Tentang Menginginkan Sesuatu

Akhir-akhir ini ada sebuah hal yang mengganggu saya.

Itu lho, quotes-quotes yang beredar di Path dan social media lainnya… tentang hidup tanpa menginginkan hal-hal yang bersifat keduniawian.  Hidup basic-lah intinya, nggak usah ngarep yang mewah-mewah.  Melepaskan diri dari keinginan-keinginan bersifat materi.

Sungguh dalam hati ingiiin sekali bereaksi seperti ini…

Tapi ndilalah kok ya selalu begini…

Pengen banget loh punya kehidupan yang udahlah nggak usah mikirin apa-apa lagi, nggak pengen apa-apa lagi dan nggak butuh apa-apa lagi. Yang kalo bangun tidur itu bawaannya pengen nyumbang terus ke mana-mana, karena uang berlimpah. Seratus persen sosial, nggak perlu mikir ‘oh bulan depan mesti budgetin ini itu karena ada keperluan ini itu, eh tapi cukup nggak ya, soalnya kan cicilan ini itu belum kebayar. Hmm… mesti bener nih ngitungnya…’. Pengeeen sekali.

Lhooo, katanya ngomongin kehidupan yang udah nggak perlu pengen ini itu kok pengen kehidupan kayak gitu? Intinya masih pengen dong? NAH KAN RIBET? HAHAHAHA!

Jadi, saya ini sejatinya manusia yang masih punya banyaaaak sekali keinginan. Ingin anak sekolah dengan baik, setinggi-tingginya, dan punya dana yang cukup untuk itu. Ingin jadi istri yang baik (ejiye), ingin punya investasi yang menguntungkan, ingin punya sneaker baru setiap bulan, ingin liburan dua kali setahun minimal, ingin renovasi rumah, ingin sukses di karir, ingin punya dana yang nggak habis-habis, kalo perlu bentuknya koin dan bisa dibuat nyelem kaya Paman Gober.

Wajar kan ya, punya keinginan?  Ya wajar, dong.

Lalu, haruskah saya malu dengan semua quotes-quotes anti kemapanan yang kurang chillax ini?  Ya enggak.

Melalui posting ini, saya cuma pengen bilang gini: there’s nothing wrong with WANTING something, and going after it.  Selama caranya halal dan nggak melanggar hukum, saya yakin mengejar keinginan dan cita-cita itu ya memang fitrahnya manusia.  Hakekat kita hidup.  Apa lagi?

Terus, seberapa banyak kita pantas menginginkan sesuatu?

Ya terserah.  Sebanyak-banyaknya juga boleh loh, menurut saya.  Namanya juga ingin kan belum kejadian.  Saat udah tercapai ternyata nggak sebanyak yang diinginkan, ya nggak apa-apa.  Apa sih salahnya dengan ‘dream big’?  Mimpi-mimpi kita, kok.  Kejadiannya juga pas tidur malem di benak kita, bukan di benak orang lain.  Lhawong yang tidur di sebelah kita aja nggak tahu kita mimpi apa kecuali kita ceritain, kan?

Jujur saya paling nggak bisa banget deh diginiin:

“Udahlah jangan ngayal mulu, nggak bakal juga lo bisa beli pulau.”

Siiis… kalo ngayal aja udah nggak boleh, sungguh prihatin saya sama umat manusia, karena kebebasannya sudah terenggut tanpa perlu dipenjara atau diborgol.

Pengen kaya gini ga sih naek helikopter ke mana-mana :))))

Menentukan batasan biar khayalan nggak kebablasan itu penting, tapi kalau lagi nggak pengen terbatasi, ya NGAYAL AJA!  Who died and made other people Kings and Queens of the world that they won’t let you even imagine and daydream?

Terus apakah menginginkan hal-hal materi membuat kita… ehm, “materialistis?”

Errrr… kalo kita jadi morotin orang gara-gara keinginan kita sih ya iya.  Tapi kalo kita jadi kerja yang bener dan nggak ngerepotin orang lain dengan keinginan-keinginan material kita itu, ya enggak sih menurut saya.  Tapi terserah… again, nobody made me queen of the world and lets me tell you what to think (although I would LOVE that position if available).  Jadi seraaaahhh mau pada mikir gimana.

All I know and understand is, you never really live if you never really want.

5 comments on “Tentang Menginginkan Sesuatu

  1. -

    kayaknya ekspresi saya yang kedua juga, Mbak. Kecuali kalau saya udah masuk jadi anggota keluarga Richie Rich 😀

  2. -

    samapun aku juga zebel sama quote-quote semacam itu. emang mereka nggak kepengen gitu makan enak? sepatu kece? lipstik yang long lasting? YAKEENNNN? XD

  3. -

    Kalo kuperhatiin ya, teh, mereka nganggep hal-hal yang bersifat so-called duniawi itu bikin orang ngiri, endesrei, endebrei, enjebret. Bok, lupa kali ya mereka manusia yang fitrahnya banyak mau. Tapi as long as cara dapetinnya halal dan tujuannya baik, apa sik yang salah? *misuh

  4. -

    aku pernah baca di mana, lupa.. intinya ” Semua akan indah pada waktu.. ada uangnya”..

    Jadi wajar biyanget teh untuk kepengen hal-hal yang berbau materi..

  5. -

    … selama mengkhayal masih gretong mah kalem weeee… :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *