Demam Berdarah Dengue: Pengalaman Sangat Tidak Menyenangkan

Ada yang pernah kena Demam Berdarah Dengue atau DBD?

Saya pernah, dan enggak mau lagi.

Kenapa? Karena jujur aja, saya belum pernah merasakan sakit sesakit dan se-menyiksa DBD. Sore itu saya sedang berhadapan dengan deadline yang mendesak karena malamnya tim kami di kantor akan meluncurkan produk baru. Sekitar pukul dua siang, mendadak saya merasa kedinginan padahal pagi harinya masih baik-baik saja.

Rasa kedinginan dan demam nggak enak itu berlanjut dan tambah parah di sore hari. Karena udah nggak bisa mikir, akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Seiring perjalanan pulang, tiba-tiba seluruh badan terasa sakit. Sakitnya seperti pegal tapi nggak habis-habis dan nyeri sampai ke tulang dan persendian. Rasanya kesenggol aja pengen teriak saking sakitnya.

Semalaman itu saya demam tinggi, 39 derajat. Nggak tahan, saya ke rumah sakit tapi disuruh pulang lagi ketika tahu baru hari pertama demam dan tes darah di lab tidak menunjukkan keanehan. Ya karena virus dengue belum bisa dideteksi sebelum tiga hari, kata dokternya. Oke, pulanglah saya dengan dibekali obat penurun panas.

Keesokan harinya, nafsu makan saya hilang total, karena bayangkan saja, untuk minum air aja sulit karena perut terasa mual sekali. Hampir dua hari penuh setelahnya saya cuma makan sepotong roti, itu pun muntah dan hasilnya ya perut kosong dan nyaris dehidrasi karena minum pun rasanya sulit.

Saya ke rumah sakit dihari ke-3 dan sesuai dugaan, trombosit saya tercatat hanya 60.000. Langsung dirawat inap selama 4 hari.  Titik terendah trombosit saya adalah 15.000. Saat itu dokter sampai bilang kalau sampai turun di bawah 10.000, maka saya harus transfusi darah. Beliau juga mewanti-wanti agar saya tidak sikat gigi, tidak (maaf) ngupil, atau mengorek-orek luka di jari, misalnya, untuk menghindari pendarahan. Karena jika terjadi pendarahan, bisa fatal akibatnya. 

Terus saya mesti apa? Istirahat, minum yang banyak, jangan banyak bergerak. Sounds simple tapi kenyataannya bahkan buat orang yang hobi leyeh-leyeh kayak saya, istirahat di saat sakit itu nggak enak banget.

Puji Tuhan akhirnya trombosit saya naik juga, sesuai dengan pola pelana kuda demam berdarah dengue. Saya pun diperbolehkan pulang di hari ke-4, dalam kondisi yang masih lemas luar biasa. Saat menimbang berat badan, saya ternyata kehilangan 6 kilogram. Enggak, itu nggak baik banget lho, jadi walau ‘kurus’, tampilan saya sungguh tidak sehat. Mata celong, muka pucat dan recoverynya sampai dua minggu lebih.

Lalu benarkah saya sudah terlepas dari kemungkinan kena DBD sepenuhnya? Nope. Masih ada tiga kemungkinan lagi untuk terkena demam berdarah karena kalo saya lihat di www.denguemissionbuzz.org/id, ada 4 strain virus Dengue yang berbeda yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3 dan DENV-4. Kalo boleh saya kutip di sini, seseorang yang terinfeksi oleh satu strain virus Dengue, tidak akan memiliki kekebalan jangka panjang terhadap 3 strain virus Dengue lainnya.

Ngeri banget, bukan?

Dengue ini makin gila lho penyebarannya, karena dalam 50 tahun terakhir, Dengue sudah tersebar dari beberapa negara hingga menjadi endemik di 128 negara, tempat 4 miliar penduduk tinggal. Dan peningkatan kasus dengue sudah sebesar 30 kali lipat.

Inget gak sih jaman dulu di TVRI ada iklan demam berdarah yang digambarkan penderitanya dari keluarga yang ada di tempat tinggal yang kumuh? Well, that’s not the case anymore. Lingkungan tempat tinggal saya tergolong di daerah non-kumuh dan nyaman, tapi toh kena juga. Karena nyamuk Aedes betina (itu lho, yang ada tanda belang putih di kakinya) terutama nyamuk Aedes aegypti akan terinfeksi ketika dia menghisap darah seseorang yang terinfeksi virus Dengue. Gimana jelasinnya, ya, coba lihat video ini deh biar lebih jelas.

Si nyamuk Aedes ini biasanya cari makan di pagi hari dan sore hari sebelum hari gelap. Perkembangannya pesat banget dibanding manusia (yaiyalah), karena nyamuk Aedes cuma perlu 7 hari untuk jadi dewasa dari tahap telur. Nah berkembangbiaknya di mana? Di genangan air.

Denial 1: alah rumah gue mah gedongan, mana mungkin ada genangan air?

Fact: cek dulu deh, genangan air itu nggak perlu besar macem banjir Jakarta. Kalau suka simpen-simpen barang di gudang, misalnya, lalu si gudang bocor saat hujan yang kita ga tau, mungkin ada genangan air yang tidak kita sadari. Atau suka pelihara bunga di pot? Punya talang air? Coba bersihin karena telur nyamuk seneng banget sama genangan-genangan model begini.

Denial 2: Tapi bener deh rumah gue tuh bersih banget, kering pula, gak mungkin!

Fact: lha kan tadi dibilangin, nyamuk Aedes itu bisa menularkan virus Dengue ketika dia pernah menggigit orang yang terkena DBD. Jadi bisa aja di sekitar kita ada yang DBD, dan nyamuk menularkan dari orang tersebut.

Ribet ya? Terus gimana dong biar nggak ada nyamuk?

Cara paling familiar yang udah dikenal orang banyak adalah pengendalian vektor nyamuk. Nih saya rekap, ya, biar gampang:

  1. Kalo ada wadah air di sekitar rumah, bersihkan dengan teratur biar nyamuk nggak bertelur di sana.
  2. Pengasapan (fogging), dan semprotkan insektisida agar nyamuk dewasa terbasmi.
  3. Kebetulan hobi pelihara ikan? Bagus banget nih, soalnya ikan akan memangsa jentik atau telur nyamuk. Rumah jadi lebih cantik dan perkembangan nyamuk bisa terkendali.

Catatan buat saya pribadi terkait Dengue ini, yang mau saya bagi di sini adalah: jangan pernah remehkan demam. Perhatikan siklus demam dan kalau sampai hari ke-3 masih demam aja dan belum ada perubahan, please, jangan tunggu-tunggu, segera ke rumah sakit terdekat. Terlambat membawa pasien demam berdarah dengue bisa berakibat fatal, lho. Demam Berdarah Dengue bisa menyerang siapa saja mulai dari anak-anak, orang dewasa sampai manula. Yuk saling mengingatkan!

Tulisan ini adalah opini pribadi penulis. Penulisan artikel didukung oleh Sanofi Indonesia

One comment on “Demam Berdarah Dengue: Pengalaman Sangat Tidak Menyenangkan

  1. -

    Ya ampun Mbak Miund. Baru tahu kalau pernah kena belum tentu kebal sama varian lainnya. Semoga sehat selalu ya Mbak. Terimakasih banyak informasinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *