Dari Sudut Otak, Hari Ini

Sejak dulu saya selalu senang bermain-main dengan logika dan norma di kepala saya. Main-mainnya gimana? Ya melontarkan pertanyaan yang bagi sebagian besar orang mungkin tabu dan jangankan ditanyakan, kepikir aja amit-amit gak boleh amat. Melontarkannya pun cukup sampe ujung mulut, gak berani nanya beneran takut digebuk massa. Misalnya kaya apa? Oke oke saya tulis deh. Jangan dipukulin lah tapi ya. Nggak perlu jawaban juga kok.

Contoh paling gampang: mending mana, ngebolehin gay marriage atau ngebolehin pasangan gay angkat anak walau mereka gak legally married? Kan anak banyak yang terlantar, dan pasangan gay juga banyak yang gak bisa menikah karena gak legal di Indonesia sementara mereka layaknya pasangan hetero pun pengen punya anak. Resources punya, kasih sayang ortu membuncah, tapi karena lifestyle berbeda, apakah perlu dilarang mengangkat anak?

Tuh kan langsung pada ngerenyit sambil “amit-amit jabang bayi jangan sampe anak cucu gue gay.” dan diem-diem ketok kayu dengan gerakan ampir gak keliatan biar rekan kubikel sebelah gak liat.

Contoh lain: Kalo kamu ada di posisi yang memungkinkan kamu korupsi (baca: mengambil sedikit keuntungan dari pekerjaan kamu yang seharusnya milik perusahaan), apakah kamu akan korupsi? Hey, boleh aja menggeleng kuat-kuat sampe leher mau copot sambil nyebut berbagai nama yang manusia ciptakan untuk Tuhan, tapi coba bayangkan dulu. Gajimu cukup untuk hidup sehari-hari, secara ekonomi tidak berkekurangan, eh tau-tau ada kesempatan dapat ekstra. Anakmu pengen sekolah teknik di MIT, itu Amerika, lho. Jauh. Kamu pengen yang terbaik untuk anakmu, kan?

Di sisi lain, mengambil sedikit dari keuntungan perusahaan kayaknya harmless ah. Masa, dari pendapatan usaha yang triliunan itu enggak boleh sih ambil barang sepuluh juta aja. Toh proyeknya kemarin kita juga yang ngerjain. Eh sori, mungkin ini bukan korupsi, tapi ambil komisi dari pemberi proyek. Lha kan ini bikin sama-sama hepi: yang ngasih proyek ada yang bantu, perusahaan ada kerjaan, dapet duit, dan kita sebagai yang bantuin ngegolin proyek ya masa gak ada uang capeknya.

Terus perusahaan diaudit, terus kita ketauan ngambil komisi, dan boom, kita dicap sebagai koruptor.

Kalau udah begini, mana yang benar? Apakah jadi orang tua yang pengen anaknya dapet segala hal yang terbaik itu salah? Dan apakah jadi pekerja yang nggak nyolong tapi dikasih ‘uang ekstra’ demi ngegolin proyek ke perusahaan juga salah? Apakah sebenarnya ini hanya salah kalau kita ada di posisi penonton karena kita dipaksa media menyaksikan ini semua tanpa kecipratan seketip dua ketip pun dari semua transaksi milyaran yang terjadi?

Hayoooo… mau lihat dari sisi siapa?

Sakit perut, ya, baca pemaparan di atas? Iya, saya senang berdiskusi soal etika, moral dan lawan-lawannya, karena kalau dilihat lebih jeli lagi, sebenarnya semua hal itu relatif, lho. Si A membunuh. Apakah si A itu kriminal? Iya. Apa latar belakang yang membuat si A membunuh? Oh ternyata ortunya suka menyiksa dia saat kecil, dan ketika orang yang baru kenal dengannya itu menipu dia, A marah lalu kehilangan kendali dan terjadilah pembunuhan itu. Apakah si A salah? Tergantung dilihat dari mana. Salah karena melanggar hukum, tapi tidak salah-salah amat karena latar belakangnya ya memang nggak kondusif dan nggak bikin dia jadi manusia yang positif. Lalu apa dia perlu dihukum atau lebih perlu terapi? Kalau dihukum, apakah dia akan jera? Kalau jera, apakah selepas dihukum nanti dia mudah kembali ke masyarakat? Apakah kalo nggak diterima masyarakat nanti dia akan kembali ke violent nature-nya dan membuat kekejian yang lebih parah?

Wew. Berat amat ya pemikiran siang ini.

Manusia memang mahluk yang kompleks. Untuk itu saya selalu angkat topi (ok, mungkin bungkuk hormat aja karena kalo pake topi, pipi ini tambah keliatan tembem) sama teman-teman saya yang mempelajari ilmu psikologi. Bagaimana kalian bisa mempelajari cara berpikir orang lain, saya nggak akan pernah tau, karena saya sendiri mengalami kesulitan memahami pemikiran sendiri. Standing ovation dulu yuk buat ilmu Psikologi dan dedengkot-dedengkotnya seperti opa Freud dan lain-lain.

Satu hal yang mengganggu saya akhir-akhir ini adalah betapa banyaknya kebohongan, kepalsuan dan manipulasi yang beredar di sekitar kita, yang sebenarnya kita tau kok itu nggak bener dan nggak masuk akal… tapi kita iyain aja karena: 1. Males ribut, 2. Biar aja bukan dosa kita ini, atau 3. hah emang ada apa sih? <— biasanya yang begini idupnya lebih tenang, damai dan nggak terganggu sosial media :))

Kemudian pertanyaannya:

Apakah kita sebagai masyarakat intelek harus diem aja menghadapi hal-hal yang nggak bener karena kan katanya ‘ih gengsi, jangan turun ke level mereka dengan cari ribut.’ Atau haruskah kita mengkonfrontasi segala ketidakbenaran ini dan berjuang mati-matian macem bung Tomo, Panglima Besar Sudirman dan sebagainya di masa lalu? Atau haruskah kita diplomatis? Kalo diplomatis, klise nggak? Terus bagaimana caranya diplomatis? Atau apatis aja? Seraaahhhh media mau bilang apa… serahhhhh kenyataannya mau gimana, yang penting gue makan tiap hari, kenyang, punya rumah, anak makan, bisa sekolah.

 

Harus jadi manusia sosial atau private? Kapan harus bicara, kapan harus diam? Kapan harus bertindak, kapan harus menunggu?

 

Seperti mereka yang berkoar “Sinetron membodohi bangsa! Stop sinetron!” versus mereka yang sama jijiknya sama sinetron tapi lebih memilih untuk diem aja dan nggak ngasih anaknya nonton TV lokal. Mending mana, capek panas-panasan demo atau telepon tv kabel dari ruangan ber-AC di kantor, minta pasangin di rumah dan menyelesaikan masalah secara efektif, efisien tapi gak kedengaran sama siapa-siapa?

 

Sama seperti kejijikan masyarakat sama para koruptor, kolaborator kriminal yang digaung-gaungkan di televisi, para pengamat yang kayaknya paham banget sama masalah-masalah negara tapi sama sekali nggak tau bahwa orang-orang yang mereka hot banget omongin itu, anak cucunya santai aja di kepulauan eksotis… nggak mikir laaah lagi diomongin senegara. Kalaupun tau kabar berita, well, lebih enak nangis di jet pribadi daripada di becak, bukan? Mending mana, jadi pengamat koar-koar tanpa hasil karena tentu penyidikan korupsi mah gak sebentar yaaah… atau rame aja sendiri di grup whatsapp temen-temen sepermainan mengamati kaum super kaya ini pada liburan setiap hari di saat kita didera lembur. Terus ketawa-ketawa karena khayalan dan becandaan lebih menghibur dan gak bikin stres ketimbang marah-marah di acara talkshow TV. Nggak ada yang nonton sih kalo di grup whatsapp, tapi abis bergunjing, hati ini hepi, hubungan pertemanan pun meningkat kualitasnya, dan kita jadi tau bahwa dari sekian juta manusia di dunia ini, seenggaknya ada lah sepuluhan orang yang bener-bener care sama kita.

 

Eh, benarkah sepuluhan orang ini care semua terhadap kamu? NO. In fact, punya satu yang bener-bener peduli kita aja sukur, ya kaan? Peduli itu beda sama tau. Peduli itu: “Kamu punya masalah sama orang itu? Nih tak kirimin tukang pukul.” Tau itu: “Kamu punya masalah sama orang itu? Oo.” dan nggak lama kemudian, topik pembicaraan toh akan berganti lagi, apalagi kalo ada objek gosip baru atau ol shop baru. Nggak perlu malu, manusiawi aja kok. Paling sakit hati dikit. Dikit.

 

Kok jadi mblandrang, ya? Maaf. Kembali ke pertanyaan utama yang sejatinya membuat saya menulis lagi setelah sekian lama pura-pura nggak suka menulis.

 

Mana yang kamu dahulukan? Akal sehat, norma atau etika?
Mana yang kamu akan lakukan? Bertindak, diam demi gengsi, atau mendingan enggak tau apa-apa. Ignorance is bliss.

 

Jangan tanya ‘dalam hal apa dulu?’ karena pertanyaan saya nggak relatif, pertanyaan saya mentah.

 

Sementah perasaan saya hari ini.

7 comments on “Dari Sudut Otak, Hari Ini

  1. -

    Iya mbak, aku setuju, kadang kita harus cari tahu juga penyebab seseorang tuh melakukan sesuatu. Misalnya, ada ibu yg koq kayaknya ga care sama anak2nya, yah mungkin krn dulu dia dibesarkan jg dgn cara seperti itu. Aku biasanya akan diam aja sih, kalo aku confrontir berarti krn aku masih care sama orangnya.

  2. -

    Kadang aku juga kepikiran sama hal yang sama loh Mba Miund.
    But in the end I usually chose ‘ignorance is a bliss’.
    Kadang semakin banyak tau, semakin ikutan pusing, sementara di satu sisi tuh merasa ga berdaya dan ga bisa (atau ga mau repot?) untuk memperjuangkan apa yang benar.
    Tapi kepikiran aja gitu sampe susah tidur (contohnya kalo lagi tau bahwa ternyata ada permainan politik kantor yang super kotor)

    Akhirnya ya udahlah mending ga usah tau. Hidup aja dalam ketenangan dan kedamaian (semu) di dalem tempurung aku.
    😛

  3. - Post author

    Hai Yuni, Olivia, aku relate banget deh sama kalian. Karena biasanya aku pun ada di pihak yang: udahlah diem aja, toh bukan urusan gue.

    Tapi, aku ngeri loh lama2 sama generasi kita dan generasi setelah kita kalo approach seperti ini yang kita lakukan. Nggak tau ya, ini kegelisahan pribadi aja sih, sebenernya. Aku sendiri skrg merasa mesti lebih banyak speak up. Nggak boleh banyak diem, karena rata2 kita diem. kita ga mau ikut campur. While that’s great to some extent… that could be painful too 🙁

    Maaf ya kok jadi kalian ikut galau juga gara2 blog post aku hahaha…

  4. -

    Waahhh kalo mau jujur sih sama Und, aku juga suka bikin pertanyaan yang aneh-aneh gitu, abis suka penasaran aja sendiri. Sebenernya kalo aku suka speak up sih, apalagi kalo aku tau persis masalahnya. Bahkan suka kerajinan ngingetin orang kalo emang mereka bukan salah ya, tapi gak sesuailah sama etika, macem udah tau gak boleh kok ya sengaja dilakuin gitu. Karena dari kecil didikan dari Mama jujur itu harus nomor 1. Tapi itu duluuu banget, kalo sekarang lebih banyak gak mau ikut campur, abis terlalu jujur juga gak semua orang suka, yang ada dimusuhin. Kayak misalnya di kantor nih, aku menerapkan ke diri sendiri selama masih mau terima gajinya ya harus kerja dengan serius, jujur, tapi karena entah saking disiplinnya ato terlalu naif, jadinya satu kantor musuhin dengan cap tukang cari muka. Yang ada sekarang yasudahlah dibawa nyantai aja, gak usah terlalu keliatan kerajinan, tapi kerjaan selalu beres dan tepat waktu aja, dan gak banyak ngomong aja. Eh jadi panjang banget tanggapannya nih, gak tau masih masuk bahasan gak hehehe

  5. -

    Jadi inget mantra yang aku ulang dalam hati berkali-kali tiap lagi di berjibaku di jalan raya, yaitu: “Yang waras ngalah”, jujur emosi (marah) jadi berkurang tapi rasanya jadi kayak mati rasa. Lalu mantra ini pun teraplikasikan ke berbagai aspek kehidupan yang lain.

    Sejujurnya serem sih Mbak.. lama-lama kok saya jadi kayak zombie ya.

  6. -

    Selalu lah ada saat-saat dimana pertanyaan aneh dan ga wajar muncul dibenak kita. kadang mikirnya juga sampe dalem banget.
    Setuju banget sama miund, soal the next generation. Soalnya kalau kita ga ngajarin untuk peduli sama orang lain, makin ke sana akan makin abai. Tapi kayaknya aku memang belum dapet pendekatan yang pas buat anak2 sekarang

  7. -

    Mbaaakk,, salam kenal ya..
    iya mbaak.. aku seringnya ignorance is bliss.
    tapi bener deh jadi galau.. kadang ignorance itu jadi kaya permisif sama yang terjadi ya.. trus semacam ga punya sikap.. pdahal mungkin banyak hal yang bisa berubah kalau kita menyatakan sikap..
    makasih ya mbaak,, entah kenapa rasanya aku ko terinspirasi 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *