biru hydrating dan yang ijo tuh… apa sik kok lupa.  Googling aja yah. <— YA PANTES KAGAK BISA JADI BEAUTY BLOGGER *ngakak sampe counter GlamGlow*

Ada yang udah coba dua produk ini juga? How did it work for you?

I’m a Tokyo Belle!

Selalu ada yang pertama untuk apa pun, termasuk untuk nyobain treatment-treatment kecantikan. Percaya atau enggak, walau saya senang BANGET ke salon (gak kaya seleb-seleb cantik bak bidadari yang suka bilang ‘aku tuh jarang ke salon’), selama ini kunjungan salon-related saya 99% cuma cuci-blow dan trimming rambut yang semoga mirip Anika Calhoun-nya Empire.  Selebihnya jarang banget karena keterbatasan waktu. Sedih ya.  Padahal pengeeen banget terutama yang result-nya langsung keliatan.

Makanya pas Laila tiba-tiba muncul di WhatsApp group dan kirim selfie dengan bulu mata cetar membahana, langsung gencar nanya-nanya.  Dia cerita, katanya abis eyelash extension di Tokyo Belle.  Nah, pas nanya itu saya lagi sama seorang teman dan ketika saya bilang lagi ngomongin Tokyo Belle di groups, temen saya mukanya langsung excited dan teriak…

TOKYO BELLE UDAH BUKA DI SINI?”

Hold on… ternyata temen-temen saya banyak amat yang udah tau Tokyo Belle.  Dude, have I been living under a rock or something? Atau emang kurang wanita aja makanya gak kebawa hype kekecean ala cewek-cewek Jepang?

Kayanya emang kurang apdet sama dunia kecantikan sih *nunduk*.

Eniwey, setelah googling dan tanya-tanya, Tokyo Belle ini emang franchise dari Jepang.  Di Jakarta sendiri udah ada 3 cabang: Kemang Village, Pacific Place dan Panglima Polim.  Layanannya spesifik, diantaranya:

IPL Hair Removal
 photo IPL TokyoBelle.jpg
Treatment ini menjanjikan bulu-bulu akan hilang secara semi-permanen.  Maksudnya, kalo tumbuh lagi, nggak kasar tapi jadi alus banget dan tumbuhnya lebih lama.  Trus gak pake acara ada in-grown hair gitu. Bikin penasaran banget deh!

Slimming Treatment
 photo slimming.jpg
Treatment ini memakai mesin kavitasi, Radio Frequency and juga vacuum.  Slimming ala Tokyo Belle menggunakan alat yang digosok-gosokkan ke daerah-daerah yang diinginkan, untuk kemudian menghancurkan lemak dan mendorongnya lewat saluran pembuangan.  Nggak pake jarum suntik, gak pake obat-obatan, semua alami deh pokoknya.

Eyelash Extension
 photo eyelash.jpg

Nah yang ini kayanya yang lagi hits banget daaan merupakan treatment pilihan saya.  Mari kita mulai ceritanya.

Sabtu kemarin saya dateng ke Tokyo Belle pusat di Panglima Polim.  Cukup gampang kok nyarinya, kalo dari arah Blok M, lurus aja ke arah Fatmawati, nanti tempatnya di kanan jalan (sederetan sama Pasar Blok A), tepat di atas Family Mart (lantai 3).  Kalau bawa mobil sendiri dan gak takut nyebrang, parkir di seberang aja lebih simpel.  Tapi kalo takut nyebrang, mending muter balik.  Word of warning: parkir agak rempong jadi siap-siap parkir agak jauhan dan jalan dikit kalo pas parkiran Family Martnya penuh.

Eniwey, trus naik aja ke lantai 3 dan taraaaaaaa… sampailah kita di Tokyo Belle.  Reception areanya didominasi warna putih dengan gaya interior minimalis, agak beda sama yang di Pacific Place dan Kemang Village yang lebih girly dan ‘salon’, di sini vibe-nya lebih “klinik” dan clean.  Selebihnya sih sama, sampe seragam para terapis juga sama.

 photo receptions 3.jpg

 photo waiting room.jpg

 photo treatment rooms.jpg

Sebelum mulai treatment, kita diminta isi formulir yang isinya kurang lebih apa kita punya alergi tertentu di mata, pernah melakukan eyelash extension di mana sebelumnya dan lain sebagainya.  Ini penting sih, karena berdasarkan data ini kan jadinya ketahuan kondisi bulu mata kita, jadi terapisnya juga tahu bagaimana cara menanganinya.

Setelah itu kita mesti milih model bulu mata yang kita inginkan.  Ada berbagai model seperti di gambar ini:

 photo Tokyo Belle eyelash extensions.jpg

Tapi coba saya jabarkan biar lebih jelas #ahzek.

Natural
Pas buat sehari-hari.  Lentiknya natural dan gak terlalu panjang.  Intinya mah cukup banget kalo mau tampil naturally cetar dan bakal bikin orang-orang nganga kalo kita ikutan hestek #IWokeUpLikeThis di Instagram. Tapi akik ogeng soalnya menurut saya sih what’s the point karena kan OGAH RUGI loh ya. Mwahahahahah!

Natural DX
Ini juga masih ringan kaya yang Natural, tapi bulu matanya ya sedikit lebih panjang. Jadi pujian yang akan diterima emang bordering on “eh bulu mata lo lentik yah!” dan “WOW BULU MATA LO LENTIK BANGET!!!” gitu deh.  Tipe-tipe bulu mata yang keep people guessing: ini asli apa uslap.  Kalo kamu seneng bikin orang bertanya-tanya, ini pas nih.

Cute
Kalo mata kita sipit dan kecil, disarankan pake yang cute ini, karena bagian-bagian panjangnya ada di tengah. Mata kita jadi kaya boneka gitu katanya, dan bikin mata kelihatan lebih besar.  Pokoknya, kawaii banget sis.  Tapi ya karena akik bukan penganut mazhab kawaii, dan mata ini udah segede bola pingpong kata Iwan Fals (don’t get the reference? doh muda amat sih lau) jadi ini bukan pilihankuh.

Gorgeous
Nah yang ini sempet menggoda hati, apalagi pas malemnya mau kondangan. Konon kalo pake extension Gorgeous ini, bulu mata kita bakal terlihat lebih tebal, lebih cetar dan lebih warbiyasak.  Tapi emang karena tebel banget jadi agak lebih berat dibanding yang lain-lain.  Sempat dilema sih karena menurut saya, kalo lagi mau treatment yang begini-begini kudu yang cihuy sekalian. Tapi kayaknya mesti kompromi mengingat saya lumayan suka ceroboh. Makanya akhirnya saya ambil yang…

Sexy
Kenapa sih akhirnya milih yang ini?  Ya soalnya bagus aja, bagian yang panjang ada di ujung-ujung mata.  I was aiming for that vixen look!  Yaudah sih ya nggak pake lama saya dengan bermantap hati menunjuk si Sexy sebagai pilihan.

Kelar pilih-pilih, diterangin dulu soal perawatan pasca extension yang sebenarnya sederhana banget kalo dibaca tapi lumayan ribet pas dipraktekkin.  Diantaranya ga boleh kucek-kucek mata (by far the hardest karena saya punya kebiasaan ini), ga bole pake maskara, ga bole coba-coba cabut extensionnya sendiri, ga bole pake pembersih oil-based dan ga bole kena air selama 1×24 jam.

Lalu apakah saya mundur melihat perawatannya? YA ENGGAKLAAAH! Namanya juga perempuan kaaan, pengen banget tambah kece, jadilah saya mengangguk mantap.  LONGER SEXY LASHES HERE I COME!

Saya dibawa ke sebuah ruangan treatment, disuguhi ocha dingin dan diminta berbaring sambil rileks.  Bagian dahi ditutup handuk dan saya diselimutin biar ga dingin.  Terus terapis menempelkan semacam masking tape untuk melindungi bulu mata bagian bawah, supaya nggak nempel sama yang atas kalo lemnya belum kering.

 photo 20150502_114947.jpg
Please excuse the no-makeup situation. It was Saturday!

Baru tau banget loh kalo eyelash extension ini beda sama bulu mata palsu.  Jadi, sistemnya itu, bulu mata palsunya ditempelin satu-satu per helai ke bulu mata asli kita dengan jarak sekian milimeter dari kelopak.  Jadi emang gak ada kontak sama kulit sama sekali.  Ya pantes keliatan natural banget yaah, karena nyatu sama bulu mata aslinya dan gak perlu repot ditutupin pake eyeliner kaya bulu mata palsu biasa yang sekadar tempel.

Sebelum mulai, daerah bulu mata disemprot dengan semprotan anti-bacterial.  Rasanya dingin-dingin gitu, terus dikeringin dengan cara menyemprot pake air blower kecil.

 photo 20150502_114644.jpg
Setelah difoto langsung zzzzzz…

Setelah itu?

Maaf pemirsah, selama proses pemasangan bulu mata ini saya KETIDURAN dengan sukses.  Ya abis gimana… adem kena AC terus mesti merem selama treatment, ya ngapain lagi selain bobo cantik?

Tau-tau kebangun nih ceritanya kan, tapi masih ngeh ga boleh melek.  Mata kaya lagi ditiup sama angin yang lebih kenceng daripada yang sebelumnya. Oooo ternyata lem bulu matanya lagi dikeringin pake kipas angin listrik nih.  Nggak lama, si mbak minta saya buka mata.  Dikasih kaca deh… truuus…

 photo 20150502_131002.jpg

 

OMAGAAAAAHHH! APAKAH ITU SYAHRINI YANG SEDANG MENATAP BALIK DIRIKU DI CERMIN????

Kedip.

Kedip.

KEDIP KEDIP KEDIP NONSTOP.  Bener kata Laila sih, rasanya bisa manggil taksi dengan cuma ngedip doang.

 photo 20150502_131256.jpg
Long live long lashes!!!!
 photo 20150502_131107.jpg
Nah, sekarang gak pake makeup rasanya jadi kaya dandan!! :D

 

Sebagai perempuan yang baru sekali ini nyobain treatment eyelash extension begini, jiwa norak langsung timbul dan pas balik lagi ke reception tuh rasanya pengen pelukin mbak-mbak terapisnya satu-satu saking senengnya.  Ya gimana dong, kan emang MANGLINGI banget.  Kenapa waktu kawin nggak kepikiran sik pake eyelash extension ini????

Eniwey, buat orang yang slebor banget kaya saya, perawatan pasca extensionnya emang agak menguji kesabaran, terutama di 24 jam pertama yang nggak boleh kena air sama sekali itu.  Mana malemnya kondangan kan ya, pas dandan pake eyeshadow dan eyeliner mesti ati-ati banget.  Tapi hasilnya CIAMIKS! Liat deh.

 photo Screen Shot 2015-05-04 at 23.55.04.png
Ok, fotonya kurang deket, but I think I made my point. :))

 

Akh ternyata begini nih seharusnya jadi wanita.  Pas pulang kondangan, bersihin matanya juga kudu pelan-pelan pake pembersih yang water-based dan bukan oil-based, sesuai petunjuk dari mbak terapis Tokyo Belle.  Tidur juga mesti jaga banget apalagi refleks kucek mata pas bangun tuh emang tak terhindarkan.  Tapi dipuji sama suami dooong… Bwakakakak!

But all the troubles are worth its while, karena mataku sungguh jadi lebih cantik (notice how I use the word “lebih” because I know my eyes are already pretty *ditimpuk*).  Hari Minggu, hari malas-malasan sedunia, dan bulu mataku tetap kece walau cuma bobo-boboan sambil nonton serial Silicon Valley.  Cakep yaaa (mind the daster).

 photo 20150502_231830.jpg
Percayalah, ini belom mandi. Se. Ha. Ri. An.

 

Nah kini sudah masuk 4 hari sejak pemasangan dan masih cetarrrr membahana. Noticeable banget loh, temen-temen kantor aja merhatiin dan jadi pada pengen eyelash extension juga di Tokyo Belle, dan saking panjangnya bulu mata, sampe mentok-mentok ke kacamata nih, hihihihi! Yawes kita liat aja apakah aku tahan tidak touch up sampai akhir minggu seperti yang dijanjikan.  Sementara itu, untuk yang pengen bulu matanya cetar juga, silakan kunjungi aja Tokyo Belle terdekat, ya!

Alamat Tokyo Belle:

Jl. Panglima Polim Raya No. 86 3rd Floor
Jakarta Selatan
021-2904-3866
021-2904-3732

Pacific Place Mall SCBD B1-21B, Jl. Jend. Sudirman
Kav. 52-53, Jakarta Selatan
021-57973229

Lippo Mall Kemang L3-16, 3rd Floor
Kemang Village, P. Antasari 36, Jakarta Selatan
021-2952-8383

Sampai jumpa dalam edisi mata lentik berikutnya! 😀