Berapa Hargamu?
Tadi sore pulang kantor saya mendengarkan Iwet Ramadhan dan Rahma Ummaya yang siaran di radio sekolahan saya dulu. Ada bintang tamunya, si ahli karir-mengarir: Renee Suhardono. Bahasannya cukup menarik yaitu tentang pekerja Part Time. Kenapa menarik? Karena seperti pernah saya ceritakan disini, saya adalah banci side-job yang juga mengalami apa yang sering dialami para pekerja part-time atau para freelancer alias pekerja lepas.
Mematok harga.
Itu hal paling sulit dalam pekerjaan freelance.
Dulu nih ya, saya inget banget pertama kali ngerti side-job… saya dimintai tolong oleh alm. Indra Safera untuk membuatkan skrip MC buat acara kawinan. Maunya dua bahasa pula. Akhirnya saya coba karena tertarik dan baru tau kalo di acara-acara kawinan itu MCnya butuh skrip. Dulu Kang Indra selalu bilang: “Skrip itu penting untuk acara-acara seperti ini, Miund. Walau dibawakannya gak seperti orang membaca, tapi MC harus punya guideline yang lebih tentang kedua mempelai supaya acaranya nggak cuma dateng, salaman, makan terus pulang.”
Kata-kata itu saya pegang banget sampe sekarang untuk acara apapun. Kang Indra mengajari saya untuk research dulu tentang apa yang ingin disampaikan dalam skrip. Beliau juga mengajari saya bagaimana membuat skrip yang bagus tanpa harus over atau under duration. Tapi yang terpenting dari semua yang diajarkannya, Kang Indra ngajarin saya untuk menghargai diri sendiri dengan mengajukan harga penawaran yang membuat kedua pihak merasa diuntungkan.
Kalau kita kerja di sebuah perusahaan, soal tawar menawar gaji itu sudah biasa dan rata-rata sih mudah mencapai kesepakatan. Riset dikit, tanya kanan-kiri, maka akan didapatkan yang namanya ‘gaji pasaran’ untuk posisi tertentu. Kalau iseng, bisa nulis expected salary sedikit diatas pasaran. Kalau cuek, ya ngikutin pasar aja, dan kalau pasrah atau desperate… dibawah harga pasar juga disikat yang penting dapet kerjaan.
Tapi semua itu gak berlaku untuk pekerja lepas. Harga pasar? Harga pasar apa?
Ada sebenarnya harga pasarannya… tapi sifatnya nggak se-terbuka atau semudah itu dibaca seperti harga posisi tertentu di sebuah perusahaan. Gini aja deh contohnya:
Gaji manajer itu sekarang pasarannya antara 10 – 15 juta.
Gaji beginner itu biasanya berkisar 2 -3.5 juta.
Ketebak gitu loh, walau meleset-meleset dikit.
Bagaimana dengan pekerja lepas?
Nggak bisa diprediksi dan nggak bisa dipatok Rp. X. Kenapa? Karena balik lagi ke man-hour yang diperlukan dalam mengerjakan pekerjaan tersebut dan skill yang dibutuhkan dalam memenuhi pekerjaan tersebut hingga selesai.
Itu baru faktor yang bisa dihitung atau tangible. Yang intangible? Misalnya soal senioritas dalam sebuah bidang. Terus reputasi. Mana bisalah bayar desainer dengan Midas touch sama dengan mahasiswa desain yang lagi cari kerja sampingan betapapun berbakatnya si mahasiswa. Semua ada kelasnya, walau dalam dunia kerja lepasan, kelas ini seolah transparan sifatnya. Gak keliatan. Tapi tetep ada.
Belum lagi masalah kesulitan tawar menawar. Kita di Indonesia ini lemah. Lemah kenapa? Karena mudah merasa ‘nggak enak’ sama orang. “Yaa dia kan temen bo itungannya, masa gue ngecharge mahal-mahal…” Itu yang sering saya denger dari temen-temen saya yang freelance. Biasanya kata-kata ini timbul akibat dari diskusi gak penting yang isinya curhat karena merasa dibayar kurang, dan merupakan jawaban dari pertanyaan: “Lah elu kenapa cuma minta segitu?”.
Buat apa merasa tidak enak?
It’s purely business.
Donald Trump gak akan sekaya itu kalau dia keturunan Jawa yang sopan dan sering ngerasa gak enak sama orang abis itu ngomongin di belakang. Saya setengah Jawa, tapi kelakuan saya dalam bisnis ya nggak gitu. Negosiasi harus terjadi, dan kita gak boleh menghindar dari pembahasan mengenai cost dan charge. Akui saja, pekerja lepas dan siapapun yang meng-hire mereka sebenarnya sama-sama butuh. Jadi, skill negosiasilah yang diperlukan dalam hal ini.
Pekerja lepas itu kadang terlalu lena dengan kemampuan spesifiknya yang gemilang, sampai lupa bahwa mereka harus bisa kuat dalam negosiasi. Kuat bukan berarti kekeuh gak puguh, tapi kuat berarti tahu kemampuan dan tahu berapa harga diri sendiri. Karena, seperti yang dibilang Mas Renee tadi sore, pada akhirnya yang dibela bukan rupiahnya tapi harga kredibilitas diri sendiri.
Beberapa kali saya dimintai tolong oleh teman-teman freelancer untuk ngebantuin mereka nego dengan kliennya. Saya sih seneng-seneng aja dan gak minta persenan sama sekali karena… well, I love doing it. Buat saya, ketika sebuah deal terjadi antar pihak manapun, itu amat menyenangkan. Kenapa? Karena saya sudah membantu dua pihak mendapat keuntungan. Tapi sebenarnya ini gak perlu terjadi karena sebenarnya klien itu tidak menyeramkan. Bedanya mereka dengan kita adalah: mereka punya duit. Kita nggak punya. Tapi ingat, kita punya skill yang tidak dipunyai oleh mereka. Emang bener ada pandangan bahwa pihak berduit bisa meng-hire sejuta freelancers kalau mereka mau, dan gak perlu memakai jasa kita. Mendengar ungkapan seperti ini harusnya jangan bikin kita kecil hati, karena kalau kita percaya bahwa kita skillful enough atau credible enough dalam mengerjakan pekerjaan yang (akan) mereka berikan, maka bila mereka menolak kita karena fee kita terlalu tinggi… kita harus belajar menerima dengan lapang dada bahwa well, maybe they are not looking for quality. And it’s their loss.
Bukan berarti ngajarin sombong ya. Saya cuma mau bilang sama temen-temen yang freelance:
Wake up, be strong and smell your real price.
Perusahaan-perusahaan di Indonesia harus diajarin juga untuk nggak memandang remeh sama para freelancers. Untuk itu, jangan mau dibayar murah yang keterlaluan. However, mereka meng-hire para freelancer untuk mengerjakan sesuatu yang sumber dayanya nggak ada atau kurang di perusahaan mereka. Jadi sekali lagi, ada asas butuh disana. Jangan menjatuhkan harga diri hanya karena dipandang sebagai pekerja lepas. Paradigma ini harus dibalik. Pekerja lepas adalah orang-orang yang punya skill khusus untuk melakukan sesuatu yang mungkin tak dimiliki pekerja normal. Jadi, pekerja lepas bukan sekadar tempelan buat menuh-menuhin kantor selama beberapa saat saja.
Tapiii… kalo ada company yang mau bayar mahal ya jangan ngelunjak juga Nyet. Itu namanya ngancurin reputasi sendiri. HAHAHAHAHA!
sebenernya freelancer design harga bisa ancur tuh karena apa coba? pembajakan software macam sotopop dkk, murah bgt 100ribu dapet lengkap. jadi semua orang bisa beli, coba2, pasang harga murah buat kerjaan iseng2.
nah begitu itu kejadian, rusaklah harga pasar. orang yang butuh cuma buat “tiket”, ngapain bayar harga mahal buat designer nomer 1, wong cuma tiket dangdutan rt misalnya. pake aja si ini, dia bisa kok utak atik. nah. rusak deh harga. apalagi orang indonesia kan kadang, mentingin harga daripada kualitas. bayar dikit buat kualitas oke, mikir 10ribu kali.
sebenernya kalo di runut, tiap profesi tuh ada ikhwal perusak harga begini.
*cieh mendadak serius, mengayomi bgt gak sih gue*
calon artis: membaca komen lo, tak urung gue berpikir kalau sebenarnya sebelum memberi label harga pada diri sendiri untuk kemudian diajukan ke klien, kita mesti tau bener apa profesi kita sebenarnya. emang sekarang banyak pelecehan pada profesi sih terutama di bidang kreatif. bisa photoshop dikit ngaku graphic designer. ngerti mindah-mindahin perabot udah ngaku interior designer. lancar ngeblog dikit udah ngaku copywriter. lucu dikit pengen jadi MC. jadi emang yang dirugikan adalah pelaku-pelaku profesional yang punya latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja BENERAN ini. betul sih merusak harga. nah makanya kita mesti menggalang persatuan dan kesatuan untuk menyadarkan orang-orang yang doyan ngaku-ngaku ini supaya agak tahu adat sedikit. kalau gak sadar-sadar juga, baru dikalahkan dengan telak. eh tapi klien yang bener mah pasti tau lah bedanya designer dengan “designer” begitu pula halnya copywriter dengan “copywriter” atau mc dengan “mc”.
gue seneng kalo lo lagi serius nyet. AYOM bener rasanya. ALAH!
anjrooot berat.. ya bok, susah sih, gimana ya, orang yang ngaku2 itu biasanya pendidikannya gak berarah. orang yang pendidikannya berarah aja, tiba2 terserok2 dalam mencari pekerjaan (ini gara2 apa? ekonomi indonesia? atau mau nyalahin sistem pendidikan? atau sistem tenaga kerja?).
jadi mereka beralih lah, ke tempat yang agak “gampang”. gampang toh ngaku graphic design, tau helvetica, cmyk/rgb, bisa layout cakep, ngecrop gambar. sukur2 jadi jago beneran karena kemauan belajar. jaman sekarang, apa yang ngehasilin duit cepet, dan “gampang”.. sikaaaaaaat!!!!
tapi kalo gue liat, yang ngerusak harga gini, biasanya beda pangsa pasarnya sama yang propesional. istilahnya “kemakan jaman” lah (hahahah gak tepat analogi gue).
AYOM bgt gak sih gue? HAHAHHA
btw, pembicaraan ym kita dan comment ini kok bertolak belakang ya “kiblatnya” hahahahha.. yang satu pintar.. yang satu lagi.. “LUAR BIASA PINTARNYA” hahhaha..
calon artis: apapun sistem yang dibuat itu pasti ada kelemahan dan kekuatannya. jadi kalo mau nyalahin sistem pastinya gak akan kelar. yang salah itu uang nyet. kalau kata nicky astria LAGI LAGI UANG. betul kata lo, siapa yang gak suka easy money. makanya yang mesti ditatar biar pinter itu emang perusahaan atau individu yang mau nge-hire cuma dengan bayar murah. seperti kata orang: ada rupa ada harga. tapi lagi-lagi selera juga main disini. kalo perusahaan gede tapi seleranya brengsek ya yang kena imbasnya adalah kaum profesional yang beneran. gue kadang mikir apa kita harus menurunkan standar. soalnya mau bertahan nanti malah gak laku. sementara kalo nyerah tandanya kita dibegoin. gue sih sejauh ini masih bertahan ya. dan kalo udah mulai tercium tanda-tanda bego membegokan yaaa terpaksa idealis deh.
gila nyet, lo bener-bener muse gue. kenapa ya malem ini obrolan kita nggak ngehe kaya biasanya. rada ada isinya nih. kalo kata smitun: panjang namun berisi. HAUHAUAHUAHUHUAHU!
bener. uang dan selera itu berbanding terbalik kadang2 ya bok. belom cenchu semakin tinggi klien kita, semakin tinggi pula seleranya. kan mereka juga harus nyesuain selera pasar bok. kalo target nya C_D_E yang secara which is notabene belom tentu bagus ya. mintanya sih.. gak kalah norak sama flyer2 dangdutan.
gue pernah stress pas magang, gara2 megang klien ber target CDE, suruh bikin iklan oli motor terkenal dari negri pizza dan canavarro (alah jelas bgt), terus HARUS GEDE IMAGENYA, bertebaran hadiah dimana2, belom lagi dengan tagline catchy (gue partneran sama copywriter magang, temen kampus gue jg). boook stresss… ditambah lagi, tambahan.. sticker buat di.. ANGKOOOOTTTT.. ya gak? jadi kesimpulan gue, percuma kadang2 idealis tapi kalo pesan yang mau disampein gak sampe..
kuncinya, kompromi sama gengsi x)
*anjing gue berasa pinter* HAHHAHAHHA
calon artis: contoh uang dan selera berbanding terbalik ada sebenernya yang nyata banget nyet. lo jalan-jalan deh ke pondok indah. ada rumah yang didepannya suka parkir jet ski tuh. HAHAHAUHAUAHUAHUUA!
compromise sucks for people like us, but hey, sometimes we have to. just make sure it’s not all the time.
eh, tapi ya, ini membuka diskusi baru lagi. kenapa para klien itu selalu mengidentikkan bahwa pasar CDE amat sangat bodohnya sehingga harus dicekoki segala sesuatu yang literal dan berkesan murahan? apa benar pasar CDE yang sebodoh itu, atau apa pasar CDE menjadi bodoh karena perlakuan diskriminatif terhadap selera mereka? ini pertanyaan yang persis dengan posting gue tentang realita televisi. are they really stupid or are they stupid because we make them stupid? mana yang duluan? ayam atau telur?
ini lingkaran setan nyet. gak bisa diungkap, tapi sebenarnya… bisa diubah. tinggal pertanyaannya adalah: bersediakah para klien itu menurunkan gengsi mereka sebagai orang yang ‘jauh lebih pandai’ dari kelas CDE menjadi orang yang ‘mau memperpandai’ kelas CDE. so far sepertinya masih jauh dari harapan.
pembicaran kita di YM memang lebih brilian. tapi lo mesti mengakui, we’re more than just those tiny little windows of Yahoo Messenger. kita ini LILIN DUNIA. camkan itu baik-baik.
hahahah bok rumah di pi ituh, lo bisa ngobrol sama bokapnyokap gue kalo pengen tau dalemnya secara detail, secara mereka pernah di “mtv crib tour” oleh sang empunya rumah *sayang waktu itu gue lebih milih pergi ke ultah temen, kfc doang lagi, begok* >> melenceng dari subjek
nah, tapi nyet, klien yang ingin memperpandai tuh jarang, kalo ada pun, caranya gak di iklan deh. biasanya ahency kalo dapet klien mcam ini bisa kelojotan deh seneng bener, dan akhirnya puter2 ide “sok pandai”, dan akhirnya eksekusi visual sih canggih, tapi pesen kebelit sendiri. akhirnya apa? gak sampe. serba susah.
kayak susu merek binatang paling kaya sedunia setelah burng belibis (hint: coklat, berbulu dan besar). ada satu iklannya, yang kaleng mereka membentuk tembok cina. bok keren abis. visual oke, dan artinya simpel kan. tapi gak membantu nilai penjualan (gue baca entah dimana). jadi serba susah. mau memperpandai orang, tapi ya gitu, gak nguntungin mereka secara materi. sijek. money is the root of all evil man. but evil is good. hahahahhaa..
contoh kacrot tapi mau jualan >> iklan alarm mobil tadi sore hahaha masterpiece.. gue yakin pasti jualan abis, karena orang penasaran nih barang apaan sih? hhahahah..
lah jadi ngebahas iklan? KENAPA MELENCENG? KENAPAA??!?!?! btw, ati2 di serang oleh orang2 pandai hahahahahaha *wink wink*
calon artis: ya bener… bener. money is the root of all evil. tapi buat gue yang good bukan evilnya cuma moneynya HAHAHHAHAHA! eh tapi iklan alarm itu emang kece banget ya. eksekusi brengsek, tapi dapet banget. bukti nyata bisa bikin kita penasaran. and we’re not even CDE! *sianjing yakin*.
menurut gue kreativitas ahensi yang kadang LEBAI jaya itu harusnya emang diimbangi dengan kondisi masyarakat. kalo mau idealis sendiri mah bisa aja nyet. hasilnya kaya iklan rokok yang pake jargon-jargon pinter yang boro-boro orang ngerti itu. keren hasilnya, tapi kesannya jadi asik sendiri dan gak nyampe. tujuannya bukan jualan lagi tapi maintain eksistensi. nah, memadukan ide kreatif ngehe dengan keadaan masyarakat itu adalah tantangan sebenarnya bukan? karena kalo sekadar kreatip mah semua orang bisa.
orang-orang pandai mah gak baca blog ini nyet. yang baca kan yang otaknya pada geser semua kaya gue. HAHAHAHKAHAKK! jadi kalo ada yang nyerang… tandanya either pengen eksis doang atau sok pinter. kalo pinter mah bacaannya bukan miund.com. tapi dotkom-dotkom laeeeennnn *senyum-senyum misterius*. blog ini mah kayanya tailor made buat orang yang sampe sekarang MENGANGGAP TAKESHI CASTLE ITU ADALAH ACARA TELEVISI PALING BRILIAN YANG PERNAH DIBUAT UMAT MANUSIA dan sampe ngerengek pengen ke Jepang demi ikutan jadi kontestan atau minta dibeliin mobil-mobilan yang dipake buat perang.
ya gak sih? *kedip-kedip manja*
hahahah kita mah CDE abis nyet. terbukti ngeliat iklan itu terhibur abisssss!!! besok coba ke mestik bawah tanah (masih ada gak sih) tempat jual onderdil mobil. siapa tau ada, dan pas mobil kita dirampok, datang lah bapak2 bermobil karimun itu ahahhahha.. (jadi intinya bukan alarmnya, tapi bapak2 itu)…
nyet, TAKESHI CASTLE IS THE BESTTT TV SHOW EVER.. mana ada orang berani naro lomba tarik tambang lawan gajah? hah?!?!? mana ada?!?!? hahaha asli gue ngerengek abis tuh sama bapak gue, minta mobil sama pistolnya.. asli.. sekarng kalo gue minta dikasih gak ya menurut lo???
ahahahahaha… eh btw, miund, kamar kamu pake ac gak?? hahahaha
asli, capek ah nyet ngobrol pinter2an gitu. back to reality ya..
“when u comin home, 5 in the morn.. somethings goin on.. let me smell yo ####”
ahahahaha
calon artis: dikasih sih kayaknya nyet. tapi gue mah tetep pengen salaman sama yang jadi rajanya. mukanya ngehe banget pengen gue tampar abis itu foto bareng. HAHAHAHAH! iya nih cape ah pinter-pinteran. back to life back to reality.
“don’t play me like a fool, coz that ain’t cool, so what you need to do is let me smell yo @#$”
video musik paling brengsek yang pernah gue liat. gue yakin yang bikin juga sutradara-sutradaraan. ngepeettt!
dan YA, KAMAR GUE PAKE AC. PASTI MOBIL LO ENGGAK! HAUAHUAHAUHUA!
*mulai becandaan insider seperti biasa*
tengkyuh ya und…ngebaca blog ini tiap hari selain bisa ketawa2 gila juga bisa nambah wawasan
wink: hah? wawasan? yakin lo? HAHAHAHAAHAHKKAKK! makasih juga ya udah mampir
iiiiiiih gilak. abis pada makan apaan? seumurumur gw temenan sama kalian baru kali ini kalian terlihat lebih pintar dari biasanya! saya sungguh bangga karena… tumben. hiahiahihai..
terutama makin bangga karena KALIAN PUN pernah mengalami masamasa INGIN IKUTAN TAKESHI CASTLE! HAHAHAHA… Gw pernah seneng banget pas rajanya kalah tauuuk, yang ditembak2an terakhir itu…
hanya ada tiga hal yang ingin gw garisbawahi dari komenkomen cerdas ini. ”Lucu dikit mau jadi MC” (bukannya penyiar?
) ), ”duluan mana? Ayam atau telur?” (kenapa harus ada kalimat ini?) dan ketiga, gw mau tau banget cerita mtv cribs rumah PI itu.. (ketemu gak sama tukang nasi goreng yang digosipkan hilang tersebut??) hahahaha..
PoppieS: mohon digarisbawahi TERLIHAT ya. jadi cuma keliatannya doang kok. kami tetap kawanmu yang pernah, masih dan sudah menjadi kasir! HAHAHHA!
wihhhh si TAKESHI CASTLE itu emang ga ada duanya nyong. pengen ikutan banget gueeeee sumpaaaaahhh! Lucu dikit mau jadi penyiar. Tapi abis siaran, ambisi berikutnya pasti jadi MC!
duluan ayam nyet. ayam jam 3 pagi udah ada di pinggir jalan ditawar om om. tukang telur dari pasar induk baru nyampe setengah 4. dan yang terakhir, cerita MTV cribs itu mohon minta penjelasan dik CAWON AWTIS!!!
kok kalian bisa seserius ini? abis pada makan apa (bener kata poppies)?
sangat bertolak belakang dengan si calon artis yang semaleman ngobrol sama gue dengan topik yang aduh… mau bilang “gak penting” tapi ga sudi gue karena kata itu masih megandung “penting”. soalnya bener-bener ngga banget nyet! hahaha.
tapi btw gue setuju… takeshi castle itu dulu booming, pembantu gue ga bisa begerak dari depan tv kalau itu acara lagi on. kayanya kalo itu acara lagi on dia ikut2an “on”, ikut-ikutan bergerak samping kanan kiri…. kapalnya goyang kapteeennn!!??
wah setuju banget deh sama bahasan hari ini. hal kaya gini sering dibahas sama lecturer gw. sekarang banyak banget bertebaran designer-designer “whatever” (istilah lecturer gw) yang kerjaannya cuma ngikutin kata klien doang. padahal kan harusnya kerjaan designer itu come up with creative ideas. masalahnya, klien suka sok-sokan lebih tau dibanding designernya jadi daripada nambahin masalah, si designer akhirnya oke-okein ide si klien ini. emang deh pekerja kreatif masih dinilai rendah sama orang-orang pada umumnya padahal kerjaan mah sama susahnya sama pengacara ataupun dokter.
tentang iklan alarm itu, gw pernah liat dan gilaaa iklannya kaya iklan jaman 90an, jadul berat! tapi jadi penasaran dan pengen beli hahahahaha
bebe: yah bisa dibilang kami banyak makan ASAM GARAM kehidupan kerja sampingan, mungkin. HAHAUHAUHAUAHUAHKAHKAK! btw, kalo yang sampe goyang-goyang kanan kiri itu adalah saat aku bermain PS terutama kalo gamenya balapan mobil hihihihihi
DwD: tandanya kamu pun CDE, seperti kami berdua, karena tergoda iklan ALARM ITU! HORE! jangan jadi designer whatever, tapi jangan jadi designer sombong yang gak bisa terima masukan juga ya
teori ayam lo bener2 ilmiah ya >>> duluan ayam nyet. ayam jam 3 pagi udah ada di pinggir jalan ditawar om om. tukang telur dari pasar induk baru nyampe setengah 4!!!! >> melenceng bgt otak lo!!!!
hahaha btw, kapal gue juga suka oleng kalo lagi main game.. kanan kiri kanan kiri. apalagi kalo motor, bisa tumbang deeeeeeeh hahhaha
calon artis: gue emang selalu berusaha ilmiah dalam setiap kesempatan, in case you haven’t noticed. coba deh berpikir agak LAYERED sedikit. niscaya lo akan mengerti bahwa di dunia ini banyak warna yang tak terungkap dalam spektrum.
SIANJING mulai sok TEORI DESAIN AHHAHUAHUAHUAU!
Nyet, jadi harga diri itu meaning nominal ya? bantuin gw dooong, mencari harga diri yang tepat buat dijual. huhuuuuuuuuuuuuuuuuuy!!!!
Tante Menteng: dalam hal ini nominal. dalam hal lain tentu gak bisa dinilai pake angka apapun lah yaaaa… eh, situ bukannya tempat sini bertanya harga pasaran? HAHAHAHAHKHKAKKA!
waaa.. bener tuuh. suka ga enkaan gue kalo sm temen. sering diminta ngedesain flyer ato spanduk sama ngemsi. tp harga yg dibayar suka-suka. soalnya temen. ga enak sih. malah kalo ngedesain suka ga dibayar. hiks… emsi juga .. hiks..
deedee: nah jangan suka gak enakan makanya. ayo tentukan berapa hargamu yang sebenarnya. kudu pede neng!
hehe, kalo menurut saya siiiy, yaa… gpp aja beda latar belakang, secara di kita tuh arahan pendidikannya blom bisa menanmpung pengembangan bakat dan minat. Ga usah lah ngomongin soal berpendidikan, wong yg gak sekolah aja masih banyak kok…
yang penting mah quality aja kali ya, persetan dia sekolah ato kagak, kalo hasil kerjanya ok, Why Not?? Toh banyak juga pengusaha n bankir kaya meski bukan dr sarjana ekonomi dll…
Mengenai perusak harga?? mmm, aku mungkin ngeliatnya lebih ke persaingan pasar yg berkembang. Intinya harga tuh emang gak mungkin selalu stabil, palagi kalo sistem monopoly dihancurkan.
Mengenai desainer. Toh desainer tuh letaknya gak hanya ke skill bisa sotosop , autocad, corel dll, tp lebih ke basic dia bs nge-desain ato kagak. Punya daya imaginatif yg ok apa kurang…
nah, kalo masalah prefrensi pelanggan, yaa… semua ada pangsa pasarnya masing2 kok…
mitra w: saya setuju perbedaan latar belakang itu nggak perlu jadi masalah. tapi, kalau berani menekuni bidang yang bukan spesialisasinya sepertinya hasil kerja yang dideliver harus berkualitas dan bukan sekadarnya aja seperti yang biasanya terjadi.
tentang perusak harga, saya nggak setuju kalau ini dibilang persaingan pasar yang berkembang. harga yang ada di masyarakat itu memang bukan harga mati, tapi sekali lagi, persaingan itu melibatkan kualitas. tidak adil bukan bagi mereka yang berkualitas bila sudah timbul paradigma tertentu dalam benak para klien bahwa seorang ‘desainer’ disamakan dengan ‘desainer-desaineran’? sekali lagi daya seleksi para klien diuji disini karena itupun adalah salah satu faktor penentu pasaran harga.
kalo posting ini terkesan membela para desainer profesional dan ber-ego tinggi, saya mohon dimaklumi saja karena hanya membela bidang yang saya pelajari dan menyuarakan pendapat teman-teman pekerja lepas yang bekerja di industri ini… yang kadang dicurangi. tunggu… bukan kadang. sering.
[...] dengan tulisan ini, maka hari ini dengan senyum lebar sampai kuping, saya resmi menjadi seorang [...]
bener juga ya yg dikatain calon artis.
soalnya temen-temen gw juga begitu..
Kalo pengalaman saya mah — malah nyaris ga pernah dapet proyek dari temen ^^ Justru orang luar yang ga kenal yang berani deal dengan harga yang dioffer… Kalo kata temen saya (yang juga sesama freelancer, bedanya dia maen di fotografi), biasanya temen malah ga ngeliat kita sebagai seorang profesional yang lagi menjual jasa… ngeliatnya sebagai temen yang mestinya ngebantu mereka dengan harga serendah mungkin, even free hihihi… gimana pengalaman para freelancers sekalian?
non, tanya dikit donk. man-hour di jakarta ini kisarannya berapa sih?
kalo harga temen berapa kalo harga profesional brapa?
hehehee.. gw demen ni blog. kayaknya gw bakalan jadi pembaca setia ni mba. secara gw paling males baca blogs yang bahasanya formal bgt n topiknya gw ga ngerti. tks ya mba dah bikin gw ketawa2 tiap gw mampir.
Monika Tanu: wah senang kalo jarang dapet proyek dari temen. jadi set harganya juga bisa fully professional. tandanya udah bisa ngebalik persepsi tuh mbak Monik. salam kenal ya, webnya bagus deh
bubba: aduh, pertanyaan seperti ini sama aja seperti nanya secara blatant pada pekerja kantoran “Eh, gaji lo berapa?”. saya gak pernah nyaman ngomongin nominal. sori ya.
agnes: terima kasih juga agnes udah mampir
eh mbak,nanya donk..calon artis tu sbnrnya siapa si?ada blognya gk?ce/co?
gw jd keterusan bc blognya mbaknya nih,..ini udh mlm,pdhl bsk krj…tp lmyn bs bikin cekikikan..
sorry gw baca blog ini gw jadi ngerasa ada saluran buat ngeluarin uneg-uneg yang bikin eneg. Soal ksh harga buat yang nge-freelancer emang jadi tantangan sendiri. Tapi karena gue pernah diklecen sekarang gue pake pakem “mau segitu gak mau yo wis”. Gak gue pandang kerjaan dari temen apa dari orang yang gak gue kenal. Dan gue sarain kalo sama calon klien yang belon lo kenal pake prinsip ada uang ada barang. Jangan kaya gue kerjaan udah ampir tiga bulan belon bisa ketagih-tagih. apes…kapok…bonyok
buat Miunds: ‘lam kenal and thanks buat pencerahannya.
Manstap!!! Bener-bener ngasih Gue wawasan. Cuz Gue kan baru aja lulus taun kemaren. Kerjanya jadi magabuters. Udah jadi staf di salah satu perusahaan. Tapi masih nggak pernah dikasih kerjaan apa-apa sampe sekarang. Huhuhu. (~_~)v