miund.com

Ngomong: Lebih Susah Dari Nulis

05.07.2007 · Posted in Curhat, Miund Banget

Dengan tidak menggampangkan atau mengecilkan arti ‘menulis’, saya cuma lagi pengen curhat aja tentang kesulitan saya bicara dengan baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari.

Kadang saya suka lupa dimana dan dengan siapa saya berada, sehingga ketika saya bicara saya lupa mengeset otak. Hal ini menjadi penyebab timbulnya kerutan di kening lawan-lawan bicara yang tidak siap dengan kebiasaan saya bertutur dengan bahasa kacau yang dikenal umum dengan jargon ‘bahasa gaul’. Contoh:

“Jadi siapa yang akan ngerjain proyek itu Und?”
“Ah gampang, paling si Daniel. Diana udah khatam banget masalah produksi”
“Hah? Katanya Daniel, kok Diana?”

atau

“Sebenernya si anu itu orangnya gimana sih Und? Kok tampaknya dia aneh ya”
“Nggak… Dese nggak aneh kok bo… cuma rada banci tampil aja”
“Banci?” *mulai lost in space
“Banci tampil”
“Oooh…” *tetap dengan pandangan bertanya.
Banci tampil itu maksudnya suka tampil gitu loh”
“Oooh…” *tampak lumayan mengerti namun tetap bertanya-tanya.

Saya sendiri sulit mengerem keluarnya bahasa-bahasa sialan yang sudah menjadi bagian bahasa tutur saya sehari-hari ini. Emang sih diusahakan tidak pernah keluar di forum resmi, tapi ketika masuk ke lingkungan baru, sering sekali saya menemukan bahwa orang agak sulit memahami apa yang saya ucapkan. Apalagi dengan kecepatan berbicara saya yang kata beberapa orang lebih cepat daripada cahaya. Ya gimana dong bo, anak lapangan… disuruh nurunin speed emang pekerjaan yang sulit.

“Jadikalokonsepiniudahkelarkitabisameetinginkonsepberikutnyagak?”

Kalo ditulis emang dibacanya ribet, tapi cobalah bekerja dengan cara multitasking dalam sebuah tim yang berhubungan dengan pihak luar yang amat sangat banyak. Pasti sulit kalau kecepatan pronounciation tetap harus diperhatikan. Lebih lagi beberapa waktu belakangan, saya sering mendengar komentar orang seperti ini:

“Si Miund itu kalo lagi kerja dan ngebrief orang kaya lagi ngajak berantem ya”

Waduh. Kok ngajak berantem? Saya sempat berkeluh kesah dengan seorang teman tentang hal ini.

“Bo, emang gue kalo ngomong suka kaya ngajak berantem ya?”
“Ngomongin apa dulu? Kalo kerjaan mah iya”
“Sumpah lo? Sumpah enggak deh bo! Beneran!”
“Bukan gitu malih, soalnya suara lo kan kenceng… dan kayaknya lo suka ga sabaran kalo orang yang lo brief itu dodol alias gak ngerti-ngerti apa yang lo bilang”
“Lah bukannya semua orang akan seperti itu?”
“Ya enggak lah bo… kan bisa lebih ramah”
“Tapi nanti waktu gue kan abis di ramah tamah… trus kerjaannya kelarnya kapan?”
“Hyaaaaaahhhh… tau deeeehhh… emang udah bawaan lo kali. Ya sial aja elonya mah”

Iya. Sial aja saya tandanya. Dan reputasi galak kalo kerja ini udah sedemikian dikenalnya, sehingga ketika bertemu dengan beberapa teman lama beberapa waktu lalu, merekapun berkomentar hal senada. Saat itu, saya harus menerima telepon dari beberapa nara sumber yang terpaksa menelepon di luar jam kantor. Otomatis setelan suara yang biasanya sekian ratus desibel memekakkan telinga menjadi sangat lembut dan mendayu-dayu. Kata orang-orang, jadi setelan standar suara AE yang lagi ngerayu klien.

“Selamat malam ibu, iya… ini Asmara. Oh saya akan siapkan untuk besok, ibu… Ya ya… sampai ketemu. Selamat malam,” ujar saya dengan ramah.

Teman-teman saya memandang saya dengan tatapan aneh, lalu ramai-ramai tertawa melecehkan saat saya menutup telepon.

“Gokil… andai saja ibu itu tau betapa barusan adalah Miund yang palsu”
“Palsu gimana sih? Biasa tau”
“Eh monyong, sejak kapan lo BISA ngomong semanis madu begitu?”
“Sejak gue mesti nge-treat klien, goblok. Emang elo”
“Tuh Und, kalo ngomong tuh yang manis kaya tadi ditelepon dong… masa sama kita tetep begitu ngomongnya. Pake manggil goblok segala”
“Malih, ‘goblok’ itu kalo ditujukan ke elo semua tandanya sayang. Kaya baru kemaren aja temenan sama gue”
“Ya tetep aja kita pengen ngerasain jadi klien lo sekaliiii aja”
“NGGAK!”
“Ayolah Und… masa sama klien bisa segitu ramahnya sama kita enggak. Bukan Miund gitu loh”
“Emang bukan. Tadi kan yang ngomong ASMARA. Sekarang Miund!”

Haduh… Kenapa ya teman-teman saya itu. Serba salaaahh gitu. Soalnya pernah juga kejadian bermanis-manis yang ujungnya saya dicurigai macam-macam. Seperti kalau menelepon si Gusye, misalnya. Makin saya bermanis ria, makin curiga pria lajang sialan ini. Aneh.

“Halo Gusyeeeeee!!! Pakabar cah bagus? Tambah ngganteng nggak dirimu?”
“Oh tentunya… aku tambah berkharismaaa!! Ada apa Nyet, pasti lo ada maunya nih”
“Idih kok lo curiga gitu sama gue?”
“Abis gak biasanya lo manis-manis anjing ke gue gini. Ayo ngaku, ada apa!”
“Setan”

Balik lagi soal bahasa gaul yang makin banyak turunannya dibanding apa yang ada didalam kamus Mbak Debby Sahertian, sekarang pun saya sering menjumpai teman-teman yang menjawab ‘BIS’ untuk ‘BISA’. Misalnya:

“Neng, polo sendokir bis tints?”
“Bis”

Terjemahan bebas:

“Neng, pulang sendiri bisa tidak?”
“Bisa”

Edan ya morfologi bahasa itu. Saya nggak mau terlalu advanced dengan membahas penggunaan ucapan ‘CAPE DEEH’ yang kemudian diturunkan dengan pantun-pantun laknat karena buat saya, yang basic aja kadang masih bikin orang puyeng. Seperti diskusi yang terjadi dengan publisher saya beberapa waktu lalu misalnya. Kami sedang dalam proses editing bahasa (well, ternyata emang akhirnya hampir ga ada yang kena gunting edit juga sih) untuk buku GOKIL tersebut. Si Mas rada kagok dengan sebuah frase yang menurutnya agak kurang lazim.

“Tapi Miund yakin dengan penggunaan frase ‘gondrong siomay‘?”
“Yakin aja. Emang kenapa, Mas?”
“Ya saya sih kuatir aja apa masyarakat bisa mengerti. Itu kan bahasa yang kurang lazim…”
“Yaah… abis mau diganti apa dong? Gonjes?”
Gonjes itu apa?” – gubrak
“Ya semacam gondrong siomay tapi lebih jijai aja secara bahasa” *benar-benar tidak menjelaskan*
“Waduh… makin nggak ngerti nanti orang yang baca”
“Ah ngerti deeehh… masa gonjes nggak ngerti?” *mulai maksa*
“Ya udah kalo gitu gak usah diganti. Biar aja gondrong siomay. Tapi yakin ya kalo masyarakat mengerti apa yang Miund maksud?”
“Yakin sih enggak ya… tapi kan kalimatnya kontekstual”
“Kenapa harus siomay tapinya?”
“Karena yang gondrongnya kayak yang saya maksud biasanya para abang siomay
“Ah masa?”
“Emang sih gak ada penelitian secara kuantitatif maupun kualitatif… Gak ilmiah sih, tapi beneran deh. Tanya aja sama Kak Wasis. Iya kan? Iya kan?” *buang bodi ke editor saya sambil tetap memaksakan kehendak*

Dan si editor yang ditanya hanya bisa cekikikan pasrah.

Begitulah yang dapat dipastikan akan terjadi bila tipikal keanehan berbahasa saya ditemukan dengan orang-orang normal diluar pergaulan saya yang memang nggilani ini. Jadi nggak habis pikir… kenapa saya bisa come up dengan istilah-istilah non-umum seperti ‘gondrong siomay’, ‘selemparan Rambo’, ‘dumplak dungjes’ dan lain sebagainya. Dan kenapa juga saya bisa dengan dodolnya ikut berpartisipasi menyebarkan istilah ‘plis deh’, ‘oemji’ dan lain-lain…

Tapi yang paling bikin saya kagum adalah mereka yang pada akhirnya mau (atau mungkin terpaksa) mengerti kecacatan saya di bidang bahasa verbal -dan mungkin kehidupan-. Makasih banget lho. Dan tak lupa juga salut buat mereka yang akhirnya ketularan ngomong seperti ini. Pesan saya: jangan ditiru-tiru amat, karena bahasa yang saya gunakan sehari-hari itu emang nggak beres.

Tapi kalo sekadar buat survival di dunia pergaulan masa kini mah silakan deh. :P

5 Responses to “Ngomong: Lebih Susah Dari Nulis”

  1. haqhaqhaqhaq…. *ngakakgulinggulingan*
    jadi inget waktu kasi komentar buat salah seorang sepupu yang banci tampil

    kana: ih dasar! emang banci tampil dia mah!
    tantenya kana: ih enak ajah! ponakan gue dibilang banci!
    kana: *mangap*

    miscommunication =p

  2. miscommunication bener… hahahaha…

  3. huahahahahaha …. you made my day better lach ….

  4. ya elo sama aja sih kayak gue dan temen2 gue :) )

    temen kantor : “ihhh sausnya kok kayak TAI sih ?”
    gue : “ih elo ngomongnya sopan dikit nape ? PANTURA ih ”
    temen kantor : “kok pantura ?”

    PANTURA = identik dengan supir truk jalur pantura, dimana sopir bus truk kadang kasar dan ngomongnya juga gak bisa di rem, jadi PANTURA = KASAR :) )

  5. Aduh bo, penggunaan kata banci dan bahasa gaul lainnya itu adalah sesuatu yang emang kudu direm tergantu situesyen ya. Biasanya setelan mur gue kencengin kalo gue tahu gue lagi jalan ato gaul sama temen2 gue yang ‘konservatif’. Udah refleks aja nggak dipaksain. Tapi kadang bablas juga, dan kemaren ini gue ngomong ke sahabat cowok gue dari SMP n SMA waktu kita lagi makan nasi uduk Kebon Kacang abis nonton Shooter di Blitz, “gila tuh anak (ngomongin temen SMA), makin banci tampil aja.”

    “Hah?” katanya.

    Aduuuhhh… gue pun repot ngasih penjelasan. Gini ya Yud (namanya Yudha), banci itu sekarang udah jadi bahasa gaul buat bilang orang yang suka banget sama sesuatu. Lo banci motor (secara anaknya emang gila2an cinta banget sama motor gede), gue banci nonton, dll dsb. Dia manggut2.

    Tapi males gak sih kalo kudu dijelasin, jadi garing kan.

Leave a Reply