Tips Berkelana Di Jakarta
Beberapa waktu belakangan ini, saya kerap bertemu dengan orang-orang yang ‘baru’ di metropolitan ini. ‘Baru’ bukan berarti baru babar blas belom pernah ke kota seperti tarzan, tapi banyak juga yang berasal dari kota-kota lain di dunia yang lebih canggih. Berikut ada beberapa tips (lama dan baru) untuk Anda yang merasa kurang ‘Jakarta-savvy’.
1. Hati-hati dengan ‘pedas’
Lidah mereka yang sudah lama tidak tinggal di Indonesia tentu lebih sensitif dalam menghadapi tingkat kepedasan. Baru ada merica sedikit aja udah teriak-teriak macem orang panas dalam 5 tahun gak sembuh. Nah, bila Anda adalah orang yang punya lidah sensitif, jangan sekali-sekali bilang ‘Iya saya mau ketopraknya pedas’ karena hal ini sangat berbahaya. Jajanan di pinggir jalan Jakarta, I must say, punya standarisasi kepedasan yang agak diatas rata-rata. Jadi kalau cuma pengen ‘semeriwing’ gak penting, silakan bilang sama abangnya atau office boy kantor Anda: ‘Saya ketopraknya sedang aja’. Satu lagi, buat yang suka banyak syarat kalo mesen makanan… belajarlah mengidentifikasi pesanan Anda. Untuk yang ‘pedas’ silakan cek bungkusan yang karetnya lebih dari satu. Karena biasanya itu yang dilakukan para pedagang demi membedakan mana yang anu dan mana yang inu. Untuk yang gak doyan bawang/sayur/daging/apapun, coba cek yang karetnya lebih dari satu dan ujung bungkusannya disobek. Ya. Memang aneh, tapi itu kebiasaan tukang-tukang ini.
2. Tarif parkir? Tidak sama!
Nah ini juga mohon jadi perhatian, karena tarif parkir di Jakarta walau mas-masnya sama seragamnya, ternyata beda-beda. Kalo Anda parkir di Menteng dan sekitarnya, maka siapkanlah uang dua ribu rupiah. Sementara untuk area-area yang lebih low profile, seceng masih cukup. Nggak tau ‘seceng’? Nanti lama-lama juga tau. Untuk valet parking, rata-rata mematok harga 10 sampai 20 ribu rupiah. Sangat disarankan untuk mereka yang ogah muterin tempat parkir terutama di Plaza Semanggi yang parkirnya jelimet kupret.
3. Jangan remehkan waria
Bila Anda menyetir di kawasan (lagi-lagi) Menteng di waktu malam, waspadalah terhadap fenomena waria yang hobi pamer anunya. Saya pernah terlibat sebuah obrolan dengan teman-teman yang berakhir dengan gontok-gontokan membahas mengenai mengapa anu si waria itu menyerupai anu wanita, tapi itu mungkin kita bahas saja lain kali. Nah. Kembali ke pembahasan utama: jangan remehkan waria yang perkasa ini. Kalau mobil Anda dihalangi dan Anda kebetulan tidak tertarik, maka bukalah kaca seperlunya dan minta dengan sopan agar si waria memberikan jalan. Jangan pernah mengklakson atau memaki-maki, karena alam adalah sahabat dekat mereka yang selalu menyediakan BATU untuk membantu para waria ini menimpuk kaca mobil Anda. Bahaya bukan?
4. Berilah tip secukupnya
Hargailah usaha para mas-mas baik hati yang menawarkan untuk membawakan belanjaan Anda saat berbelanja di pasar tradisional atau supermarket. Berikanlah tip secukupnya. Biasanya range untuk tip ini bervariasi dari dua sampai lima ribu rupiah. Sering saya tergoda untuk memberikan tip untuk merawat rambut atau kulit… tapi nampak cara ini lebih baik tidak dicoba karena seperti halnya pada waria, alam pun bersahabat baik dengan orang-orang budiman ini. Jangan sampai jadi kena sasaran timpuk batu.
5. Malu bertanya sesat di jalan
Jangan malu untuk bertanya di Jakarta. Mengapa? Karena semua orang punya jawaban untuk pertanyaan Anda, dan bila berhubungan dengan arah, maka orang Jakarta akan lebih jelas memberikan keterangan dibanding orang-orang daerah lain. Di Jakarta, Anda tak akan menemui percakapan seperti berikut:
“Mas, mau numpang tanya… kalo mau ke Rawamangun itu kemana ya?”
“Oh, adik ambil aja jalan ini… lurus nanti kira-kira dua kilo lalu ke Tenggara. Setelah itu nanti kira-kira tujuh puluh lima meter, ada pohon cabang delapan… nah setelah itu agak menggok ke Barat. Lempeng aja nanti kelihatan rumahnya Pak Burhan. Nah disana adik bisa tanya pada beliau karena adik misan-sodara sepupu-tetangga istrinya tinggal di Rawamangun…”
Jawaban-jawaban ajaib yang masih menggunakan arah mata angin, patokan alami dan referensi nama orang seperti yang lazim ditemukan di daerah Jawa Tengah, tak akan Anda temui. However, bila Anda bertanya di beberapa tempat tertentu, mungkin ini jawaban yang akan Anda dapatkan…
“Dari sini, adik belok kiri di perempatan. Nanti ikutin nol lima yang biru, terus kalo dia belok kanan, adik JANGAN ikut. Lurus aja nanti ketemu P75. Ikutin aja sampe perempatan berikutnya, terus MUTER BALIK. Nah, nanti ada belokan ke kiri. Tempat angkot nol lima itu tadi mangkal. Nah belok deh. Tapi jangan ngikutin nol lima lagi dik, mereka disitu MANGKAL doang soalnya…”
Jangan jambak-jambak rambut sendiri dulu. Maklumilah, karena tidak semua orang punya mobil pribadi seperti Anda.
6. Periksalah supir ojek Anda
Feeling a bit adventurous? Silakan coba naik ojek, kendaraan umum yang sedang populer di Jakarta sejak harga bensin naik edan-edanan. Tapi, periksa dulu supirnya. Yang dimaksud disini adalah: sebelum menumpang ojek, pastikanlah bahwa si pemilik sepeda motor adalah benar-benar tukang ojek dan bukan cowok yang sedang nungguin pacarnya pulang kerja. Ingat, ketelitian adalah yang utama. Seorang teman pernah mengalami kemaluan yang sangat besar saat dengan seenaknya ngejogrok di boncengan ojek dan minta diantar ke tujuan. Si ‘ojek’ pun menurut. Keesokan harinya, si teman ini menemukan bahwa si ‘ojek’ mangkal lagi di depan kantornya dan dengan enaknya tersenyum dan menuduh:
“Eh, mas. Mangkal disini? Saya mau ke Kemang nih!” -langsung ambil ancang-ancang naik ke boncengan.
“Eng… maap mbak, sebenernya saya disini ngejemput pacar saya…”
Dan si teman terpaksa pulang lewat pintu belakang kantor selama sebulan penuh, apalagi ketika mengetahui bahwa si tukang ojek adalah pacar resepsionis KANTORNYA SENDIRI.
7. Tarif Lama adalah fatamorgana
Mungkin sebagian dari penumpang taksi sejati sering tergoda dengan stiker ‘Tarif Lama’ yang ada di beberapa taksi. Hal ini memang benar untuk beberapa perusahaan taksi yang banyak beredar di Jakarta Selatan. Namun bila Anda melangkah ke Jakarta Utara, hindari taksi ‘Tarif Lama’ ini, dan pake yang pasti-pasti aja. Kenapa? Mungkin tarif tutup pintunya memang lama, tapi tarif ‘jalannya’ sangat tidak lama naiknya. Hati-hati dengan tarif lama tapi argo kuda.
8. Late Nite Deliveries? ADA!
Jangan pikir cuma New York yang gak pernah tidur. Jakarta juga gak pernah tidur. Kalau terjebak di kantor sampai larut malam dan kelaparan, tinggal tekan 14045 makan fast food terkenalnya Ronald McDonald akan menyambangi Anda. Kalau lagi bokek? Tukang nasi goreng berbagai rupa selalu stand by di mana saja. Atau lagi nganggur di rumah dan mendadak ingin masak yang aneh-aneh? Silakan ke pasar Kebayoran Lama, karena perniagaan mulai aktif jam 10 malam sampai jam 7 pagi. Sayur dijamin segar, ayam belom tentu, bumbu pasti ada. Mari mari.
9. Bargain until it bleeds… in the right places
Jangan ragu untuk menawar sampai mampus. Tapi, lihat-lihat tempat menawarnya. Sebuah tentop (baca: tank top) yang dijual dengan 25 ribu rupiah di Mangga Dua, belum tentu mau ditawar dengan harga sama di Melawai. Sebuah karpet yang dijual 175 ribu rupiah di ITC Permata Hijau, masih bisa lebih murah di ITC Cempaka Mas. Jadi, cek cek ombaklah dulu dengan mereka-mereka yang memang rajin ke tempat-tempat seperti ini. Source of reference paling terpercaya biasanya adalah para sekretaris di kantor Anda. Wanita-wanita cantik modis ini biasanya tahu dimana mendapatkan barang-barang murah meriah tapi keren di seputaran kota ini. Begitu pula barang-barang eksklusif karena merekalah yang biasanya bertugas membelikan ini itu untuk para bos.
10. Enjoy Jakarta!
Gubernurnya baru, kumisnya baplang… what more could a city ask for? Ada sebenernya: orang-orang yang bisa enjoy beneran tinggal di tempat ini walau tetep kena macet, polusi dan sebagainya. After all, ujung-ujungnya balik lagi… kalo situ bete tinggal di Jakarta…
Ngapain ateuh pulang kesini?
HIYAHAHAHAHAAKHAKHAKHAKHAKKK!!!
bwahahahaha … thanks for the tip on brapa “jumlah karet” di bungkusan ya ‘Und! altho maybe I should just go for the one without the rubber band. kangennnn pengen pulang, aihhh!
annecantik: ayo sini sini pulang… nanti gue traktir ketoprak tanpa karet… HAHAKHAKAHK!
Tentop di Melawai masih ada yang 25 kok.. terus klow mo sepatu murah dan luculucu turun aja dari Melawai ke bawahnya.. Huhuhh..
Belanja di sini enakan sendiri atau sama temen cewek. Soalnya klow sama cowok kita, dia bisa jadi bosen diajak berkeliling ke puluhan toko sebelum kita ngambil baju yang ada di toko pertama tadi.. atau simply karena biasanya klow sendiri atau sama cewekcewek biasanya masmasnya ngasih lebih murah
waduh .. setiap melongok ke sini selalu ada aja cerita lucu plus tips-tips menarik
Teh Miund ini seperti Ratu-nya TIPS … hahahaha
seperti sedang membaca ensiklopedi kehidupan … huahahahahaha
mungkin kalo saya ada masalah, bisa cari solusinya disini aja kali ya??
makasih loh … hehehehe ^_^V
hihiihihii…. omong2 soal angkot, gue setelah kost, baru belajar naik angkot nih… seru abes!
Jawaban-jawaban ajaib yang masih menggunakan arah mata angin, patokan alami dan referensi nama orang seperti yang lazim ditemukan di daerah Jawa Tengah,…
jd inget pas ke Jogja kemaren…
si Kakak yg nyetir : Kulonuwun Pak, mau tanya jalan ke Dagadu kemana ya?
si tukang becak : ooo..lurus ae ke utara Mas…
Saya : UTARA ITU KEMANA?? TANYAIN!!
Si Kakak yg nyetir : mmmmmm……..Utara itu kemana ya?
si tukang becak : ya kesituuu….
ngomong kek dr td! tau gt, bawa kompas deh dr surabaya!
ouh.. ouh.. yang nomer 6 itu teh.. tambahan nih!
pastikan pula tukang ojek anda tau betul tempat tujuan anda!
soalnya sini pernah diajak muter2 dari daerah senen mau ke stasiun gondangdia pake lewat depan monas, istana merdeka, mesjid istiqlal, deplu, bahkan sampe lewat di depan hotel arya duta sebanyak 4 kali sebelum akhirnya sukses menyerah minta turun di stasiun cikini!!!
oh, well….
heheheheh mbak miund, i left jakarta like thousand years ago..tapi gara-gara posting ini jadi kangen nih sama si ibukota. kapan ya bisa balik? kayaknya sekarang saya masih harus puas tinggal di kawasan yang masih cinta dengan arah mata angin dan buku primbon hehehehe ..
PoppieS: ah masa sih? gue kalo jalan sama si Wenni tetep weee dikasih mahal. mungkin kuncinya adalah mencari toko yang penunggunya LELAKI. kalo perempuan suka jutek soalnya… hahakhakhakhakkk…
Siska: sekarang lagi hobi ngasih TIPS. sebentar lagi sepertinya mulai akan banyak teori-teori sinting lagi kok. tunggu aja… hahahakahkahkahkk!
letitsia: sama dong, gue waktu ngekos di bandung juga baru kenal yang namanya angkot… kalo di Jakarta mah najis jaya gue naek angkot… hihihihihi!
ndutyke: eh emang di Surabaya cara nunjukkin jalannya gak seprimitif di Jogja ya? HAHAHAHAKAHKHK!
Kana: wah kalo soal ngerti jalan mah tanggung jawab penumpang ojek. kalo gak ngerti arah, mendingan naik taksi gak sih?
grace: nah ayo dong mari mari kemari
nyet ah, tengah malem, sakit2 gue jadi ngidam ketoprak!
anjrot, gua nyasar blog kaya gini
tapi, lucu abis
gua baru idup di jakarta 5 bln kmaren dan baru tau kalo jakarta harus seperti ini
idup di jakarta harus ekstra ati2 kalo naek KRL, sedikit meleng dompet melayang. mapir mesjid, sedikit meleng sepatu melayang. mampir pasar, sedikit meleng uang melayang, mampir mall, meleng sedikit hati melayang. aih…aih….
bhuwakakakakak…. iyah sih bener juga sebenarnya, apalagi yang BB itu… untunglah jaket saya harus sekaliiiii… hahahahahahhah!!!!!
Adduuuhh neng Miund, sebagai anak Jakarta, ibarat TiKam aka Titi Kamal, dirimu megang banget! hihihihihi
Inget waktu mau ke Gambir dari kantor pake ojek. Setelah nawar 10 rb, kita berangkat. Setelah bebrapa ratus meter, tukang ojek nanya.. “Mas, tahu jalan ke Gambir?”
Lho.. kok.. Dia nyambung lagi “Saya di Jakarta baru seminggu Mas”
Ya udah, saya deh yang nunjukin jalan buat dia.
Pas udah nyampe Gambir, dia keliatan bingung. Saya samperin lagi.
Saya jelasin jalan pulang ke tempat semula.
Gak tahu deh dia nyampe atau gak. Mudah2an nyampe ya. soalnya gak pernah ketemu lagi.
kalau saya sih lebih milih malu bertanya jalan-jalan… sekalian, jadi tambah banyak tahu…
tahun 2004 sewaktu gue mau SPMB lagi di Jakarta, gue dapat tempat ujian di SLTPN 77(?) di Cempaka Putih (Timur?) (X??). tiba di Salemba (FK-UI), gue bukannya nanya di mana yang namanya Cempaka Putih. gue jalan aja ke arah RSCM, terus ke Megaria, Cikini, Rumah Sakit PGI-Cikini (Jl Raden Saleh), lalu tembus lagi ke Salemba.. baru deh setelah cape jalan gue tanya tukang bajaj..
nilai positifnya, setelah gue tinggal di Jakarta, gue cepet ngerti daerah yang gue lewatin itu..
saran saya sih, kalau malu bertanya, dan gak ada yang sangat urgent yang perlu dikejar, gak usah tanya sampai nyasar.. ada untungnya kok (semoga!)
calon artis: katanya disonoh teh botol aja ada… masa ketoprak enggak? HIH *melecehkan*
aris: wah blom pernah tuh gue naik KRL. kapan-kapan nyoba deh
letitsia: BB mah ga perlu di angkot… di hotel bintang lima kalo bau mah bau aja…
Dea Soelistyo: MEGANG ABIS BOK! pertanyaannya adalah: megang APA??? hihihihihi
Eka Putra: kalo semua orang di dunia ini mikirin orang kaya elo mikirin tukang ojek itu, mungkin gak bakal ada perang ya bok… HAHAHAHAKHAKAHKAHKK!
vontho: ini nih contoh klasik laki-laki. gengsian mau nanya. well that, i guess, is why men NEED women constantly when it comes to directions… and LIFE. HA!
lebih baik nanya sih drpd nyasar… walopun gr2 bertanya, satu kampung yg di Bus Patas itu jd tau kalo saya mau turun di TA.. tp itu masih mending, drpd saya diem sendiri menyepi dan setelah makan perjalanan 3 jam dgn bus dr Depok nggak nyampe2 jg di TA..