Karena Hujan Pagi Ini

Kapan itu sudah pernah menulis tentang berduka.

Kali ini saya mau menulis tentang betapa berduka nggak cukup sehari-dua hari saja.

Sudah dua bulan sejak Papah berpulang, saya pikir saya sudah kembali normal. The truth is, nothing has been normal since he died. Apakah detik-detik terakhir saya melihatnya bernafas masih terputar terus setiap saya bangun pagi? Masih. Adegan itu terekam sempurna, dan seolah sudah ditonton ribuan kali, semua masih jelas, kadang terlalu jelas.

Masih banyak ketakutan yang menghantui saya saat ini, dan kalau dipikir-pikir, mungkin tidak ada hubungannya dengan Papah.

Saya masih takut tertawa. Sejujurnya ini menyiksa karena walau semua tes psikologi berkata saya introvert, pada dasarnya tertawa adalah adiksi yang belum pernah saya temukan obatnya. Saya masih takut terlalu bahagia. Hidup saya saat ini dipenuhi rasa curiga, dan sebagai orang beriman, ini salah. Lha gimana enggak, ada kejadian bagus sedikit, saya langsung bertanya-tanya:

“Mau ada apa lagi, nih? Kok bikin hepi banget? Mau digimanain lagi nih gue?”

Curigaan kok sama Tuhan. Asmara, kok kamu jadi gini amat? Mana percayanya? Mana imannya?

Nggak tahu.

Lalu saya jadi super cengeng.

Elah, nonton anjing beranak di feed FB, nangis. Lihat anak kecil lari pegang balon, nangis. Laper, mau pesen GoFood nggak dapet-dapet driver, nangis (iya ini karena laper, but still). Mau jadi apa hidupmu, Asmara?

Telek banget lah bilang bolak-balik ke diri sendiri, “Jangan cengeng, kasihan Mamah kan kalau lihat kamu sedih terus. Yang kuat, buat Mamah.” Who am I kidding, I think she’s handling this way better than me. Or hiding this better than me. Embuh. Do I want to know? No. I should, but no. Not now.

Katanya akan ada serangan-serangan sedih yang luar biasa tanpa kita tahu sebabnya. Dan serangan ini bisa muncul di mana saja, kapan saja. Sejauh ini, Puji Tuhan, munculnya di momen-momen private aja. Paling sering di mobil, di tengah kemacetan. Kasihan Mas Yono, supir tersayang, karena dia pasti awkward denger saya mimbik-mimbik bahkan sampe gero-gero sendirian di bangku belakang macem anak kecil minta balon nggak dikasih.

Cuaca Jakarta juga gak dukung, sih. Kenapa coba hujan terus begini. Kenapa coba mesti macet lama-lama di jalanan kayak gini? (Iya, ini ngetik di Grab Car menuju kantor, dan saya sungguh khawatir air mata akan jatuh lagi padahal gak bawa tisu dan mas Grabnya nggak tipe yang nyediain tisu gitu walau mobilnya bersih sekali)

“Jangan sedih terus, kasihan Papah kan pasti sedih juga lihat anaknya sedih.”

Tau nggak sih, ini kalimat paling ngeselin yang orang-orang bilang ke saya. Secara logika aja nggak masuk banget. Tiga puluh tujuh tahun kurang sebulan saya hidup sama Papah, lalu mesti pisah untuk selama-lamanya. Ya masa nggak boleh sedih?

Lalu pikiran kanak-kanak saya protes keras, “Kalau Papah nggak mau sedih liat saya sedih, kenapa meninggal?”

Tapi sayangnya saya orang dewasa yang katanya beragama, sehingga kalau ngomong begitu kan nanti dikira gila.

Terus saya udah apa untuk mencoba tidak sedih terus?

Mencoba hidup ‘normal’, jelas.

Mencoba bangun pagi setiap hari dan bersikap seolah saya nggak apa-apa, kerja seperti biasa karena ya harus bayar tagihan dan cicilan. Yang saya rasakan apa? Pengen tidur terus, nggak pengen ngapa-ngapain. Eh pengen deng, pengen beli kanvas besar, lalu bikin gambar monster. Monster yang bikin saya kayak gini.

Mungkin jadinya nanti foto diri sendiri. Nggak taulah.

Tapi angan-angan ajalah itu. Cita-cita kok beli kanvas. Nggambar di kertas aja saya nggak napsu. Angkat pensil bawaannya pengen banting karena nggak ada inspirasi. Nyoba ngewarnain pake kuas jadinya jelek banget. Forget a huge-ass canvas, I can’t even draw properly on paper.

Terus nulis ini gunanya apa?

Saya cuma lagi ngetes aja, benar gak sih kalau kesedihan ditulis akan sedikit berkurang? Dan sampai paragraf ini, kok enggak. Menolongkah kalau saya share di social media? Banyak pukpuk yang akan datang, banyak kalimat-kalimat penghiburan yang akan saya terima. Tapi apakah cukup? Sepertinya bisa bikin saya bangun pagi dan kerja tandanya cukup sih, walau pagi ini rasanya tetap nggak enak banget. Kirain minggu baru artinya semangat baru seperti biasa. Ini masih begini bahkan rasanya memburuk.

PMS kali, kamu?

Ah fuck PMS lah, itu hanya alasan yang digunakan perempuan agar dimengerti marah-marah dan sedihnya. Saya nggak perlu dimengerti kali ini.

Penakut kamu, Asmara.

One of my worst nightmares came true, of course I am deathly scared of anything remotely close to losing those I love.

Nov 28, 2016.

Dialog dengan diri sendiri ditengah kemacetan, semoga masih dalam batas waras. 

6 comments on “Karena Hujan Pagi Ini

  1. -

    Mba tidak gila ataupun penakut, mempertanyakan setelah kehilangan itu adalah hal yang wajar. Semua orang pasti mengalami. Cepat atau lambat melalui, itu perkara lain.
    Healing is a process and it may takes long time. Tapi, saat berada dalam proses itu, berhati-hatilah untuk tidak mengabaikan mereka yang sayang dan membutuhkan senyummu. Anakmu, misalnya.

  2. -

    dealing with losing really close to our heart is creepy right. like you can’t even recognize yourself. the agony is swallowing your sanity. I salute your bravery to admit that you’re still in pain and still battle with the wound inside your heart.
    Don’t forget to do reality check once in a while. Talk with your husband, cuddling with your kids, going out with friends, or anything that you used to cherish back then.
    Good luck to reinvent yourself again Mbak Miund.
    May the universe protect you through this tough journey.
    Amin.
    🙂

  3. -

    Your life would never be the same after losing a parent.
    Been there, done that.
    What can you do ?
    You move on.

    You are your dad’s daughter, but you are also someone’s mom, someone’s wife.
    Mourn the deceased, but be there for the living.

    “my feet will want to walk to where you are sleeping but I shall go on living.”
    ? Pablo Neruda

    no idea Pablo Neruda ini sapa 🙂

  4. -

    Makasih, Und.
    Aku lagi butuh banget tulisan-tulisan seperti ini. Menulis karena ingin menulis, tanpa embel-embel pesenan dari sponsor.
    Kangen masa-masa blog dan linimasa adalah suara hati yang murni, tawa, canda, cinta.
    Makasih, Und.

  5. -

    Und, cuma lu sendiri loh yang bisa bangkit dari keterpurukan lu. Caranya ya terserah mau gimana. Mungkin buat orang lain it works, buat lu ngga, tapi biar bagaimanapun you have to find a way out.

    Gue pernah cerita di blog kan soal mama gue, yang sampai depresi akut. Sampai udah belasan tahun begini juga belum 100 persen pulih (gue yakin nggak akan bisa 100 persen sih), itu karena dirinya sendiri juga berputar-putar dan menyiksa diri dengan kemurungannya itu. Sekarang sudah mendingan dikit, setelah dia sadar kalau sebenernya bersedih terlalu lama itu nggak bisa mengubah keadaan sama sekali, dan semuanya itu mmg kudu dimulai dari diri sendiri.

  6. -

    Turut berduka cita yang sangat dalam Miund. Baru mampir lagi. Sering baca cerita tentang papah dulu waktu masih ngeblog jadi terasa dekat. Peluk Miund

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *