Tentang Menjadi Cantik

Cantik? Eh, jadi perempuan itu yang penting pinter dan baik hati. Nanti juga inner beauty-nya kelihatan.  Yang paling penting dari diri seorang perempuan itu inner beauty. Percuma cantik mukanya kalau nggak cantik hatinya, orang nggak akan respek.  Jadi daripada dandan melulu, lebih baik kamu belajar, karena mereka yang doyan dandan itu SHALLOW, gak bakal jauh langkahnya dalam hidup. They won’t shine.  You will.

Sounds like what I would tell my daughter? Yes.  But is it really what I want to tell her?

From what I’ve been through in my teenage years, no.

Sekarang di usia yang sudah mendekati 40 (Iya, masih 3 tahunan lagi, but still.), saya bisa mengatakan bahwa semua hal yang disuntikkan ke benak saya itu banyak benarnya, tetapi banyak pula membuat saya merasa amat inferior.  Nggak enak, nggak hepi dan banyak bertanya-tanya namun nggak berani.  Kenapa?  Mari kita breakdown:

Jadi perempuan itu yang penting pinter dan baik hati.  Nanti juga inner beauty-nya kelihatan.

Pinter, baik hati akan menyebabkan munculnya inner beauty.  Sorry, as idealistic as this might sound, I have to say NO WAY, ARE YOU KIDDING ME?  Flashback kelas 3 SMP, acara ulang tahun teman. Ada acara joged baris (iya, jaman itu memang joged baris yang hits), semua perempuan yang pakai lipstik dan makeup udah dapet pasangan.  Saya belom, tapi nonchalant aja, duduk di pojokan minum Coca Cola sampe kembung.  Di kepala: ya emang cowok itu bego, yang dipilih cewek-cewek tolol yang pake make-up doang.  Mereka nggak pinter, nggak baik juga, dan ih amit-amit, gak cantik!

Padahal diantara yang sedang seru joged baris itu ada si cantik A yang juara kelas tapi tetap pakai makeup dan dikerubungi cowok-cowok karena dia baik dan ramah.  Si B juga, nggak juara kelas tapi jago banget fisikanya, dibilang baik hati ya baiklah wong anaknya lucu banget.  Cantik?  Pastinya, wong cuma pakai lipstik sepulas aja bikin saya jatuh iri dan cowok-cowok jatuh cinta.

Terus patah dong teori bahwa mereka yang pakai make-up itu cantik tapi tolol dan nggak baik?  Jelas patah berkeping-keping di kepala saya, tapi apa saya berani mengutarakan kepatahan itu dan kemudian pakai make-up terus bergabung dengan geng cewek-cewek manis manja pandai itu?  Enggak.  Kenapa?  Kadung gengsi ngebanggain inner beauty.

Next: Percuma cantik mukanya kalau nggak cantik hatinya. Benarkah?

Flashback: di club. Yang muka rata-rata, dandanan sekadarnya mah mesti antri kalo gak temenan sama bouncernya.  Kalo cantik, penampilan luar biasa, langsung masuk dapet meja pula.  Do they care about cantik hatinya?  Oh come on.

Next: Daripada dandan melulu lebih baik kamu belajar. Ini bener, karena dandan tanpa tujuan juga selain buang-buang waktu, namanya buang-buang uang.  Mending belajar, dapetin gelar sarjana dengan cara-cara yang benar, terus cari kerjaan yang bagus biar bisa beli modal kece yang berkualitas biar muka nggak jerawatan. Face it, ada rupa ada harga.  Emang aturannya begini kok hidup.

Tapi benarkah mereka yang doyan dandan itu SHALLOW dan langkahnya nggak bakal jauh dalam hidup?  That they won’t shine, but you and your untouched face will?  Who are we to decide someone’s future? God?

Saya sungguh sudah merasa ini saatnya saya dan para orangtua bangun dari tidur ideal dan mulai mengajarkan hal-hal yang realistis pada anak-anaknya.  Realita itu nggak enak banget, sering pahit, kadang manis tapi ada maunya, suka bikin hati mendadak acak-acakan.  Tapi ya nggak apa-apa, itu PR kita sih, kayaknya.  Menurut saya, anak mesti tahu kalau sekolah dan otak memang prioritas yang utama, tapi penampilan dan cara memandang diri sendiri pun penting adanya.  Yakin nih, mau membiarkan anak hanyut dalam ilusi inner beauty sementara nantinya akan dihadapkan pada kenyataan bahwa outer beauty juga punya peran dalam kehidupan?  Enggak kan, ya?

Karena duduk di pojokan nunggu diajak dansa sambil minum soda sampai kembung itu sungguh nggak enak, apalagi sambil mempraktekkan self-defense mechanism yaitu bolak-balik membatin “inner beauty lebih penting lah, bego aja semua yang ada di sini.”  Nggak kok semua yang ada di situ nggak bego. Cantik, tapi nggak bego.

Lalu apa yang akan saya bilang ke anak saya nanti soal menjadi cantik tanpa menjadi bego ini?  Well maybe pretty much this post, with a more child-friendly language.

So, were you a late bloomer like myself, an anti-beauty activist or a make-up addict who thinks inner beauty is a unicorn?  Share yuk 😉

11 comments on “Tentang Menjadi Cantik

  1. -

    Waaaaah tulisannya mencerahkan pemikiran aku. Aku juga suka banget kalo anak aku perempuan yang umurnya 5 tahun sekarang, tampil cantik. Setidaknya gak kumel, baju rapih, rambut rapih dan sering-sering aku suruh senyum biar keliatan manis(?)

    Tapi kemudian aku mikir, Ini anak gue, beneran mau gue ajarin kalo cantik mesti dari luar doang? Cantik mesti dandan rapi dan segala macem? As i said ke Una (si cantiknya aku) cantik itu dimulai dari hati kak, kalo kakak baik, kakak pasti keliatan cantik..

    Tapi memang semua orang, termasuk diri aku sendiri juga yaaa. Sukanya ngeliatain orang yang berparas rupawan. Tapi kesopanan mah tetep ke semua orang.

    At the end, mungkin aku bakal ngajarin anak aku untuk merawat diri juga. Sekolah dan manner itu nomer 1! Tapi cantik dan merawat diri juga perlu. Hihi. Thankies sharenya Ka Miund~

  2. - Post author

    Yakin Una pasti jadi anak yang cantik hatinya dan cantik penampilannya. Semoga semua ibu nggak misleading lagi soal being beautiful. Karena aku sering heran betapa banyak orang yang menganggap makeup itu menjijikkan. Dibilangin apa saat dia kecil dulu sehingga bisa begitu? Kalau menerima diri sendiri saja sulit, bagaimana menerima orang lain? Ya nggak sih ?

  3. -

    Mba Miuuunnddd astaga ini aku banget. Dari kecil dicekokin begitu. Efeknya self-loathing dan jd denial setiap ngeliat yg cantik. Setuju mba, anak harus diajakin merawat diri krn itu bagian dari mensyukuri apa yg Tuhan kasih, dan jadi cantik Itu bukan berarti jadi shallow, jd mean, dan ga pinter. Someday kalau punya anak (amin), insya Allah akan didik anak seperti tulisan di atas 🙂 Thanks mbaaaa

  4. -

    Wow, tulisannya keren. Kalo aku dulu emang kebetulan Mama bukan orang yang dandan, jadi akunya juga gak pernah diajarin dandan. Malah akhir-akhir ini yang baru mulai dandan, itu juga karena temen kantor yang lebih muda pada maksain hahaha. Katanya biar gak kucel haha. Dan baru mulai dandan jadinya hehe. Telat banget dimana umur udah mulai mendekati 40 juga 🙂 Sepertinya nanti kalo aku punya anak, aku akan mencontek cara pemikiranmu Und hehe. Thanks sharingnya.

  5. -

    Lama ga baca blog-nya Kak Miund, balik dapat tulisan keren begini.
    Aku tumbuh sebagai perempuan yang percaya bahwa menjadi pintar itu keren, dan kadang juga punya pikiran kalau yang cantik doang itu bego. Tapi kemudian, sahabatku yang cantik lama-lama sering baca buku bahasa Inggris gitu, so she become smarter than me!
    Sekarang sih saya sudah S2 dan jadinya punya ‘wawasan’ tersendiri tentang cantik. Ini pendapatku: Arti Make Up Bagi Saya
    Thanks for the insight, Kak! 🙂

  6. -

    Cantik dalem plus luar jadi nilai yang pluss…

  7. -

    Hello. Gw mulai belajar dandan pas SMA. Gak pernah jd perempuan yg super girly2 dressy2 karena mungkin pengaruh nyokap gak gitu juga, nyokap lebih fokus untuk taste ke fashion sih, kalo kita pake baju kudu bener mix and match-nya, kita harus dress sesuai occasion, krn kita harus punya good manner & respect others, ya gitu2 aja sik. Nyokap dan bokap juga sama dulu mengedepankan “isi kepala” dan “karakter”. Tapi gak underestimate mereka yang suka dandan juga.Jadi gw juga santai aja sih growing up, ga merasa temen2 gw yang dandan superficial n shallow, ga merasa yang gak dandan jadi gak kelas ato gak laku. Gw juga gak jadi minder kalo cowo ngelirik temen gw yang cantik dan dandan, karena kebeneran cowo2 itu ga selera gw haha.but i loved to dress up for the events and stuff.

    Gw pikir mencekoki tentang inner beauty ke anak2 tidak salah karena “beauty” yang dikonstruksikan oleh media in general (dan jadi perspektif publik) itu ya perempuan dandan, langsing, cantik, putih, semampai, kaki jenjang, rambut panjang.(sekarang sebagian media udah sadar ga bisa begitu dgn mulai pake model yg gak skinny, ganti kata2 slim/thin / skinny dgn kata2 yang lebih ke arah healthy, tapi kan baru sedikit yang begitu dan sebagian besar dari kita udah tercekoki ama perspektif lama) Tapi mungkin mencekokinya dgn nada lebih positif tanpa mengatakan mereka yang make up-an itu shallow. Dandan, make up dll juga disesuaikan dgn usia anak2, lebih baik fokus ke perawatan tubuh/muka yang proper sejak remaja utk kesehatan, bukan karena secara fisik mereka kurang cantik jadi harus dandan atau jangan sampe mereka merasa kalo mereka ga dandan mereka jadi gak bisa dapet cowok atau gak bisa gaul. Juga supaya mereka ga merasa itu hal yang amat sangat penting sekali, tapi melihatnya seimbang aja, that it’s okay to love dressing up and stuff, but there are other things that actually much more important and matters. Dan kalo mereka ga pgn dandan, it’s okay too, ga harus jadi merasa jelek juga 🙂

  8. -

    Eh cowok komen gapapa kan Mbak Miund ya? Setuju banget ama postingan ini. Jaman dulu di Surabaya sana kalo dandan itu rasanya gimanaaa gitu. Nah semakin ke sini semakin banyak contoh seperti yang ditulis di artikelnya. Saya jadi terinspirasi buat ajarin hal-hal yang realistis aja ke anak.

  9. -

    Menjadi cantik itu apa yah..tampil natural n apa adanya..plus kecerdasan, banyak yg pinter tp gitu deh hehe..aku suka deh cerita di blognya..ada kerinduan saat nengok blognya. Maacih ya

  10. -

    I believe I’m not that pretty, I dont wear make-up nor branded outfit. Tapi yaudalahya. Yg penting gw lucu…. *maksa* *saking desperatenya*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *