Bertahan Dalam Pertemanan: Perlu Atau Enggak?

Judulnya gitu amat ya, tapi pemikiran ini sudah lama ada di kepala saya dan semakin memuncak di bulan Ramadan ini, saat banyak-banyaknya undangan buka bersama.  Coba cek agenda kamu deh, udah berapa undangan bukber yang kamu terima dari temen-temen segeng bekas kantor lama, kuliah, SMA, SMP bahkan SD.  Hampir tiap hari ada, dan akhirnya karena kesibukan terpaksa menyortir mana saja yang harus disambangi dan mana yang… ah udahlah taun depan aja.

Terus merasa bersalah kan ya, karena walau nggak ikutan bukber tetep ditag di berbagai media sosial. Seolah merasa bersalah sendiri belum cukup, adaaa aja temen yang bilang, “Sombong sih lu gak dateng kemaren.”  Benarkah karena kita membuat geng tertentu less priority maka kita pantas dicap sombong?

Ya benar-benar aja, tapi ya enggak juga.

Here’s the deal: mau bulan puasa kek, mau enggak kek, reunian itu bagi sebagian orang penting… namun banyak pula yang menganggap nggak penting.  Berapa sering kita datang ke acara reunian, tukeran nomor kontak, masuk ke grup chat, tapi setelah itu pudar juga. Kenapa pudar? Karena obrolan udah gak seirama, karena dia yang dulu begini kok sekarang begitu, karena tiba-tiba ada yang nguber MLM-an… dan lain sebagainya. Hubungan yang semulanya adem-adem aja di FB doang, mendadak setelah ketemu orangnya kok ya jadi gini amat.  Ujung-ujungnya unfriend di FB demi menutup komunikasi karena mereka jadi aneh.

Biasa kok, itu normal.

Saya membahas ini dari sisi yang kayaknya negatif, tapi apa benar negatif? Orang jatuh cinta lalu pacaran terus putus itu biasa, kenapa putus pertemanan dianggap sesuatu yang luar biasa? Hubungan manusia kan bisa aja nggak work-out.  Jarak dan waktu jadi faktor pemisah utama, dan satu fakta yang sering tidak bisa diterima (termasuk oleh saya) adalah:

…people change.

Selama ini kita teromantisasi oleh kata-kata “Friends Forever”.  Benarkah friends ada yang forever? Ada.  Tapi nggak semua.  Di dalam hidup, kita bertemu dengan berbagai orang yang kemudian menjadi teman kita, di fase-fase hidup yang berbeda.  Waktu SD temenan sama si A, anaknya manis banget, juara kelas, teladan semua murid.  Pas ketemu umur 25an, wow ternyata hamil di luar nikah, kita masih single, dia udah punya anak 3.  Suami entah kemana.  Sekarang si A ngerokok, suka ngebir sepulang kantor.  Wow. Nggak nyangka ya padahal dulunya anak manis dan teladan. Kemudian ngejudge deh, si A berubah.  HELLOOOOOO ya iyalah berubah kalo kita tau kisah hidupnya, ditinggal suami saat anak-anak masih kecil, mesti banting tulang sendiri nafkahin 3 anak di usia yang baru seperempat abad, saat kita masih fresh grad dia udah kerja dari SMA boro-boro kuliah.  Ya wajar aja kalo dia jadi lebih ‘badass’, ‘tough’ dan butuh penyaluran seperti rokok dan bir.  Nggak baik, but so what?  Kita nggak ada loh saat dia ditinggal suaminya.  Kita nggak ada buat dia saat dia butuh kasih makan anak-anaknya. Terus hak kita bilang dia berubah apaaaaa?

Lain lagi sama si C. Waktu kuliah begajulan, sekarang jadi agamais banget.  Mulai deh dibisik-bisikin, “Dia tuh sekarang sok suci banget deh, suka berdoa dan dakwah di FB. Males ketemu dia.” Kalo males ya jangan ketemu. Titik.  Tapi… bukankah seharusnya bagus kalo orang yang dulunya berantakan sekarang jadi lebih tertata?  Jika memang sudah nggak seirama, ya sudah, tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi sama. Saling menghormati dan co-exist aja, karena bukankah itu hakekatnya hidup?

Belum lagi si Z yang dikit-dikit ngomongin politik karena kini mengusung partai tertentu. Ketika kita komen soal kebijakan pemerintah, Z langsung berapi-api -bisa mendukung atau oposan-, dan obrolan jadi gak nyaman karena kita berbeda pandangan dengannya.  Lalu apa kita harus tetap berteman?  Ya terserah aja.  Kadar nyaman seseorang, ya orang itu sendiri yang menentukan.  Kalau telaten meladeni debat atau sama-sama satu visi, ya masa mau udahan temenannya.  Tapi kalau mau udahan, hey ini negara bebas lhooo…

Memasuki tahun ke-37 di bumi (masih 3 bulan lagi, gapapa colong start), saya baru belajar beneran bahwa menemukan kecocokan atau ketidakcocokan dengan seseorang itu ya wajar saja.  Kadang nggak perlu ekstrimitas dalam hal ini.  Ngobrol yang udah nggak nyambung dikit aja suka bikin “hedeh ribet ah ngobrol sama dia, gak ngerti gue!” ya kan?

Mereka yang mengenal kamu di usia kanak-kanak ya akan mengingat kamu sebagai kanak-kanak.  Mereka yang mengenal kamu di usia remaja, ya akan mengingat kamu sebagai remaja. Mereka yang mengenal kamu di usia dewasa dan lagi hobi party, ya akan mengingat kamu sebagai party animal. Mereka yang mengenal kamu di usia dewasa dan udah insyaf, ya akan mengingat kamu sebagai orang yang udah insyaf dan saleh (walau mungkin setelah mereka tau kamu dulunya party animal, akan punya pandangan lain tentang kamu). Orang berubah, keadaan dan pengalaman hidup mengubah mereka dan semua itu ya nggak apa-apa.

That’s just life. And not all friends are forever. And it’s OK. Totally ok!

Pernah merasa gagal gak sih dalam berteman?  Saya pernah. Ketika saya merasa obrolan udah gak nyambung dan saya nggak punya keinginan untuk berusaha menyambungkan, di situ saya merasa gagal mempertahankan pertemanan.  Lalu apa saya berusaha?  Untuk beberapa orang, ya. Yang lainnya… dengan egois saya terpaksa menjawab tidak.  Kenapa?  Ya, karena nggak semua orang layak dipertahankan.  Sesimpel itu.

Tidak berteman lalu apakah memusuhi?  Ya jelas tidak.  Kenapa mesti memusuhi kalau hanya sekedar nggak nyambung dan nggak se-frekuensi?  Jarak juga nggak perlu dijaga karena toh akan menjauh dengan sendirinya.  Kalau ketemu?  Ya ketemu aja, bercanda tetep aja kok, tapi ya sudah, nggak ada usaha lebih.

Terus bagaimana cara untuk tetap berteman?

Jujur saya nggak bisa jawab pertanyaan ini, karena nggak ada teorinya.  Friendships, much like relationships, require chemistry.  Can chemistry fail?  Yes. Can the sparks be lost? Definitely. So how to not lose the sparks?

Effort.

Usaha.

Lalu gimana caranya milih orang-orang yang mesti ‘diusahakan’ ini?  Tenang. In my case, they were chosen by nature.  I’m sure in your case as well.

Memelihara hubungan pertemanan itu bener-bener kaya memelihara hubungan pacaran kok. Komunikasi mesti jalan terus, keep up sama kegiatan teman/sahabat, ketemu muka sesekali tapi rutin… stuff like that.  Kalau ini udah gak dilakukan ya udah tandanya effort udah ga ada. Apa-apakah?  Ya tergantung kamu, kalo saya sih gak apa-apa.

Tali silaturahmi idealnya memang tidak putus.  Tapi jika memang lebih baik tak terhubung, menurut saya ya gak apa-apa banget.

Because sometimes, with some people, peace comes from not being together.

11 comments on “Bertahan Dalam Pertemanan: Perlu Atau Enggak?

  1. -

    Kaka mihuuunnnn pas banget ih postingannya sama suasana hati akika masalah pertemanan…” they were chosen by nature” setujuhhhh

  2. -

    Setuju banget sama ini, kak Miunds. Gue pernah ribut sama temen, sampe ga teguran hampir setaonan gitu, padahal tadinya deket banget, emang agak drama sik. Tapi begitu akhirnya suasana cair, dia nyamperin ke rumah pas malem gue mau berangkat belajar bahasa di Taiwan, dan sampe sekarang masih sering nongkrong seru, saling support dalam hinaan, karena memang temen baek itu yang bisa support bukan cuma pake kata2 manis tapi kata2 pedes yang kadang bikin pengen nabok, tapi ga bisa karena bener. 😛

  3. -

    setujuuuu! untung sk rpunya suami agak muka tembok,jd dr dia gue blajar mbak untuk ga sekaku menyenangkan semua org (buat tipe gue yg ga tegaan ini ngaruh bgt hahahaha). jd skr realistis aja, ktemu, temenenan, reunian smeuanya memang yg bener2 temenan :)) hidup yg lebih praktis dan bahagia….

  4. -

    hmm.. semua orang akan jauh dan dekat pad waktunya ya kak
    untung nggak bertarif kaya angkot
    kalo bertarif, i don’t know how much time i have to pay for this ‘nature’ things

  5. -

    kak… ini kok pas banget sama yg ada di kepala dan di hati
    aku izin share link ya kak .. nengkyuuuuuuuuuuuuuuu

  6. -

    So glad you wrote something deep like this again kak 🙂
    I feel you, really. Walau baru 21 tahun tapi aku dikit dikit udah memahami semuanya. Tapi gak pernah benar benar menuangkan tulisannya. Senang ternyata aku gak sendirian 🙂

  7. -

    Tsf kakaaaagh, self reminder bgt ini…hare geneee ngomongin orang, kelaut aja cuiiii :p

  8. -

    couldn’t agree more!

  9. -

    setuju buuuanget!

  10. -

    Setuja, teeeh!!! Sepaham banget bahwa friends are chosen by nature. Those who befriend with us just because there is something they can take advantage from (dan ngerugiin), mending jangan dipertahanin. Hih!

  11. -

    setuju banget dan amat sangat mewakili perasaan saya saat ini,,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *