Apa yang salah dengan kata-kata indah?

Ini semua berawal dari saya yang dengerin Payung Teduh terus sebulan belakangan.  Grup keroncong modern ini sungguh mempesona saya sejak pertama kali kemunculannya beberapa tahun lalu.  Nah terus kenapa dong baru dengerin lagi?

Entahlah, tau-tau suatu hari dalam mode shuffle, iTunes saya memainkan lagu “Angin Pujaan Hujan”.  Ih sumpah ya, mana dengerinnya pake earphones kan, jadi semakin jelas terdengar liriknya.  Sederhana banget, cuma gini:

Datang dari mimpi semalam
Bulan bundar bermandikan sejuta cahaya
Di langit yang merah, ranum seperti anggur
Wajahmu membuai mimpiku

Sang pujaan tak juga datang
Angin berhembus bercabang
Rinduku berbuah lara uh lara

Lalu repeat aja terus bagian refrainnya. Ini aja udah mendobrak ‘aturan’. Mana ada sih dari verse 1 langsung refrain, boro-boro verse 2 lalu bridge? Hahaha! Ada siiih, tapi kan gak biasa aja.

Terus saya mendengarkan lagi lagu lain yang setelahnya saya repeat dan akhirnya hapal di luar kepala, macem lagunya Samsons “Aku Lelaki” yang saya hapal gara-gara kudu nontonin 100 orang lebih nyanyi lagu yang sama saat audisi Indonesian Idol tahun 2005 (eh apa 2006 ya). Nah ini lagu sialan yang bikin saya dengerin bolak-balik itu:

Ini liriknya:

Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu

Aku ingin berdua denganmu
Diantara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu
Tapi aku hanya melihat keresahanmu

Aku menunggu dengan sabar
Diatas sini melayang-layang
Tergoyang angin , menantikan tubuh itu

Jujur saya nggak ngerti lagu ini maksudnya apa.  Yang tersurat jelas, pengen berduaan sama siapa pun yang dia maksud.  Tapi, coba liat verse terakhir: “Aku menunggu dengan sabar, di atas sini melayang-layang, tergoyang angin menantikan tubuh itu.” Kok saya terusik ya mendengar bagian ini.  Ini maksudnya dia udah nggak fana lagi atau bagaimana? Dan makanya dia nggak bisa lihat mata kekasihnya, sehingga kekasihnya resah padahal dia masih ingin berdua?

Jreng.

Yang namanya lagu, mungkin aja sih lirik yang ditulis ya untuk mengisi kekosongan padahal masih ada melodi tersisa, saya nggak tau karena saya bukan musisi.  Tetapi jika iya, wow, kok terpikir bikin kalimat seperti itu?

Itu contoh yang ‘mengganggu’ otak.  Yang mengusik hati pun ada.  Lagu apa lagi kalau bukan yang ini:

Ini liriknya:

Tak terasa gelap pun jatuh
Diujung malam menuju pagi yang dingin
Hanya ada sedikit bintang malam ini
Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya

Lalu mataku merasa malu
Semakin dalam ia malu kali ini
Kadang juga ia takut
Tatkala harus berpapasan ditengah pelariannya

Di malam hari
Menuju pagi
Sedikit cemas
Banyak rindunya

Bagian yang bikin hati meleleh luar biasa, jelas yang ini: “Hanya ada sedikit bintang malam ini. Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya.” Jujur, straightforward, dan siapapun yang menerima kata-kata ini adalah orang yang sangat beruntung. Denger dari Rahne sih katanya lagu ini ditujukan untuk istri dan anak-anak si penyanyi, Mas Is. Awww so sweet ya?

Tapi ada bagian lain dari lagu ini yang menjadi perhatian saya. Coba lihat verse 2: “Lalu mataku merasa malu, semakin dalam ia malu kali ini. Kadang juga ia takut tatkala harus berpapasan ditengah pelariannya.” Boleh nggak saya interpretasi dengan: apakah dia rindu karena lama meninggalkan kekasihnya dan merasa malu tiap bertemu? Karena. Masih. Cinta?

Bagian “sedikit cemas banyak rindunya” pun menarik. Kenapa dia nggak cemas banget dan malah rindu? Yakinkah dia akan tetap diterima walau sudah lama meninggalkan, jika kembali?

IH GILA SENENG YAAA NEBAK-NEBAK BEGINI!

Siang ini saya ngetwit soal mengapa saya melihat ada ketakutan dikatain gombal kalau bikin puisi. Maaf, gombal itu jaman saya. Mungkin jaman sekarang istilahnya “galau”. Kenapa ya takut dikatain gombal dan galau?

Pertama kali saya suka menulis, saya sering menulis puisi. Waktu itu tahun 2001, di milis Cybersastra. Kenapa di milis itu? Karena nggak ada satu pun teman saya yang bergabung, jadi aman dari hinaan “ih gombal lu”. Yang ada adalah orang-orang serupa yang suka menulis sajak, lalu saya nikmati sajak mereka sambil menebak-nebak, sedang merasakan apa mereka saat menuliskan kata-kata indah itu.

Lalu saya menulis, menulis, menulis dan sampai sekarang saya nggak ngerti kenapa saya meninggalkan puisi begitu saja seperti baju kotor yang sudah nggak enak dipakai, dilihat dan disimpan aja jadinya. Nggak mau dibuang tapi mau dipakai lagi kok macem takut.

Tapi takut apa??? *emosi*

Yaudah itu aja sih keluh kesah siang ini.

Nih, biar afdol, saya lempar kumpulan sajak saya yang ternyata masih disimpen entah oleh siapa di dunia maya ini. Silakan, dan katain aja gombal dan galau.

Because at this point, I don’t care. I just want to start writing poems again.

5 comments on “Apa yang salah dengan kata-kata indah?

  1. -

    Payung teduh efeknya dalem banget kesitu ya mbak ??
    Sampe keluaaarrr looh kumpulan sajaknya!
    Indeed, aku juga suka nebak2 sambil ngelamun bego, terutama sambil nyetir..

  2. - Post author

    ASLI DALEM ABIIIISSSS LOLOLOL

  3. -

    daaaaan sekarang langsung ketagihan ini payung teduh. Ya ampun! Enak bener dikupingin Mbak Miund. Sebelumnya denger nama payung teduh kok (sok) puitis banget sih, jadi belom-belom nyari. Eh dirimu sebut ada di itunes. Langsung suka! Btw puisi-puisinya bikin inget jaman multiply, dulu sehari sekali berpuisi, ada yang romantis ada yang sedih, tapi ilang tak terselamatkan. 🙁

  4. - Post author

    Daniiiiii iyakaaaannnnn enak kaaannn 😀

    aku ga mainan multiply sih, tapi suka baca2 multiply orang hehehehe 😀 puisi is the best. sayang sekarang terlalu sibuk jadi boro2 banget deh bikin 🙁 moodnya mesti pas soalnya ya gak 🙂

  5. -

    teteh, ijk suka yang resah..walaupun agak2 meirnding kalo ndengerin saat sepi karena menurut kabar yang beredar ini agak2 horor kisahnya teh..tapi tetep asik ah payung teduh heheh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *