Are We Bad People?

“Are we bad people?”

“Am I a bad person?”

Sebagai orang yang dididik sejak dari dalam kandungan untuk selalu (berusaha) menjadi orang baik, mempertanyakan apakah saya masih baik dan apakah saya telah menjadi ‘lawannya’ orang yang baik, adalah bentuk kegelisahan yang seharusnya nggak terjadi.

Kalau saja dunia sekitar saya baik-baik saja.

Baik.

Kata yang hanya empat huruf, namun luas sekali maknanya.  Harus jadi pedoman hidup, tapi kadang malah menjadi beban.  Seharusnya menjadi pagar agar orang tidak berbuat jahat, tapi sering disepelekan.

Miund apa sih kemaren nulis Game of Thrones ketawa-ketawa kok sekarang serius amat?

Well.  Sebenarnya sudah beberapa bulan belakangan ini saya berpikir serius karena merasa dihantui berbagai krisis ‘moral’.  Paling kena banget di suatu pagi di akhir tahun lalu, di hari-hari terakhir siaran sama Hilbram Dunar.

Jadi ceritanya, seperti biasa kami membacakan laporan lalu lintas yang kami dapatkan dari Twitter dan social media, termasuk WhatsApp dan sumber-sumber apa pun yang tersedia.  Lalu masuklah satu pesan mengabarkan bahwa di tol Bintaro terjadi kecelakaan.  Serta-merta saya dan Hilbram saling berpandangan dan sama-sama berkata…

…”Aduuuhh kayak apa macetnya ya itu, di Tol Bintaro??? Kasian amat yang pada baru berangkat kerja??”

Beberapa detik kemudian kami sama-sama sadar bahwa yang baru keluar dari mulut kami itu SALAH BANGET.  Kenapa salah banget?

Reaksi normal orang yang mendengar bahwa ada kecelakaan lalu lintas biasanya kan bertanya: ada korban apa tidak?  Lalu kondisi korban bagaimana? Udah dibawa ke rumah sakit apa belum?

BUT US, WE WORRY ABOUT THE TRAFFIC.

Ada yang salah di sini, dan memang seharian itu jadinya siaran dengan hati yang sangat nggak enak.  Saat pulang dari siaran, melewati jalan utama Thamrin, saya memandang keluar jendela, melihat kendaraan mengantri, di macet yang entah karena apa.  Satu hal di kepala saya:

Benarkah hidup di kota merusak pikiran kita?

Lain waktu ibu saya cerita kalau tetangganya dulu di daerah Pejompongan jadi banyak rezeki karena suatu hari ada pengemis yang menumpang shalat di rumahnya. Oleh sang empunya rumah, si pengemis dipersilakan masuk dan shalat di salah satu kamar.  Ditunggu-tunggu, eh si pengemis kok nggak keluar-keluar.  Pas diperiksa, sudah hilang tanpa jejak.  Ya tentunya aneh tapi nggak dipikirin sama si empunya rumah.  Tapi nggak lama, tetangga ibu saya ini mendadak kedapatan rezeki yang luar biasa.  Keluarga itu jadi kaya raya, tapi karena emang dasarnya baik sekali, ya tetap rendah hati.

Mendengar cerita itu hati saya hangat.  Orang yang berbuat baik, diganjar rezeki dari Tuhan yang berlipat ganda baiknya.  Tentunya, ini jadi pengingat juga bahwa kita harus selalu baik pada siapapun tanpa memandang siapa orang tersebut dan mengapa kita harus baik padanya.

Tapi tak urung otak saya ini mencoba melogikakan kisah ibu saya tentang tetangganya dengan keadaan masa kini.  Masa di mana banyak pesan-pesan di WA Group, BBM Group, Path, FB yang bilang: “Kasih tau pembantu di rumah, kalau ada orang yang mengetuk rumah dan mengaku dari instansi bla bla, jangan diperbolehkan masuk karena kejadian terkini, mereka adalah anggota sindikat bla bla yang bisa membahayakan bla bla bla…”

Terus ibu-ibu di berbagai grups WA BBM dan lain sebagainya ini mulai deh ribut cerita-cerita “Iya, temennya temenku tuh pernah kejadian seisi rumah habis gara-gara ada tukang ngaku periksa listrik bla-bla tau-tau pembantu kayak disirep dan ilang deh semua barang elektronik berharga.  Ngeri yaah? Jadi kalo ada yang ngetok, teriak aja dari garasi jangan deket-deket pager ntar disirep!”.  Dan cerita-cerita ini membuat kita jadi parno banget sama orang-orang yang ngebel rumah siang-siang, padahal mah boro-boro ngerampok, wong cuma nganterin kiriman JNE dari onlineshop langganan.

Lantas kalau ada orang yang memang butuh pertolongan lalu ngetok atau ngebel rumah kita, gimana?  Bukain pintu nggak? Kalo bukain, resikonya apa?  Kalo enggak, kok kasian ya?

Dulu di buku PMP (buat yang gak tau, ini singkatan dari Pendidikan Moral Pancasila), saya diajari: kalau menemukan orang yang udah tua, bantu saat mau menyeberang jalan.  Tapi kini, saya, dan banyak orang tua modern lainnya mengajari anak: Don’t talk to strangers, don’t receive ANYTHING from strangers.  Lah boro-boro mau bantu orang tua nyebrang jalan, wong diajak ngomong orang asing aja diajarinnya nggak boleh dijawab.  Ada alasan kuat di balik pengajaran ini semua: iya, saya nggak mau anak saya jadi korban predator.  Sialnya, predator ini bentuknya nggak cuma laki-laki dewasa gagah perkasa.  Mereka hadir dalam berbagai bentuk, bisa wanita yang bentuknya keibuan, bisa kakek-kakek atau nenek-nenek yang kayaknya friendly.  Nah daripada pusing, Nak, mending nggak bicara ke orang yang kamu nggak kenal. Apalagi gandeng-gandeng nyebrangin jalan.  Oke? Sip.

So much for belajar PMP 12 taun ya (ciee yang anak ORBA).

Sampai sini, kesimpulan di otak saya yang cetek ini cukup sederhana: ternyata sekarang ini, mau berbuat baik kok jadi susah ya?  Semua ketakutan dan pengalaman buruk membuat orang jadi berhati-hati melindungi diri sendiri, sehingga berbuat baik pun jadi banyak sekali batasannya.

Am I making sense?  If I don’t, I don’t care.

—-

Kegelisahan saya soal sikap-sikap moral baik versus kenyataan masa kini di perkotaan yang tidak bersahabat, juga masuk ranah simpati.  Apa maksudnya?  Gini loh… inget nggak sih waktu kita kecil, orang tua kita suka bilang gini: “Tuh, kalau kamu sekolahnya nggak selesai, kamu bisa jadi pengangguran yang tidurnya di kolong jembatan kaya gitu tuh.  Kan kasihan ya?”  sambil menunjuk gelandangan.  Terus kita merasa kasihan, sampe saya mah pernah nangis di tempat liat kakek-kakek yang tidur di deket got.  Kasihan sekali kakek itu.  Akhirnya menuruti petunjuk ayah saya, saya tinggalkan uang koin di dalam kaleng yang ada di sebelahnya.  Sampe rumah kepikiran banget sampe nangis minta telepon mbah Kakung, just to make sure dia tidur di rumah dan nggak tidur di pinggir got kaya kakek-kakek yang tadi saya lihat.

Tapi pengalaman mengajarkan kepada saya bahwa untuk kasihan dan bersimpati pun, kita mesti berhati-hati, karena (ternyata) banyak amat ya orang yang nggak suka saat kita bilang, “Kasihan…” sambil menatap ke arah mereka.  Orang-orang langka ini kok ya ternyata saya pernah ketemu juga.  Tukang parkir yang jujur ngembaliin 3000 rupiah karena tarif parkirnya 2000 saat dia dikasih goceng, masih ada banget.  Dan saat saya bilang: “Ambil aja semua mas…” dia bilang, “Nggak apa-apa, mbak. Ini kembaliannya.”

Nah, so how do we pity those who have DIGNITY?

Kalo tadi saya bilang mau baik aja banyak amat batasannya, kini saya mau bilang: ternyata hati-hati kalo mesti kasihan, karena mesti jaga perasaan.

—-

Tentang menjaga agar jeritan nurani tak sekeras seharusnya.  Ini juga jadi kegelisahan saya berbulan-bulan.  Buat yang udah dewasa, pasti ngerti lah ya kalo ada momen-momen di kehidupan saat kita terpaksa melakukan hal-hal yang sebenarnya tak ingin kita lakukan karena nurani kita menyerukan: JANGAN.  Tapi berbagai kepentingan kadang memaksa, jadi seruan ini kita abaikan bahkan tak dengarkan sama sekali.

Kini saya sampai di suatu titik di mana saya hanya ingin melakukan hal-hal yang sesuai dengan hati nurani.  Karena mencoba membungkam nurani itu nggak gampang dan melelahkan.  Saya nggak makin muda, kan?

Mungkinkah ini yang namanya kedewasaan?  Gak tau juga sih.

—-

Kaya miskin itu biasa.
Namanya juga hidup.
Yang kuat ya yang menang.  Hukum alam kok.
Nggak usah terlalu dipikirin, lo cuma melankolis doang. Kemiskinan bukan hal baru.
Ya kalo sedunia kaya semua, nggak berwarna lah hidup ini.
Ah lo cuma bisa kasian.  Bantu gih kalo emang bener prihatin.

Agak terlalu sering denger kalimat-kalimat di atas akhir-akhir ini.  Malah bikin gelisah banget.  Bukan bikin tenang atau bikin sesuatu.

Saya nggak suka kemiskinan, tapi juga gak punya ambisi bikin NGO atau yayasan sih.  Mungkin akan ke sana, nantinya dalam hidup (doain aja yah), tapi sekarang jujur aja belum.  Pengennya bantuin orang yang serba kekurangan, tapi masih suka juga hidup (agak) bermewah-mewah.  Kadang merasa bersalah, tapi terus nyari pembenaran: lha kan saya bukan orang suci.  Orang yang berusaha baik, bukan berarti sempurna.  Itu bunyi pembenarannya.  Perasaan bersalah ini juga munculnya nggak pake rencana atau woro-woro dulu pula.  Tau-tau menyeruak di saat saya sedang belanja bulanan, misalnya.  Atau makan di restoran, misalnya.  Timbul lagi pertanyaan:

Haruskah kita merasa bersalah bahwa secara ekonomi kita mampu sementara banyak yang tidak semampu kita?

Ya tentunya pertanyaan ini mah jawabannya “ENGGAKLAH” karena kalo jawabannya “IYA”, yang namanya Donald Trump pasti insomnia.

Eh, dia insomnia nggak, ya?

Insomnia, kayaknya. *asik-asik ambil kesimpulan sendiri*

—-

Begitulah kegelisahan-kegelisahan saya beberapa bulan belakangan. Sudahkah saya jadi orang baik?  Sudah berusaha.  Apakah benar saya baik? Biar orang yang menilai.  Apakah saya mendidik anak saya dengan baik? Sesuai dengan jamannya, yaitu saat ini? Iya.  Sesuai dengan buku PMP yang mengajarkan saya moralitas saat saya masih bersekolah dulu?  Mungkin tidak, tapi saya berharap dia tumbuh menjadi anak yang baik tapi tetap waspada pada sekelilingnya.  Seperti saya.

So, are we bad people?

Or should the question be changed into, “Are we good people who are trapped in a bad world that it forces us to ADJUST?”

Jujur saya nggak tahu.

Melalui tulisan ini, saya juga nggak lagi nyari jawaban apa-apa, dan juga gak lagi nyari pembenaran sih.  Cuma lagi pengen mencurahkan pikiran yang mbulet berbulan-bulan lamanya.  Daripada membusuk di sudut ingatan, lebih baik dituliskan.  Bukan begitu?

Selamat berakhir pekan dan ingat yaaa, mari selalu berusaha berbuat baik 😀

 

7 comments on “Are We Bad People?

  1. -

    aduh iya banget dan ngeri banget
    susah dan menakutkan jadi orang baik di Jakarta, karena kok ya yg pura2 baik terlalu banyak

    misalnya kalo ada kecelakaan dimana, kita ngeliat, pengen bantu, tapi ntar malah kita yang dituduh nyelakain, jadi perkara pula.

    berapa banyak cerita2 di sosmed yg ngewanti2 jangan nolongin orang biarpun kasian?

    why is it so hard to be nice in Jakarta? 🙁

  2. -

    gue juga masih banget mikir kayak gini. Jadi paling 3 bulan sekali aja ke PMI nyumbang darah. Bukan maksud riya tp siapa tahu orang yg tahu gue ngelakuin ini jd kepengin ikutan juga.

    Paling ngga dari sekian banyak kebiasaan yang menggolongkan gue ke dalam kategori orang jahat gue punya 1 [dan beberapa kebiasaan/kegiatan] lainnya yang masih bisa berpengaruh positif untuk orang lain. We’re no angels, but we can try to do just as good, can’t we?

  3. -

    bahkan seorang chef cantik sangat concern pada perbedaan kata baik dan benar. orang baik belum tentu benar, tapi orang yang (jalannya) benar sudah pasti baik.

  4. -

    Mbak Miund.. ini sering aku pikirin juga *peluk*

    My realization came when I was running. Waktu itu emang baru jam 5 subuh dan kebetulan lari di tempat yang ngga biasanya. Sepi jadi rada-rada aware gitu. Nah dari arah berlawanan, ada bapak-bapak umurnya udah sebaya, dari outfitnya sih lagi jalan pagi gitu. Nah, pas deket-deket.. dia ajak senyum gitu. Dan pikirin pertama aku…. waspada. Iya, takut. Creepy. Padahal ngga terjadi apa-apa. Padahal kalo dipikir-pikir mungkin bapak-bapak itu mau kasih semangat aja? Feel so bad about my prejudice, but can’t help about it 🙁

  5. -

    kadang orang kota itu emang suka berlebihan ya teh. dan masalah nurani ini juga sebenernya ga melulu masalah ekonomi. bagaimana juga memperlakukan orang yang notabene lebih rendah derajatnya dari kita. kaya ada anak kantorku yang sendok aja mesti nyuruh OB ambil ke pantry. helowww jarak pantry ga ada 100 meter aja rusuh panggil-panggil OB. well, hal-hal kaya gini cuma nunjukkin value seseorang kok. kualitasnya cuma segitu berarti. *jadi ngelantur*

  6. -

    baru juga semalem ngobrol yang seperti dengan mamah mertua saya. Suka ada rasa khawatir, galau, da lain-lain

  7. -

    Baik!

    Gue juga suka paranoia dengan 4 huruf ini. Sangat subjektif, sangat tergantung mood, bener-bener sekritis nila setitik rusak susu sebelanga.

    Tapi, gue biasanya bikin simple parameter, dan mungkin bisa berulang-ulang dalam satu hari itu.

    Misalnya kalo gue bangun pagi, gue katakan BAIK! karena gue susah bangun pagi. Dan seharian itu ga ada yang lebih buruk dari itu. Se-ekstrim gue nonjok orang sorenya, tapi karena gue inget bangun pagi, gue tetep senyum.

    Hehe, mungkin agak egois sih kedengarannya. But for me it works.

    Thanks Miund buat sharingnya, semoga lo selalu menjadi orang baik, dan selalu dibaikin orang. 🙂

    DL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *