Ketemu Di Tengah: Masih Musimkah?

Bayangkan suasana begini di sebuah pasar tradisional:
Pembeli: “Bang, ikannya berapa?”
Penjual Ikan: “Sekilo lima puluh ribu, Bu.”
Pembeli: “Yah, saya cuma punya 10 ribu.”
Penjual Ikan: “Wah belom dapet. Buat ibu saya kasih 40 ribu deh, tapi ga bisa kurang lagi bu, nanti saya ga balik modal.”
Sampai di sini, sebenarnya si pembeli punya 2 pilihan. Kalo di kantongnya benar-benar hanya ada 10 ribu, seharusnya dia memilih lauk lain untuk keluarganya. Tapiii… kalau dia bilang dia punya uang 10 ribu untuk ‘bluffing’ ke si abang dengan harapan dikasih murah, dia bisa menawar lagi.
Itu logika yang mudah dan amat wajar dalam tawar menawar bukan?
Bayangkan apa yang terjadi jika yang kejadian adalah seperti ini:
Pembeli: “Bang, ikannya berapa?”
Penjual Ikan: “Sekilo lima puluh ribu, Bu.”
Pembeli: “Tapi uang belanja saya dari suami cuma 10 ribu.”
Penjual Ikan: “Wah belom dapet. Gini deh, buat ibu saya kasih 40 ribu, tapi gak bisa kurang lagi bu, nanti saya ga balik modal.”
Pembeli: “Ya sori ga bisa, uang jatah belanja saya dari suami cuma 10 ribu, tapi saya mau ikan.”
Penjual Ikan: “Di sini rata-rata ikannya di atas 10 ribu, Bu.”
Pembeli: “Ya gak bisa. Jatah saya cuma 10 ribu dari suami.”
Kalo Anda jadi penjual ikan, apa yang akan Anda katakan kepada si ibu?
“Ya kalo gitu ibu ngomong sama suami ibu aja, ngomong sama saya mah percuma.”
atau…
“Maaf ya bu, belum bisa tuh.”
Rasanya dua-duanya oke aja yah, tapi yang lazim digunakan pedagang itu kan yang terakhir ya. Padahal kayaknya saya yakin pedagang juga kalo tawar-tawaran alot dengan pembeli seperti di atas ya pengen juga ngomong alternatif pertama.
Renungan aja dikit kali yah. Bukankah kunci dari sebuah negosiasi adalah tercapainya kata sepakat dengan ‘ketemu di tengah’? Kalau satu pihak udah memandang pihak lain lebih rendah, rasanya kata sepakat akan sulit dicapai karena tujuannya bukan jadi win-win tapi win-lose.
Or is it just me?
Apakah tren win-win udah gak ada lagi dan digantikan dengan win-lose?
Just my dollar. Obviously this post is longer than just a ‘two-cent’. Hahahaha
Image borrowed from here
jikalau gue jadi abang nya, gue akan berkata,
can u meet me halfway right at the borderline
thats where im gonna wait for you
i’ll be lookin out night and day
took my heart to the limit, and this is where i stay..
*nada fergie di http://www.youtube.com/watch?v=I7HahVwYpwo*
#eh?
mawi: lo mesti nerima kenyataan bahwa gak semua abang ikan se-emo elo maw. *muka tetap lempeng agar dianggap serius*
I think the basic law of economy is to gain profit as much as you can, and win-win solution means you’re not gaining profit as much as you should. So you strive for a win-lose solution instead.
…that, or I missed the point
)
doggu: that is seriously a very wise take on the matter. what happens after everyone in the world fights to win all the time, then? pantes dunia perang mulu yak huahauhauhauhauhau
no you don’t miss the point. in fact, you’re good, missy!
:D:D
Berdasarkan pengalaman saya, kasus begini sih biasanya sih cuma “bluffing” Mba, belum lagi biasanya diembel-embeli, kurangin dong buat ongkos pulang nih, buat parkir dsbnya. Makasih pencerahannya
kalo saya usulnya buat si ibu nabung aja dulu sampai uangnya genep 40 ribu, mbak.
“3 hari lagi saya tunggu di sini ya bu”. janji si abang
hampir semua menggunakan fixed-price, padahal seni tawar menawar itu unik yah
apakah ini juga berlaku ke masalah percintaan *tsaahh*
yang cakep ya cuma mau ama yang cakep heeeuu
Kalo katanya Vito Corleone in Godfather:”….I’ll reason with him, give him an offer he cannot refuse…”